Konten dari Pengguna

Seni Sastra Kerajaan Mataram Pertengahan Abad ke-9

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diperkirakan seni sastra sudah tumbuh dan berkembang di kerajaan Mataram sejak pertengahan abad ke-9. Naskah-naskah sastra ditulis dalam bahasa Jawa Kuno pada sebuah lontar ataupun batu. Tidak banyak naskah dari masa itu yang ditemukan secara utuh karena bahan penulisannya yang mudah hilang, tapi ada satu naskah yang dapat direkonstruksi oleh para ahli, yaitu Ramayana Kakawin.

Menurut beberapa pendapat ahli, naskah Ramayana Kakawin ditulis oleh seorang pujangga bernama Yogiswara. Akan tetapi pendapat tersebut dibantah oleh Poerbatjaraka dan P.J. Zoetmulder, peneliti kebudayaan Jawa, yang menyebutkan bahwa kata Yogiswara di dalam naskah bukan menunjuk kepada penulis, melainkan harapan penulis agar para ahli “yoga” yang terpelajar mendapatkan kebijakan hati setelah membaca naskah Ramayana Kakawin.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan latar belakang pembuatan naskah Ramayana Kakawin. Para peneliti yang berhasil memecahkan masalah itu, di antaranya Himanus Bhusan Sarkar, Manomohan Gosh, C. Bulcke, dan C. Hooykaas. Diketahui bahwa Ramayana Kakawin sebagian besar bersumber dari naskah Ravanavadha, karangan punjangga Bhatti kira-kira tahun 500-650 M.

Penelitian yang dilakukan oleh Poerbatjaraka berdasar atas kosakata, tata bahasa, dan nama-nama jabatan pemerintahan yang sama dengan jabatan-jabatan yang ada di dalam prasasti-prasasti sebelum Pu Sindok. Poerbatjaraka kemudian menegaskan kembali pendapatnya tentang waktu pembuatan naskah Ramayana Kakawin. Dikatakannya bahwa naskah itu dibuat ketika masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung.

Kitab Ramayana Kakawin menjadi satu-satunya karya sastra dari masa sebelum Pu Sindok yang masih dapat bertahan. Walau ada satu naskah lagi yang oleh para ahli sementara dimasukkan ke dalam kelompok karya sastra sebelum Pu Sindok, yaitu naskah Candakarana, karena dalam naskah disebut nama seorang raja dari wangsa Sailendra bernama Jitendra. Zoetmulder mengemukakan salah satu penyebab tidak adanya karya sastra lain selain Ramayana Kakawin adalah karya sastra tidak disukai oleh generasi setelah naskah itu muncul. Menurunnya minat masyarakat terhadap karya sastra membuat naskah-naskah tidak diperbanyak jumlahnya. Faktor lain yang menyebabkan minimnya karya sastra adalah naskah-naskah ketika itu banyak ditulis menggunakan bahan yang mudah rusak, sehingga bukti untuk mengungkapkan karya sastra lain tidak pernah ditemukan.

Sumber : Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta : Balai Pustaka.

Foto : merdeka.com