Perang Leuctra, Ambisi Bangsa Thebes Menghancurkan Kekuasaan Sparta

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gejolak perang di wilayah Yunani kembali pecah tak lama setelah Perang Peloponnesia berakhir. Penaklukan Sparta atas Athena membuat reputasi dan pengaruh mereka bertambah besar, tetap hal itu malah memunculkan kebencian yang besar antarnegara kota lainnya. Banyak negara kota yang pada akhirnya menjalin perjanjian kerja sama untuk menaklukan Sparta ataupun Athena.
Salah satu konflik besar yang terjadi setelah Peloponnesia terjadi perang antara Sparta dengan Thebes, yang sebelumnya sempat menjadi sekutu ketika berperang melawan Athena. Perang antara keduanya terjadi pada 395 SM ketika Lysander memimpin pasukan Sparta memerangi orang-orang Boeotia di Hiliartus.
Pasukan Thebes mulai bergabung dengan Boeotia untuk membantu mengalahkan Sparta dan berusaha membunuh Lysander. Secara mengejutkan, gabungan kekuatan Boeotia dan Thebes berhasil mengalahkan pasukan Lysander, yang terkenal sangat tangguh ketika berperang. Kemenangan Thebes mulai menaikkan semangat negara kota lain untuk menghancurkan hegemoni Sparta di seluruh wilayah Yunani.
Namun Sparta memiliki pasukan yang sangat terlatih dan kuat, sehingga pemberontakan yang dilakukan oleh banyak negara kota dapat diredam dengan cepat. Pada 394 SM, orang Sparta berhasil mengalahkan kekuatan anti-sparta di Koronea dan berhasil mengepung Korintus.
Pada tahun yang sama, gabungan Angkatan Laut Persia dan Athena bertemu dengan 120 kekuatan laut pasukan Sparta di Cnidus, sebelah barat daya lepas pantai Asia Kecil. Armada gabungan itu memperoleh kemenangan besar dengan menghentikan dominasi kekuasaan Sparta atas Laut Aegean.

Perang laut lainnya terjadi pada 376 SM, mempertemukan kembali Athena dan Sparta di Naxos, yang semakin memperlemah kedudukan Sparta. Kejatuhan bangsa Sparta dan kebangkitan Thebes sebagai negara kota paling kuat di Yunani ditentukan dalam Perang Leuctra pada 371 SM.
Pasukan Sparta berjumlah 10.000 prajurit dipimpin oleh raja Cleombutrus I menembus pertahanan wilayah Theba. Mereka harus menghadapi tentara Theba sebanyak 6.000 tentara yang dipimpin oleh Epaminondas.
Epaminondas adalah mantan tawanan Sparta, yang sengaja dikirim oleh raja Thebes sebagai jaminan atas sikap negaranya untuk tunduk pada kekuatan Sparta. Selama berada di Sparta, Epaminondas mempelajari seni bertarung pasukan Sparta.
Ia banyak terlibat pada sistem militer Sparta yang sangat disiplin, namun tidak pernah melakukan pola serangan yang bervariasi. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh Epaminondas selama Perang Leuctra.

Epaminondas telah menemukan strategi untuk melemahkan pasukan Sparta, walaupun jumlah pasukan Sparta jauh melebihi pasukannya. Ia lalu menempatkan pasukan terbaiknya 50 lapis di sayap kiri, dan menaruh pasukannya yang lemah di depan dan sayap kanan.
Hal itu dilakukan untuk menghadapi formasi pasukan Sparta yang biasanya terjadi dari 8 hingga 12 lapis. Sayap kanan Sparta yang dianggap lemah memberi jalan bagi kekuatan pasukan terbaik Thebes yang berada di kiri.
Selama perang berlangsung, pasukan Thebes selalu unggul dan akhirnya berhasil meraih kemenangan. Namun sebagaimana halnya dengan Athena dan Sparta sebelumnya, kekuasaan Thebes pada akhirnya akan ditantang oleh negara kota lain.
Pada 362 SM, Epaminondas terbunuh dalam Perang Mantinea. Kejadian itu membuat Thebes kehilangan sosok pemimpin, dan akhirnya runtuh.
Sumber : Crompton, Samuel Willard. 2007. 100 Peperangan yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
Foto: commons.wikimedia.org

