Perjalanan Ptolemeus I Sebagai Penjaga Istana hingga Penguasa Mesir

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penguasa terakhir dari dinasti Ptolemeus adalah Ratu Cleopatra VII, kekasih Julius Caesar.
Ptolemeus adalah seorang jenderal besar Makedonia yang bertempur besama-sama dengan Alexander The Great. Ptolemeus menjadi penguasa Mesir, dan pendiri dari dinasti Ptolemeus, yang memegang kekuasaan selama hampir 300 tahun lamanya.
Ptolemeus dilahirkan dari keluarga bangsawan Lagus dan Arsinoe, keturunan dari dinasti Argead dari Makedonia. Ketika muda, Ptolemeus bekerja sebagai pegawai istana di lingkungan kerajaan Makedonia. Di sana lah ia mulai menjalin keakraban dengan putra mahkota Makedonia, Alexander The Great. Setelah Alexander memegang takhta pada 336 SM, Ptolemeus bergabung dengan pasukan pengawal pribadi raja.
Ptolemeus yang dikenal sangat ahli di medan pertempuran, tidak memerlukan waktu lama untuk menjabat sebagai jenderal perang Makedonia yang paling dipercaya oleh Alexader. Ia memainkan peran yang sangat penting dalam operasi-operasi militer kerajaan Makedonia di Afghanistan dan India sekitar tahun 327-326 SM. Ptolemeus mendapatkan banyak penghargaan dari kerajaan Makedonia berkat jasa-jasanya tersebut.
Setelah Alexander wafat pada 323 SM, kerajaan Makedonia yang mencakup wilayah sangat luas, terpecah. Wilayah kekuasaannya kini diperintah oleh beberapa jenderal Makedonia, salah satunya Ptolemeus yang menjadi gubernur di Mesir.
Selama berada di bawah pemerintahan Ptolemeus, Mesir berubah menjadi wilayah yang sangat berkembang. Berbagai hal diubah oleh Ptolemeus, mulai dari infrastruktur, administrasi, pemerintahan, dan bidang kehidupan lainnya, dengan sangat baik.
Ia pun mendirikan sebuah ibukota baru yang megah di Alexandria, yang kala itu berubah menjadi kota terbesar di dunia. Ptolemeus sangat memperhatian ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga ia mengembangkan museum dan perpustakaan yang sangat megah di wilayahnya, yang menarik banyak sarjana dari berbagai wilayah.
Ptolemeus juga dikenal sebagai seorang penulis. Beberapa tahun terakhir sebelum kematiannya, Ptolemeus banyak menulis buku mengenai sejarah, yang banyak berbicara tentang operasi militer Alexander The Great, termasuk pengalamannya sebagai jenderal perang Makedonia.
Selama berada di bawah kekuasaannya, Mesir berhasil menduduki beberapa wilayah seperti Siprus, Palestina, dan beberapa kota di Aegea dan Asia Kecil.
Ptolemeus sangat berhati-hati dalam mencari pengganti dirinya dalam pengaturan kekuasaan di wilayah Mesir. Pada 290 SM, istri Ptolemeus, Berenice, menjadi ratu Mesir, dan pada 285 SM, putra Ptolemeus, Ptolemeus II Philadelphus, menjadi wakil raja.
Hal itu dilakukan Ptolemeus agar putranya dapat lebih siap memegang kekuasaan di Mesir. Ptolemeus pun wafat pada 283 SM, setelah mempersiapkan dengan baik penggantinya. Setelah kematian Ptolemeus, orang-orang Mesir menganggapnya sebagai dewa pelindung mereka.
Sumber: Paparchontis, Kathleen. 2005. 100 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
Foto: commons.wikimedia.org
