Rangkaian Pertempuran Seratus Tahun di Eropa yang Penuh Kejutan

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertempuran pertama dalam rangkaian Perang Seratus Tahun, yang mempertemukan kerajaan Prancis dengan kerajaan Inggris, terjadi di wilayah Sluys. Pertempuran yang berakhir pada 1340 itu memaksa Prancis untuk mengakui kekuatan pasukan Inggris yang lebih kuat.
Pertempuran di Slyus itu berawal dari keputusan penguasa Prancis yang mengirimkan pasukannya ke wilayah Flanders karena telah bersekutu dengan Inggris. Prancis yang diperkirakan dapat membersihkan pengaruh kerajaan Inggris di wilayah Flanders, ternyata mendapat hadangan dari pasukan Inggris yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Pasukan Inggris di bawah perintah Edward III juga berhasil menaklukan wilayah Channe, sehingga kerajaan Inggris memiliki pengaruh yang kuat di wilayah Prancis tersebut.
Pada 1346, pasukan Inggris sempat terdesak oleh serangan balasan yang dilakukan oleh pasukan Prancis. Mereka pun memutuskan untuk membuat pertahan di atas bukit Crecy, yang terkenal sulit dilalui karena tanahnya yang berlumpur. Pasukan Prancis yang bernafsu ingin memburu pasukan Inggris terus mengejar hingga mereka memutuskan untuk mendaki gunung lumpur tersebut. Alhasil strategi pasukan Inggris berjalan baik, pihak Prancis mengalami kesulitan menguasai medan pertempuran. Pasukan Inggris pun dapat dengan mudah memukul pasukan Prancis.
Pertempuran yang terjadi pada 26 Agustus 1346 di bukit Crecy itu sangat merugikan kerajaan Prancis. Mereka kehilangan banyak ksatria terbaik mereka, sehingga butuh waktu lama untuk memulihkan pasukannya kembali. Di lain pihak, pasukan Inggris berhasil mencoba senjata baru mereka, yaitu sebuah busur panjang yang diketahui sanggup menembus baju baja milik pasukan Prancis. Setelah menghancurkan pasukan Prancis, pasukan Inggris bergerak menguasai kota Calais. Penduduk Prancis yang berada di kota tersebut dipersilahkan untuk meninggalkan kota tanpa adanya pertumpahan darah. Kota Calais kemudian disiapkan oleh pasukan Inggris sebagai tempat untuk bermukim rakyat Inggris yang datang di kemudian hari.
Pada 1356, Inggris berhasil memperoleh kemenangan besar setelah menaklukan wilayah Poitiers. Kesuksesan mereka semakin terasa istimewa manakala mereka berhasil menawan penguasa Prancis ketika itu, Jeanle Bon. Pemerintah Prancis pun kemudian menyerahkan sejumlah koin emas untuk menebus Jeanle Bon. Peristiwa itu membuah pasukan Inggris dengan lulasa menguasai Prancis bagian barat. Selanjutnya dilakukan sebuah gencatan senjata selama beberapa tahun dari pihak Inggris maupun Prancis.
Pertempuran antara dua kerajaan besar Eropa itu kembali terjadi pada 29 September 1364 di kota Auray, Prancis. Berawal dari pengepungan kota Auray oleh pasukan Inggris di bawah komando Sir John Chandos, pasukan Prancis mencoba mempertahankannya di bawah pimpinan Charles de Blois. Kemudian terjadi beberapa kali pertempuran dan gencatan senjata untuk waktu yang cukup panjang.
Pada 1415, meletus sebuah pertempuran di wilayah Agincourt. Kala itu pemerintahan Inggris dipegang oleh raja Henry V. Ia berencana mengulang kembali kemenangan besar Inggris di Calais, yang selalu dikenang oleh rakyat Inggris. Upaya yang dilakukan Raja Henry V itupun berakhir dengan kemenangan pihak Inggris. Mereka berhasil menguasai Agincourt setelah melalui pertempuran yang cukup panjang. Dengan kemenangan itu, praktis pemerintah Inggris berkuasa di wilayah Prancis bagian barat dan utara. Pertempuran Agincourt juga dikenal sebagai puncak kejayaan kekuasaan Inggris di wilayah Prancis.
Setelah Henry V, kini giliran putranya, Henry VI yang memerintah di tahta kerajaan Inggris. Di lain pihak, Charles VI, digantikan oleh Charles VII sebagai penguasa di Prancis. Banyak panglima perang Prancis yang kecewa dengan naiknya Charles VII karena dinilai terlalu lemah dan tidak memiliki ambisi untuk menguasai kembali wilayah Prancis dari kerajaan Inggris. Hingga akhirnya muncul seorang gadis berusia 17 tahun, bernama Jeanne d’Arc, yang mengkalim bahwa dirinya telah mendapat bisikan dari Tuhan untuk mengambil langkah menyelamatkan pemerintah Prancis.
Pada 1428, Inggris berambisi menguasai wilayah Orleans dari tangan pasukan Prancis. Pasukan Inggris berhasil mengepung wilayah Orleans, namun bala bantuan pasukan Prancis datang dari sisi selatan, yang membuat pertahanan pasukan Inggris menjadi berantakan. Pasukan Prancis yang diperkuat oleh Jeanne d’Arc itu pun berhasil merepotkan pasukan Inggris. Akhirnya setelah melalui serangkaian pertempuran, pasukan Inggris memilih untuk mundur meninggalkan Orleans.
Peristiwa mundurnya pasukan Inggris dari pertempuran di wilayah Orleans telah membangkitkan semangat pasukan Prancis. Jeanne d’Arc muncul sebagai salah satu tokoh penting yang menyadarkan bahwa pasukan Inggris bukan tidak mungkin untuk dikalahkan. Jeanne d’Arc pun menjadi idola baru bagi rakyat Prancis. Kemenangan Prancis di Pertempuran Orlenas menjadi titik balik rangkaian peperangan, yang kali ini lebih banyak dimenangkan oleh pasukan Prancis.
Jeanne d’Arc kemudian menginisiasi pasukan Prancis agar melakukan serangan ke wilayah Reims yang sedang dikuasai Inggris. Awalnya banyak pihak yang meragukan strategi tersebut, namun Jeanne d’Arc meyakinkan pasukan Prancis bahwa kota Reims, yang merupakan kota suci bagi penobatan raja, dapat menjadi awal dari munculnya semangat rakyat Prancis. Jika raja Charles VII dapat dinobatkan sebagai raja di Reims, maka moral rakyat Prancis akan naik seiring dengan disahkannya kekuasaan raja mereka.
Pasukan Prancis pun kemudian menyusun strategi penaklukan kota Reims. Setelah melalui pertempuran yang sangat sengit, pasukan Prancis berhasil menduduki Reims. Charles VII pun dapat dinobatkan sebagai raja Prancis secara sah, sesuai dengan tradisi. Pasca pengangkatan Charles VII sebagai raja, kemanangan terus didapatkan pasukan Prancis. Satu per satu wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Inggris, dapat direbut kembali.
Pertempuran terakhir dalam rangkaian Perang Seratus Tahun terjadi di wilayah Castillon. Pertempuran itu terjadi pada 1453, di mana pasukan Inggris berhasil diusir keluar dari wilayah Prancis. Pertempuran Castillon dilatarbelakangi oleh dendam atas kematian Jeanne d’Arc di tangan pasukan Inggris. Pertempuran itu sendiri dimotori oleh Guy Josselyne, La Hire, Constable Richmonth, dan Jean Bureau. Para petinggi pasukan Prancis tersebut mengarahkan pasukannya untuk menyerang bangsa Burgundy yang telah bersekutu dengan Inggris selama masa Perang Seratus Tahun terjadi. Pertempuran yang melibatkan kerajaan Castillon Visigoth, sebagai daerah kekuasaan terakhir Inggris itu pun berhasil dimenangkan oleh Prancis. Hal itu lantas menjadi tanda berakhirnya rangkaian Perang Seratus Tahun di Eropa.
Sumber : Alvarendra, H. Kenzou. 2017. Buku Babon Sejarah Dunia. Yogyakarta : Brilliant Book
Foto : sutori.com
