Konten dari Pengguna

Rosa Parks, Ibu Gerakan Hak-hak Sipil

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Rosa Parks. Dok: Wikimedia Commons.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Rosa Parks. Dok: Wikimedia Commons.

Rosa Parks dilahirkan dengan nama Rosa McCuley di Tuskegee, Alabama, pada tahun 1913. Ia dan beberapa orang Amerika keturunan Afrika lainnya tinggal jauh dari pemukiman orang Amerika asli, di sebuah tempat terpencil, akibat dari undang-undang Jim Crow yang tidak memberikan kesetaraan.

Masa kecil Rosa Parks dan adik laki-lakinya dihabiskan bersama kakek-neneknya di Pine Level, Alabama, setelah kedua orangtuanya bercerai. Rosa Parks kemudian masuk ke Sekolah Industri Montgomery, di mana ia mempelajari berbagai keahlian, seperti memasak, menjahit, menyulam, menganyam, dan lain sebagainya.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya itu, ia melanjutkan ke sekolah menengah atas di negara bagian Alabama. Pendidikannya itulah yang kemudian mempermudah kehidupan Rosa Parks bersama keluarganya. Ia kemudian berkenalan dengan Raymond Parks, seorang tukang pangkas rambut, sekaligus aktivis hak-hak sipil, dan mereka menikah pada 1932.

Amerika Serikat kemudian masuk ke dalam masa yang disebut 'The Great Depresion' atau Masa Depresi Hebat. Ketika itu hanya ada sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia bagi orang Afrika-Amerika, dan terjadi kekerasan rasial secara terus menerus, yang tidak sedikit memakan korban. Bahkan diskriminasi semakin terasa ketika orang-orang kulit putih menuduh orang Afrika-Amerika berbuat onar saat mereka bertingkah layaknya manusia normal.

Kehidupan mereka tidak dilindungi oleh hukum yang adil, sehingga hukuman mati dapat terjadi tanpa adanya pemeriksaan pengadilan. Rosa Parks kemudian bergabung dengan NAACP (National Association for the Advancement of Colored People), dan aktif dalam gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi di Montgomery.

Ada sebuah kisah diskriminatif bersejarah yang dialami oleh Rosa Parks, saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya sehabis bekerja di toserba Montgomery. Rosa Parks yang pulang menggunakan bus, menolak untuk memberikan tempat duduknya di dalam bus untuk seorang kulit putih.

Dok: Wikimedia Commons.

Setelah berdebat panjang, pengemudi bus kemudian memanggil polisi, dan Rosa Parks pun ditahan dengan tuduhan telah melanggar undang-undang transportasi di Montgomery. Ia akan dilepaskan jika membayar jaminan sebesar 100 dolar, dan harus menjalani sidang atas hukumannya itu.

Foto: Rose Parks ketika ditangkap oleh pihak berwajib. Dok: Wikimedia Commons.

Sehari sebelum sidang, 7000 anggota komunitas kulit hitam bertemu untuk melakukan aksi protes terhadap penahanan yang dialami Rosa Parks. Pertemuan itu dilakukan untuk membentuk Asosiasi Perbaikan Montgomery, dan terpilihlah Martin Luther King, Jr, sebagai ketuanya. King lalu menyerukan pemboikotan terhadap bus-bus selama satu hari sampai keputusan atas pengadilan Rosa Parks.

Akhirnya, ia dibebaskan dengan hanya membayar biaya pengadilan sebesar 14 dolar. Akibat dari kejadian-kejadian itu, Rosa Parks dan suaminya kehilangan pekerjaan, dan mereka berkali-kali diancam untuk dibunuh.

Akibat dari pemboikotan yang dilakukan oleh King, dkk, selama 381 hari, pengadilan memutuskan untuk mengubah peraturan transportasi Montgomery menjadi kesetaraan bagi seluruh masyarakat, tanpa membedakan ras. Pemboikotan bus tersebut menjadi pemicu bagi gerakan hak-hak sipil lainnya, dan menjadi model bagi kampanye anti kekerasan di seluruh bagian selatan.

Foto: Rosa Parks mengikuti pertemuan yang dipimpin Martin Luther King, Jr. Dok: Wikimedia Commons.

Berbagai bentuk penghormatan telah diterima oleh Rosa Parks. Seperti tahun 1979, ia menerima Medali Spingarn dari NAACP. Tahun 1980, ia menjadi wanita pertama yang menerima hadiah Perdamian Non-kekerasan dari Martin Luther King, Jr. Di tahun yang sama Rosa Parks menerima penghormatan dari majalah Ebony sebagai wanita kulit hitam yang telah mendedikasikan dirinya terhadap perjuangan hak-hak sipil.

Foto: Masa tua Rosa Parks. Dok: Wikimedia Commons.

**

Referensi:

  • https://www.biography.com/

  • https://www.history.com/