Sejanus dan Kegagalan Mencapai Puncak Tertinggi Romawi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lucius Aelius Sejanus memperoleh kekuasaan tertinggi atas Romawi berkat hilangnya peran seorang kaisar dalam diri Tiberius Claudius Nero. Sejak tahun 26 M, secara de facto, Sejanus telah menjadi pejabat harian membantu tugas Tiberius, yang saat itu memutuskan pergi ke pulau Capri dalam kondisi semi-pensiun.
Tiberius sebenarnya merupakan administrator yang kompeten dan jenderal perang yang sangat berbakat. Namun ia bukanlah pilihan utama untuk menduduki jabatan kaisar Romawi. Tetapi keadaan yang begitu mendesak dan tidak adanya kandidat lain yang memenuhi persyaratan akhirnya dengan terpaksa Tiberius menerima takhta tersebut.
Hal itulah yang mungkin menjadi alasan mengapa Tiberius terlihat tidak nyaman ketika bertugas di dalam pemerintahan. Era kekaisaran Tiberius pun dipenuhi dengan permasalahan, mulai dari konflik internal, hingga intrik politik.
Setelah lelah dengan semua itu Tiberius pun memilih menghabiskan waktunya di istana pulau Capri. Sejanus yang penuh ambisi, melihat peran barunya sebagai pejabat harian kaisar itu sebagai jalan pintas menuju kekuasaan absolut yang ia idam-idamkan.
Sejak 29 M, Sejanus melancarkan berbagai teror untuk melenyapkan musuh-musuh politiknya. Para senat dan militer yang berpotensi menghalangi jalannya, satu persatu dihancurkan dengan tuduhan palsu atas pengkhianatan. Banyak di antara mereka yang diadili dan dihukum mati. Hal itu membuat Sejanus menjadi orang yang paling berkuasa di Roma.
Sebagai pejabat harian yang penuh kuasa, Sejanus tetap berada di posisi yang tidak aman untuk mempertahankan kekuasaannya. Ia pun merencanakan strategi untuk menyingkirkan pewaris sah Tiberius dan anggota kerajaan lain yang dirasa akan mengganggunya.
Tiberius sebenarnya terlihat akan menyerahkan takhtanya kepada keponakannya, Germanicus, yang begitu populer sebagai penguasa wilayah timur kekaisaran. Namun pada 19 M, Germanicus meninggal dunia di Suriah dalam kondisi yang tidak wajar. Putra Tiberius, Drasus, yang sudah pasti menjadi kandidat terkuat, pun meninggal pada 23 M karena diracun. Sejanus lalu mencoba mengamankan posisi politiknya dengan menikahi Livilla, istri Drasus. Tetapi Tiberius tidak menyutujui pernikahan itu, dan Sejanus gagal menaikkan statusnya.
Pada 30 M, kekuasaan di Roma terlihat akan jatuh ke tangan putra Germanicus, Caligula, atau putra Durusus, Tiberius Gemellus. Pada 31 M, Sejanus merancang strategi untuk membunuh Tiberius dan anggota kerajaan lain yang tersisa, yang merupakan calon terkuat kaisar Romawi. Namun Tiberius yang mengetahui rencana jahat Sejanus segera memerintahkan pembunuh bayaran untuk menangkap dan membunuh Sejanus.
Akhirnya Sejanus pun gagal memenuhi ambisinya merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri. Kekaisaran Romawi pun akhirnya diwarsikan ke tangah Caligula, yang nyatanya tidak cukup baik untuk memperbaiki kekaisaran. Sumber : Montefiore, Simon Sebag. 2012. Tokoh Kontroversial Dunia. Jakarta : Penerbit Erlangga
