Konten dari Pengguna

Sekolah Gadis Jawa Pertama di Hindia Belanda

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan di Zaman Kolonial (Foto: Delpher.nl)
zoom-in-whitePerbesar
Pendidikan di Zaman Kolonial (Foto: Delpher.nl)

Membina watak dan pendidikan budipekerti adalah hal yang utama

Pada abad ke-19, Kartini sudah merumuskan gagasan-gagasan mengenai pembentukan sekolah gadis remaja yang dianggap sudah sangat mendesak bagi masyarakat di Jawa. Gagasan Kartini tersebut mendahului Pemerintah Hindia Belanda, yang belum memikirkan mengenai sekolah khusus untuk perempuan.

Kartini tahu betul bahwa pendidikan bukan hanya soal mengasah otak, tetapi lebih utama adalah soal membentuk karakter dan sikap bagi setiap muridnya. Pemikirannya tersebut sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang sudah ada sebelumnya, yang hanya fokus pada pembelajaran bahasa dan pengetahuan umum.

Pendidikan yang ingin diterapkan oleh Kartini adalah pendidikan untuk kaum ibu. Kartini beranggapan bahwa perkembangan watak yang baik untuk anak-anak dimulai dari psikologi ibu kepada anak. Akan tetapi kaum ibu pada abad ke-19 tidak dapat menerima pendidikan, sehingga Kartini memilih untuk mendidik gadis-gadis remaja yang kelak akan menjadi seorang ibu untuk dibina karakter dan mentalnya.

Bulan Juni 1903, sekolah gadis Jawa pertama di Hindia Belanda dibuka. Sekolah tersebut hanya menerima murid anak-anak para priyayi sekitar Kota Jepara saja. Awalnya murid di sekolah tersebut hanya satu orang, kemudian dalam beberapa hari muridnya sudah bertambah menjadi lima orang.

Sekolah Kartini diterima dengan baik oleh masyarakat Jepara, hingga kabar mengenai sekolah tersebut tersebar ke beberapa daerah sekitar Kota Jepara. Seorang jaksa di Karimun Jawa bahkan sampai mencari tempat tinggal di Kota Jepara agar anaknya bisa bersekolah di sekolah Kartini.

Sekolah Kartini mengadakan kegiatan belajar mengajar selama empat hari dalam seminggu, dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 12.30 siang. Pelajaran yang diberikan di Sekolah Kartini di antaranya menulis, membaca, menggambar, ditambah pekerjaan tangan, dan memasak. Pelajaran tambahan tersebut tidak diajarkan di sekolah umum ketika itu. Sistem pelajaran inilah yang kemudian dipakai di sekolah-sekolah Kartini.

Sumber : Soeroto, Sitisoemandari. 1979. Kartini : Sebuah Biografi. Jakarta : Gunung Agung