Sejarah Tes Kraepelin, Teknik untuk Meraba Kepribadian Manusia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara dari kita tentu pernah mendengar atau pernah mengikuti tes Kraepelin. Tes psikologi ini sering digunakan dalam proses rekrutmen pegawai/karyawan di suatu perusahaan. Tes ini pertama kali dikembangkan oleh seorang psikiater Jerman bernama Emil Wilhelm Georg Magnus Kraepelin pada abad ke 19.
Ia yang sering sebut Emil Kraepelin pada awalnya menciptakan alat tes yang digunakan sebagai alat bantu untuk mendiagnosis gangguan otak, misalnya saja alzheimer dan demensia.
Pada tahun 1938, Prof. Dr. Richard Pauli bersama dengan Dr. Wilhelm Arnold dan Prof. Dr. Vanmethod memperbarui tes Kraepelin ini sehingga dapat distandarisasikan dan dipakai untuk mendapatkan data tentang kepribadian. Oleh karena itu, tes psikologi juga disebut Tes Pauli-Kraepelin.
Tes Kraepelin merupakan suatu jenis tes dalam rangkaian psikotes yang di dalamnya disajikan angka-angka yang tersusun atas-bawah atau vertikal. Susunan angka berbentuk kolom-kolom dan dimuat dalam kertas A3. Lalu, dilakukan penjumlahan vertikal dengan menghitung urut dari bagian atas hingga bawah.
Tulis hasil penjumlahan di sebelah kanan di antara dua bilangan yang sedang dijumlah. Apabila hasil penjumlahan terdapat bilangan dua digit maka bilangan yang ditulis cukup bilangan satuannya (bilangan belakang).
Tes ini cukup sulit karena angka yang diberikan sangat banyak bahkan seukuran kertas koran sehingga seringkali disebut Tes Koran. Tes ini sangat membutuhkan konsentrasi, ketelitian, stabilitas emosi, dan daya tahan yang prima. Tak hanya sebatas menjumlahkan dan menuliskan di lembar kerja. Tetapi peserta tes juga harus benar-benar teliti mengikuti petunjuk dari pengawas ujian.
Apabila peserta diminta berhenti oleh pengawas maka peserta harus berhenti mengerjakan dan memberi tanda garis bawah pada urutan bilangan yang sedang dijumlah. Tes ini menilai konsistensi dan kebenaran jawaban dalam setiap waktu. Hasil yang diharapkan adalah konsisten dan cenderung naik. Aspek-aspek yang diukur dalam tes Kraepelin adalah aspek keuletan, ketelitian, stabilitas diri, emosi, penyesuaian diri, dan kemauan atau kehendak individu.
Sumber artikel: Tim Bintang Edukasi. 2016. Big Job Test Terlengkap. Jakarta: Bintang Wahyu.
