Konten dari Pengguna

Sosialisme, Ideologi Para Pendiri Bangsa

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sosialisme, Ideologi Para Pendiri Bangsa
zoom-in-whitePerbesar

Menyoal permasalahan ideologi para pendiri bangsa ini, catatan menarik tentang ideologi ‘kekirian’ sejatinya tidak bisa terlepas dari sejarah Indonesia, utamanya ketika awal berdirinya Indonesia

Dalam hal ini ideologi kiri yang secara umum dapat disebut sosialisme dengan berbagai variannya ini menjadi favorit para pendiri republik.

Salah satu peneliti mengenai Indonesia semasa revolusi asal negeri Paman Sam AS, George Mc Tunan Kahin mengatakan bahwa perintis kemerdekaan Indonesia cenderung tertarik pada sosialisme, karena sebagian besar pemimpin Republik mempunyai komitmen yang kuat untuk menciptakan keadilan sosial yang lebih besar dan kemerdekaan dianggap sebagai prasyarat yang tidak dapat ditawar. Bagi hampir semua mereka, jalan untuk mencapai tujuan itu ialah suatu bentuk sosialisme

Soekarno menganggap dirinya sebagai seorang sosialis, demikian pula Hatta, yang menekankan pentingnya ditegakkan ekonomi campuran-suatu sistem yang memberi tempat bagi sektor sosialis yang cukup besar, tetapi harus juga mencakup komponen koperasi yang besar, dengan memberikan tempat bagi campuran kapitalisme bersekala kecil. Hal itu juga merupakan pandangan Natsir, Roem, dan Sjafrudin Prawiranegara yang menganggap diri mereka sebagai kaum sosialis religius

Sjahrir yang sedari awal mengatakan bahwa sosialisme telah mendarah daging padanya, merupakan salah satu tokoh hebat pendiri Partai Sosialisme Indonesia (PSI), Sedang partai-partai yang lainnya juga merupakan paham sosialisme beda varian, seperti Partai Komunis Indonesia, dan juga Murba besutan Tan Malaka.

Sejak 1966, rezim penghancur ideologi kiri berdiri menjadikan semua ideologi kiri seolah tabu, maka modal asing dan utang menjadi prioritas rezim yang berkuasa. Kapitalis bisa masuk bahkan tanpa permisi terlebih dahulu, sosialisme seolah berada pada ujung tanduknya. Namun apakah sosialisme hanya relevan ketika bangsa ini berada pada fase negara ini masih masa revolusi membangun bangsa?

Kemudian kita baiknya kembali berkaca pada apa yang dikatakan Sjahrir, bahwa Nasionalisme diperlukan untuk menghadapi globalisasi, agama dibutuhkan agar ada keseimbangan material-spiritual, sementara sosialisme adalah ideologi yang membendung keserakahan kapitalisme.

Sumber: Warman, Asvi. 2010. Misteri Sejarah. Jakarta : PT Gramedia