Sejarah Panjang Pelacuran (Bagian II)
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebiasaan-kebiasaan seksual pun tumbuh secara variatif.
Mereka telah mempraktikkan gaya-gaya seks seperti vaginal, anal, kontak paha, oral, jilat klitoris, masturbasi, threesome, gaya 69, sadisme seks, pesta orgi, alat bantu (dildo), dan seks dengan binatang. Demikian jua praktik-praktik seks sesama jenis seperti lesbian dan gay terkenal dengan nama pederasta
Di Romawi, pelacur dianggap penjahat dan pengganggu anak-anak. Mereka diharuskan menggunakan pakaian tertentu untuk membedakan dengan wanita kalangan bangsawan. Lebih ketat lagi, di Asysyiria ditetapkan pasal hukuman bagi pelacur yang membuka tutup kepala sebagai trade mark-nya.
Di India Kuno, pelacur rendahan sering kali disebut khumbhadasi. Di masyarakat India Kuno, kaum wanita golongan rendah hanya diberi dua pilihan, menikah atau menjadi pelacur. Di Jepang populer dengan istilah geisha bagi para pelacur.
Sementara di Cina, pelacuran sudah mulai dilokasilasikan. Pelacur dari golongan rendah disebut wa she. Pada masa Dinasti Han, pelacur golongan rendahan sempat dirumahkan bersama dengan kelompok penjahat, tahanan perang, dan budak.
Beberapa cerita rakyat mengisahkan pelacur terhormat ini mewarnai masyarakat Mesir Kuno.
Tetapi, di antara bangsa kuno lainnya, hanya masa Yunanilah yang menyematkan pengakuan tertinggi bagi pelacur. Oleh karena itu, masyarakat Yunani Kuno mendapat julukan hetaerae, diantaranya Thargelia dari Ionia, Aspasia dari Athena, Sang Pecinta dari Perikles, dan Thais dari Athena.
Hetaerae juga muncul pada masyarakat Muslim zaman dahulu. Biasanya mereka berperan sebagai penghibur yang berasal dari luar daerah Muslim. Begitu pun dengan puisi cinta yang beredar di Timur Tengah waktu itu tak ayalnya dikumandangkan untuk menghormati hetaerae. Demikian jua bangsa lainnya, seperti India, Cina, dan Jepang yang mengenal penyanjungan profesi pelacur terhormat ini.
Pada masa abad pertengahan, hetaerae paling terkenal ialah Ratu Theodora yang mengubah larangan hak milik bagi pelacur serta membangun penampungan bagi pelacur yang ingin meninggalkan profesinya.
Di Venesia, Italia, tercatat Veronica Franco yang berhasil juga dalam pembangunan tempat penampungan bagi pelacur pada 1577 M.

Sumber foto : https://68.media.tumblr.com

