René Descartes, Bapak Ilmu Filsafat Modern

Potongan Nostalgia
#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Konten dari Pengguna
17 Januari 2021 18:18 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
René Descartes. Dok: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
René Descartes. Dok: Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
René Descartes, lahir di La Haye, Prancis pada 31 Maret 1596 dan meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun, dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf modern dan matematikawan asal Prancis.
ADVERTISEMENT
Karyanya yang dinilai paling penting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Atas berbagai macam jasanya terhadap ilmu fislafat, Descartes sering disebut sebagai bapak filsafat modern. Descartes lahir di La Haye Touraine, Prancis dari sebuah keluarga kaya raya. Ayah Descartes merupakan ketua Parlemen Inggris dan memiliki tanah yang cukup luas. Descartes menerima warisan berupa tanah dari ayahnya ketika ayahnya meninggal, ia menjual tanah warisan itu, dan menginvestasikan uangnya dengan pendapatan enam atau tujuh ribu franc per tahun.
Rumah kelahiran Descartes di La Haye en Touraine, Prancis. Dok: Wikimedia Commons
Descartes bersekolah di Universitas Jesuit di La Fleche dari tahun 1604 hingga 1612. Pengalaman yang ia dapatkan di sana tampaknya telah memberikan dasar-dasar matematika modern walaupun sebenarnya pendidikan itu berada di bidang hukum.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1612, Descartes memutuskan untuk pergi ke Paris, namun kehidupan sosial di sana dia anggap membosankan, dan kemudian dia mengasingkan diri di Faubourg, daerah terpencil di Prancis untuk menekuni ilmu Geometri. Namun, teman-temannya menemukan dia di tempat perasingan yang ia tinggali, maka untuk lebih mengisolasi diri, Descartes memutuskan untuk mendaftar menjadi tentara Belanda pada tahun 1617.
Ketika Belanda dalam keadaan damai, Descartes menikmati masa meditasinya tanpa gangguan selama dua tahun. Tetapi, meletusnya Perang Tiga Puluh Tahun mendorongnya untuk mendaftarkan diri sebagai tentara Bavaria (Jerman) pada tahun 1619. Di Bavaria inilah selama musim dingin (1619-1620), dia mendapatkan pengalaman yang dituangkannya ke dalam bukunya yang berjudul Discours de la Methode (Russel, 2007:733).
Dok: WIkimedia Commons
Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", karena dianggap sebagai salah satu sosok pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Ia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 hingga abad ke-18.
ADVERTISEMENT
Buah dari pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendekatan pemikirannya yang menyatakan bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang itu bisa berpikir. Teori tersebut juga berarti membuktikan keterbatasan kemampuan manusia dalam berpikir dan mengakui sesuatu yang di luar kemampuan pemikiran manusia. Karena itu, ia membedakan "pikiran" dan "fisik". Pada akhirnya, kita mengakui keberadaan kita karena adanya alam fikir.
Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Prancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:
"Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Atau, I think, therefore I exist.
Dok: WIkimedia Commons
Meskipun lebih dikenal karena karya-karya filosofinya, Descartes juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan dari ilmu kalkulus modern.
ADVERTISEMENT
Descartes juga sempat menulis buku sekitar tahun 1629 dengan judul, Rules for the Direction of the Mind, yang memberikan garis-garis besar dari metodenya. Namun, buku ini tidak komplet dan tampaknya Descartes tidak berniat untuk menerbitkannya. Akhirnya buku tersebut diterbitkan untuk pertama kalinya lebih dari lima puluh tahun setelah Descartes meniggal.
Dok: AbeBooks
Dari tahun 1630 hingga tahun 1634, Descartes menggunakan metodenya tersebut dalam penelitian ilmiah guna mempelajari lebih mendalam tentang ilmu anatomi dan fisiologi, ia juga melakukan penjajakan secara terpisah-pisah.
Sedikitnya ada lima poin dari ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran peradaban Eropa: (1) pandangan mekanis mengenai alam semesta; (2) sikap positif terhadap penjajakan ilmiah; (3) tekanan dan pendekatan yang pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (4) pembelaan terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (5) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.
koordinat Kartesius. Dok: WIkimedia Commons
***
ADVERTISEMENT
Referensi: