Sejarah Kantong Plastik, Awalnya untuk Selamatkan Bumi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.
Saat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.
Penelitian tentang plastik terus dilakukan. Pada tahun 1941, polyethylene terephthalate (PET) ditemukan. PET sendiri merupakan bahan untuk membuat botol minuman bersoda saat itu karena dinilai cukup kuat menahan dua tekanan atmosfer. Hal ini juga membuktikan betapa serba gunanya bahan-bahan baru yang murah tersebut.
Pada saat itu, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Pasca Perang Dunia II, terjadi pergeseran persepsi tentang plastik. Kantong plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik di lautan pertama kali teramati pada 1960-an.
Ditambah pada tahun 1962, Rachel Carson dalam bukunya yang berjudul Silent Spring mengungkapkan bahaya dari pestisida. Ditambah pada 1969, tumpahan minyak di lepas pantai California juga mulai mendapat perhatian.
Kedua peristiwa itu meningkatkan kekhawatiran tentang polusi yang semakin kritis. Kesadaran akan isu lingkungan pun semakin menyebar dan membuat plastik dipandang negatif. Sejak tahun 1970-an hingga sekarang, plastik terumata kantong plastik menjadi limbah yang diwaspadai.
**
Referensi:
https://www.bbc.com/
http://svensktuppfinnaremuseum.se/
