Konten dari Pengguna

Sisa-sisa Makanan yang Menguak Budaya Makan Zaman Romawi Kuno

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pompeii. Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Pompeii. Sumber: Wikimedia Commons

Pada Desember 2020, para arkeolog di situs Pompeii mengumumkan bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa dua pria dan seekor anjing ini saat mereka menggali tempat makanan kuno yang dikenal sebagai thermopolium. Ruangan thermopolium dihiasi dengan lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

Para arkeolog kemudian lebih memusatkan perhatiannya pada sisa-sisa artefak makanan. Bangunan seperti thermopolium ini memberikan gambaran tentang seperti apa budaya makan zaman Romawi sebenarnya. Karena selama ini, para ilmuwan hanya mendapatkan gambaran dari sastra dan lukisan Romawi saja.

Termopolium ini memberikan indikasi bahwa banyak orang Pompeii menikmati makanan yang dimasak. Menurut arkeolog lokal, banyak penduduk Pompeii yang memiliki perapian untuk memasak, terutama pada rumah pekerja miskin dan kelas menengah.

Sumber: Wikimedia Commons

Setidaknya ada 80 kedai makanan dan minuman di Pompeii yang belum sepenuhnya digali. Guna mengungkap budaya makan pada zaman itu dan jenis makanan apa yang disajikan di dalam, para arkeolog mulai merekonstruksi menu makanan Romawi kuno yang ditemukan di Pompeii.

Untuk menciptakan kembali makanan era Pompeii, arkeolog melihat temuan lukisan dinding, roti, dan sisa fauna. Temuan tersebut menyiratkan bahwa orang Pompeii di abad ke 1 M mengonsumsi semur atau sup yang terdiri dari beragam kandungan nabati dan hewani. Ada pula potongan tulang hewan dan cangkang yang ditemukan adalah sisa makanan yang ditinggalkan.

Sumber: Wikimedia Commons

Kaldu dan daging rebus adalah menu makanan favorit yang ditemukan di Pompeii. Sehingga banyak reruntuhan perapian guna merebus daging hewan kemudian dijual. Karena banyak tempat perebusan daging dan kuah kaldu, maka menimbulkan aroma yang tidak disukai kaisar. Menurut sejarawan abad pertama, Dio Cassius menceritakan suatu peristiwa ketika Kaisar Claudius menghapus kedai minuman dimana tempat penduduk biasa berkumpul dan minum dan memerintahkan agar tidak ada daging rebus yang dijual.

Sumber: atlasobscura.com