Konten dari Pengguna

Napoleon Bonaparte, si Ambisius Pemimpin Pasukan Republik

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

French Revolusion War (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
French Revolusion War (Foto: Wikimedia Commons)

Pada 1789, Prancis masuk pada era revolusi yang berhasil mengubah bentuk pemerintahannya, dari yang sebelumnya negara monarki absolut menjadi sistem republik. Peristiwa yang dikenal dengan Revolusi Prancis itu telah benar-benar mengakhiri praktik kekejaman politik keluarga kerajaan, yang dilakukannya secara turun-temurun.

Pada masa perubahan ini muncul satu nama yang sangat menonjol dibandingkan tokoh perubahan lainnya. Dialah Napoleon Bonaparte, seorang bangsawan dari pulau Corsica, Prancis, yang lahir pada 15 Agustus 1769.

Dampak terjadinya Revolusi Prancis berimbas pada kehidupan para kaum bangsawan dan kaum agamawan Prancis yang berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka yang sedang dilanda kekacauan. Mereka khawatir akan menjadi sasaran penangkapan, dan pembunuhan pasukan revolusioner.

Mereka yang memutuskan untuk mengungsi keluar dari Prancis itu dikenal dengan sebutan emigres. Walaupun telah pergi meninggalkan negaranya, para emigres itu berambisi untuk mendirikan kembali Prancis menggunakan sistem lama, dengan cara meminta bantuan dari kerajaan-kerajaan di luar Prancis.

Napoleon Bonaparte (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Napoleon Bonaparte (Foto: Wikimedia Commons)

Upaya para emigres untuk meminta bantuan dari kerajaan-kerajaan di luar Prancis itu ternyata mendapat tanggapan yang baik. Banyak dari kerajaan tersebut yang merasa khawatir akan dampak yang dihasilkan dari Revolusi Prancis pada kekuasaan mereka, terutama ketika peristiwa itu berhasil membangkitkan semangat rakyat di seluruh penjuru negeri yang dikuasai oleh sistem monarki absolut seperti Prancis.

Pada 1792, Prancis yang belum memiliki sistem pemerintahan tetap, harus dihadapkan dengan ancaman dari beberapa kerajaan Eropa yang dipimpin oleh Austria dan Prusia. Koalisi beberapa kerajaan itu mampu memanfaatkan keadaan Prancis yang belum stabil dengan sangat baik. Keadaan semakin memburuk ketika koalisi Austria dan Prusia itu mendapat dukungan dari Inggris dan Spanyol.

Kondisi dalam negeri yang masih bergejolak pun dimanfaatkan oleh para pendukung keluarga kerajaan untuk mengambil alih kembali kekuasaan. Mereka mencoba untuk melancarkan upaya kudeta dan memicu kerusuhan di seluruh negeri pada 1795. Akan tetapi pemberontakan kaum monarki itu dapat diatasi oleh pasukan Prancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.

Setelah sukses mengamankan kondisi dalam negeri, Napoleon Bonaparte memutuskan untuk memimpin pasukannya untuk bergerak menghadapi koalisi kerajaan-kerajaan Eropa. Upaya pasukan Prancis itu berhasil memukul mundur pasukan koalisi, bahkan mereka sukses merebut beberapa wilayah kekuasaan musuh.

Akhirnya, pada 1979 koalisi kerajaan Austria dan Prusia menyerah kepada Prancis, dan mereka merelakan beberapa wilayahnya jatuh dalam kekuasaan Prancis. Peristiwa itu menandakan akhir Peperangan Napoleon melawan kekuatan Koalisi Pertama.

Napoleon in Cairo (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Napoleon in Cairo (Foto: Wikimedia Commons)

Meskipun Austria dan Prusia telah menyatakan menyerah kepada Prancis, namun kerajaan Inggris masih enggan mengakuinya. Melihat hal itu, Napoleon Bonaparte memutuskan untuk menguasai wilayah Mesir pada 1798. Ia berpikir bahwa dengan menguasai Mesir, yang kala itu dipegang oleh Kerajaan Ottoman, maka jalur logistik milik Inggris yang dikirim dari wilayah koloninya di India, dapat dihentikan.

Di lain pihak, upaya Prancis tersebut ternyata mengundang kecemasan dari beberapa kerajaan, yang akhirnya membentuk koalisi kedua, terdiri dari Ottoman, Inggris, Rusia, dan Austria. Koalisi kedua itu terbukti berhasil menghentikan dominasi Prancis, terbukti dengan kegagalan Napoleon Bonaparte menguasai wilayah Mesir.

Napoleon Bonaparte, yang ketika itu sedang berperang untuk merebut Mesir, sempat kembali ke Prancis untuk ikut dalam upaya melakukan kudeta terhadap pemerintahan Prancis yang ia anggap kurang berkompeten. Kudeta pada 1799 itu berjalan sukses, dan menjadikan Napoleon Bonaparte terpilih menjadi kanselir Prancis yang baru.

Napoleon yang sebelumnya mendukung sistem republik di Prancis, malah menobatkan dirinya sebagai kaisar Prancis yang baru pada 1804. Ia lalu berambisi menjadikan Prancis sebagai penguasa seluruh Eropa dan melanjutkan ambisinya memerangi kerajaan-kerajaan di luar Prancis.

Sumber: Alvarendra, H. Kenzou. 2017. Buku Babon Sejarah Dunia. Yogyakarta: Brilliant Book

Foto: histoire-image.org

Napoleon Bonaparte, si Ambisius Pemimpin Pasukan Republik (3)
zoom-in-whitePerbesar