Konten dari Pengguna

Sejarah Berdirinya Kota Sukabumi sebagai Pusat Perkebunan di Priangan

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sukabumi berasal dari kata “suka” dalam bahasa Sunda yang berarti senang, dan “bumen” yang berarti bertempat tinggal. Dengan udara yang sejuk dan nyaman membuat siapa saja yang datang ke Sukabumi akan betah untuk tinggal di sana. Hal itulah yang membuat kota perkebunan itu dinamakan “sukabumi”.

Awalnya daerah Sukabumi bernama Gunung Parang, dengan ibu kota Cikole. Daerah Sukabumi dari tahun 1815 sampai dengan pertengahan tahun 1921 merupakan bagian dari Afdeling (wilayah administratif) Kabupaten Cianjur dengan status Kabupaten Sukabumi disamping Gemeente (kotamadya) Sukabumi yang dibentuk tanggal 1 April 1914.

Pada 1914 Sukabumi dijadikan Burgelijk Bestuur (pemerintah daerah) yang dipimpin oleh seorang Burgemeester (kepala daerah). Sejak tahun 1926 Gemeente Sukabumi dijadikan daerah otonom hingga tahun 1942. Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, Gemeente Sukabumi diubah menjadi Sukabumi Shi dengan kepala pemerintah disebut Shityo.

Kemudian ketika Indonesia merdeka, status Kota Sukabumi berubah menjadi Kota Kecil Sukabumi yang dipimpin oleh walikota hingga tahun 1957. Memasuki tahun 1958 hingga 1965 berubah menjadi Kotapraja Sukabumi. Statusnya kemudian berubah kembali menjadi Kotamadya Sukabumi hingga tahun 1999 dengan kepala daerahnya Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Sukabumi. Terakhir menjadi Kota Sukabumi sejak tahun 1999 hingga sekarang.

Kepentingan Kota Sukabumi untuk Pemerintah Hindia Belanda dimulai ketika pemerintah membuka daerah untuk wilayah perkebunan di Priangan. Dibukanya daerah perkebunan tersebut membuat banyak orang Eropa yang memilih untuk menjadi pengusaha perkebunan di daerah tersebut. Perkebunan teh menjadi wilayah terbesar yang ada di wilayah Sukabumi. Semakin banyaknya pengusaha perkebunan yang menetap di wilayah Sukabumi, membuat pemerintah daerah melakukan pembangunan untuk kepentingan orang-orang Eropa di sana. Fasilitas yang dibuat oleh pemerintah di antaranya gereja Sidang Kristus sebagai tempat beribadah orang Eropa. Gereja ini dibuat pada 1911, dan sempat digunakan sebagai gudang senjata oleh tentara Jepang.

Dalam perkembangannya, Kota Sukabumi menjadi kota berpenduduk heterogen, yang didiami oleh berbagai masyarakat dari berbagai suku, ras, dan agama. Salah satunya dengan dibangunnya pemukiman dan tempat beribadah orang Tionghoa di Sukabumi.

Sumber : Eddy Sunarto, dkk. 2011. Profil Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jawa Barat (Edisi Revisi). Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Foto : kompasiana.com