Konten dari Pengguna

Perjalanan ‘Bau’ sebagai Bagian dari Identitas Manusia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aroma (bau) dapat membangkitkan respons emosional yang kuat pada diri manusia, utamanya jika aroma tersebut terkait dengan pengalaman yang baik sehingga dapat membawa perasaan senang. Begitu pula dengan aroma busuk, selalu berkaitan dengan memori buruk sehingga terkadang membuat jijik.

Penciuman akan sebuah bau mungkin diidentikan dengan hewan, yang memang memiliki tingkat penciuman tinggi dibandingkan dengan manusia. Tetapi terlepas dari itu, penciuman pada manusia sangat penting karena dapat menentukan tindakan dan sikap manusia ketika mengenali bau yang mereka anggap baik ataupun tidak

Aroma bukan hanya sekadar fenomena biologis dan psikologis biasa. Aroma adalah sebuah budaya, termasuk fenomena sosial dan sejarah dengan nilai-nilai budaya yang dipakai oleh masyarakat sebagai sarana untuk berinteraksi dengan dunia.

Berkaitan dengan peran bau di zaman klasik, Paulus Fauré menulis “Parfums et aromates de l'Antiquite”, meyakini bahwa indera penciuman manusia di zaman modern begitu terbelakang jika dibandingkan dengan manusia di masa lalu yang dapat lebih menghargai pentingnya bau.

Bau badan akibat berkeringat (Foto: Thinstock)

Bahkan lebih jauh lagi manusia dahulu dapat menggambarkan aroma sebagai bentuk yang berwarna-warni. Mereka memanfaatkan aroma untuk melakukan ritual keagamaan mereka, seperti membuat parfum dari tanaman untuk disimpan di kuil-kuil tempat mereka beribadah.

Perkembangan aroma di Barat kemudian berubah setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi. Melalui perdagangan antar benua, orang-orang Barat sekali lagi dibawa ke dalam kontak dalam skala besar dengan rempah-rempah dan parfum dari Timur yang telah begitu memesona orang Yunani dan Romawi.

Abad ke-19, oleh Alain Corbin disebut sebagai “revolusi penciuman”, mengantarkan aroma pada sebuah bentuk yang telah berpindah dari fungsinya, dalam hal agama dan obat-obatan, ke dalam hal yang lebih sentimen dan sensual.

Perubahan tersebut tergambarkan dalam karya-karya sastra klasik yang banyak menilai aroma sebagai bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Eropa, terutama dalam pergaulan mereka sehari-hari.

Aroma menawarkan hal menarik dari suatu keyakinan dan praktik budaya pada era penciuman yang berbeda. Misalnya dalam kepercayaan Yunani Kuno, bau rempah-rempah dikaitkan dengan matahari.

Sementara dalam kosmologi Barat modern, matahari pada dasarnya hanyalah sebuah entitas visual, tanpa identitas penciuman. Oleh karenanya terlihat bahwa penggambaran mengenai aroma sangat berbeda pada setiap zaman.

Sumber: Classen, Constance, dkk. 1994. Aroma: The Cultural History of Smell. London and New York.

Foto: commons.wikimedia.org