Perjalanan Francisco Franco Mencapai Puncak Kekuasaan Spanyol

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jenderal Francisco Franco memimpin kekuatan pasukan Nasionalis untuk menumbangkan republik demokratis Spanyol selama Perang Saudara Spanyol. Ia menjadi diktator dari suatu pemerintahan sayap kanan, yang dikendalikan hingga kematiannya.
Dilahirkan di El Ferrol, Spanyol, pada 1892, ia adalah putra seorang pejabat tinggi dalam Korps Administrasi Angkatan Laut. Tahun 1910, ketika berusia 18 tahun, Franco berhasil menyelesaikan pendidikan militernya di Toledo, dan masuk menjadi perwira angkatan darat.
Franco lalu dipercaya sebagai komandan pasukan di Maroko sejak tahun 1912 sampai 1927. Ia ditugaskan untuk menghentikan pemberontakan yang banyak dilakukan untuk menghilangkan dominasi pasukan Spanyol di sana. Tahun 1924, Francisco Franco dipromosikan menjadi jenderal, yang menjadikannya termuda untuk pangkat tersebut di negeranya saat itu.
Setelah raja Spanyol diturunkan dari takhtanya pada 1931, para pemimpin Republik Spanyol yang baru menerapkan pemerintahan yang anti-militer, sehingga karir Franco untuk sementara terhenti. Pemerintahan Spanyol yang baru itu mendapat cukup banyak kesulitan, terutama ketika muncul kekuatan-kekuatan konservatif yang mengendalikan republik itu pada 1933.
Franco lalu diaktifkan kembali dalam kemiliteran pada 1935, dan ditunjuk sebagai kepala staf angkatan darat Spanyol. Setelah sayap kiri memenangkan pemilihan umum, Franco memimpin suatu revolusi militer untuk menumbangkan pemerintahan Republik.
Perang Saudara pun pecah pada 1936, dan Franco dipercaya sebagai panglima tertinggi seluruh pasukan nasionalis. Pada 1937, ia merancang gerakan anti-Republik di bawah partai Falange (Fasis), yang dipimpinnya sendiri. Dengan bantuan yang kuat dari pemimpin fasis Eropa lainnya –Mussolini dari Italia, dan Hitler dari Jerman– pasukan bentukan Franco akhirnya berhasil menaklukan pasukan Republik.
Tahun 1939, Francisco Faranco mengklaim dirinya sebagai pemimpin, dan mengambil kekuasaan penuh atas pemerintahan Spanyol. Franco dikenal cukup kejam terhadap para oposisi di negaranya. Ia mendirikan sebuah negara yang dikendalikan dengan ketat oleh pemerintahannya.
Meskipun banyak tekanan dari negara-negara tetangga, seperti Jerman dan Italia, Franco berusaha menjaga negaranya untuk tidak terlibat dalam Perang Dunia II. Hal itulah yang menjadi alasan pemerintahannya tetap berlangsung sesudah pihak Sekutu mengalahkan Italia dan Jerman.
Pada 1947, ia mengorganisasikan kembali pemerintahannya, yang sempat terkena dampak perang. Ia membuat suatu undang-undang suksesi yang menyatakan Spanyol sebagai sebuah monarki, dan menyebut dirinya sebagai kepala negara seumur hidup.
Franco melakukan hubungan diplomatis dengan Amerika Serikat dan anggota-anggota PBB lainnya pada 1950. Hal itu dilakukan untuk mencari dukungan atas pemerintahannya, dan menjaga kepercayaan negara lain kepada dirinya. Selama masa puncak Perang Dingin, Franco memanfaatkan bantuan ekonomi yang besar dari Amerika sebagai ganti dari izin yang diberikan untuk pendirian basis-basis militer di wilayah Spanyol.
Sejak tahun 1959, Franco semakin bergantung pada Gereja Katolik Roma untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap kekuasaannya. Ia mengendalikan masyarakat di pedalaman dengan bantuan gereja-gereja. Berbagai peristiwa muncul, yang memaksanya membuat kebijakan Franco perlahan-perlahan berubah menjadi lebih liberal.
Sesaat sebelum Franco wafat pada bulan November 1975, ia menunjuk pangeran Juan Carlos untuk memerintah sebagai raja dan penggantinya menguasai pemerintahan Spanyol.
Sumber: Paparchontis, Kathleen. 2005. 100 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma
Foto: commons.wikimedia.org
