Konten dari Pengguna

Pola Pertahanan Pemukiman Kerajaan di Nusantara

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi (Foto: wikipedia)
zoom-in-whitePerbesar
Candi (Foto: wikipedia)

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari babad, hikayat, dan berita-berita asing, serta berbagai bukti sejarah, diketahui bahwa kota-kota di wilayah sekitar kerajaan banyak yang dikelilingi oleh tembok atau pagar yang mengitari seluruh bagian pemukiman. Menurut berita yang dibawa oleh Tome Pires tahun 1512-1515, kota Tuban dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu bata. Diluar tembok pemukiman terdapat benteng alam berupa sungai besar dan area hutan yang cukup lebat.

Pembuatan pagar keliling di kota Tuban terjadi dalam kurun waktu yang cukup panjang. Sebelum Tome Pires mencapai Tuban, menurut berita dari Tiongkok tahun 1416, kota Tuban tidak memiliki tembok batu bata yang mengelilngi kota, termasuk juga tiga daerah lainnya yaitu Gresik, Surabaya, dan Majapahit. Untuk wilayah Majapahit tembok keliling hanya dijumpai di sekitar keraton saja sebagai bentuk pertahanannya. Sedangkan di wilayah kota Majapahit hanya dijumpai gerbang berupa candi bentar, seperti yang diutarakan dalam kitab Nagarakartagama.

Berita-berita dari Tiongkok banyak menggambarkan pola pertahanan pemukiman di beberapa kerajaan di Indonesia, seperti berita dari Dinasti Ming yang mengatakan bahwa Kota Banjarmasin dikelilingi oleh pagar kayu, dan salah satu sisi pertahannya berada di sebuah bukit. Kota Malaka diberitakan pula dalam Ying Yai Sheng-lan, mempunyai tembok yang mengelilingi kotanya, dengan empat pintu gerbang beserta menara penjaganya. Kabar lain menggambarkan bagaimana kuatnya pertahanan Tidore yang setiap sisi kotanya dipagari oleh tembok bata, baluwarti, parit, benteng besar, lubang perangkap. Pertahanan tersebut diketahui sebabagi yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan lain, karena tidak dapat ditembus dari sisi manapun.

Berita lainnya yang menjelaskan mengenai pembuatan tembok-tembok pertahanan kerajaan adalah berita dari orang-orang Belanda yang mengadakan pelayaran pertama ke Indonesia tahun 1596. Kota-kota pusat kerajaan dan pelabuhan yang sudah memiliki tembok bata adalah Banten, Cirebon, Demak, dan Tuban. Sedangkan kota-kota yang dilindungi oleh pagar kayu dan bambu adalah Jakarta, Jepara, dan Balambangan.

Pembuatan pagar keliling di sekitar pemukiman, terutama di pusat kerajaan tersebut dipastikan sebagai petahanan untuk mencegah gangguan dari luar kota yang akan mengancam keamanan masyarakat. Pintu gerbang pada beberapa tempat digunakan sebagai keluar masuk kota, yang akan ditempatkan banyak petugas keamanan di sana. Secara ekonomi, pembuatan gerbang-gerbang tersebut sangat berguna untuk pemungutan pajak dari pedagang yang keluar masuk kota.

Sumber : Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.