Simon Bolivar dan Pembebasan Lima Negara Terjajah

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Simon Bolivar dilahirkan di Caracas, Venezuela, pada 1783, di tengah keluarga bangsawan berdarah Spanyol. Simon Bolivar sangat terpengaruh oleh pemikiran dan idealisme para tokoh Pencerahan Prancis. Karya-karya filsuf yang dibacannya, antara lain John Locke, Rousseau, Voltaire, dan Montesquieu. Hasil pemikirannya berkembang menjadi lebih idealis seperti ketika sedang berada di Roma pada 1805, di puncak Bukit Aventine, Simon Bolivar mengangkat sumpahnya yang sangat terkenal. Dia bersumpah tak akan pernah beristirahat sampai tanah kelahirannya terbebaskan dari cengkraman kekuasaan bangsa Spanyol.
Revolusi melawan kekuasaan Spanyol di Venezuela dimulai pada 1810 ketika gubernur Spanyol di Venezuela digulingkan dari kursi kekuasaannya. Sebuah proklamasi kemerdekaan resmi dibuat pada 1811, dan Simon Bolivar menjadi seorang perwira tentara revolusioner. Namun tahun 1812, Spanyol berhasil menduduki kembali Venezuela. Spanyol menghukum pemimpin tentara revolusi, Fransisco Simon, sementara Simon Bolivar melarikan diri dari negara itu.
Tahun-tahun berikutnya peperangan terus terjadi untuk mendapatkan kemerdekaan Venezuela, kekalahan dan kemenangan silih berganti, namun Simon Bolivar tetap bertekad untuk merebut kembali tanah airnya. Pada 1819, Simon Bolivar memimpin tentara dengan peralatan seadanya untuk menyeberangi wilayah Andes, demi menyerang pasukan Spanyol di Kolombia. Di sana, ia dan pasukannya berhasil memenangkan sebuah pertempuran, yang dikenal dengan Battle of Boyace, pada 7 Agustus 1819. Venezuela akhirnya dapat dimerdekakan pada 1821, disusul dengan Ekuador pada 1822.
Sementara itu, muncul juga seorang patriot Argentina bernama Jose de San Martin, yang berhasil memerdekakan Argentina dan Chile dari kekuasaan Spanyol. Kedua pahlawan pembebasan Amerika Selatan ini berhasil bertemu di kota Guayaquil, Ekuador, pada musim panas 1822. Namun pertemuan keduanya gagal menyepakati cara bekerja sama untuk perlawanan terhadap pasukan Spanyol. San Martin enggan bertikai dengan Simon Bolivar, yang hanya akan menguntungkan pihak musuh, sehingga ia memilih untuk mundur dari jabatannya di Amerika Selatan. Pada 1824, pasukan Simon Bolivar berhasil memerdekakan Peru, dan tahun berikutnya pasukan Spanyol di Bolivia berhasil dikalahkan.
Pasca perang, Simon Bolivar menjadi orang yang sangat ambisius untuk membangun sebuah federasi yang terdiri dari negara-negara baru merdeka di Amerika Selatan. Akhirnya terbentuk federasi antara Venezuela, Kolombia, dan Ekuador, diberi nama Republik Kolombia Raya, dengan Simon Bolivar sebagai presidennya. Namun federasi yang dibuatnya tidak berjalan dengan mulus.
Ketika Simon Bolivar mengadakan Kongres Negara-Negara Amerika Berbahasa Spanyol pada 1826, hanya empat negara saja yang hadir. Bahkan Republik Kolombia Raya semakin hari semakin menunjukkan keretakannya. Perang sipil pecah tidak lama setelahnya, dan pada 1828, terjadi upaya untuk membunuh Simon Bolivar. Pada 1830, Venezuela dan Ekuador memisahkan dari dari republik. Simon Bolivar yang menyadari dirinya menjadi penghalang perdamaian di negerinya, memutuskan untuk mengundurkan diri pada April 1830. Simon Bolivar bahkan diusir dari tanah airnya, Venezuela, dalam keadaan patah semangat, dan miskin hingga meninggal dunia pada Desember 1830.
Sumber : Hart, Michael H. 2016. 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Jakarta : Noura.
Foto : ilikehistory.com
