Spartacus, Budak yang Dikenang sebagai Pemberontak atas Romawi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prajurit Thracian yaitu Spartacus disebut-sebut sebagai orang yang memulai salah satu pemberontakan budak paling terkenal sepanjang masa. Konflik ini dimulai dengan kurang dari 100 budak yang tumbuh menjadi pasukan hingga 120.000.
Perang yang dilakukan sering diartikan sebagai perang untuk mengakhiri perbudakan di Republik Romawi, meski tidak pernah disebutkan sebagai alasan dalam catatan kuno. Meskipun pemberontakan pada akhirnya gagal, peristiwa itu mengukir nama Spartacus dalam cerita rakyat dan kisahnya telah diceritakan dan dibesar-besarkan di berbagai film dan acara televisi.
Sedikit yang diketahui bahwa Spartacus mungkin adalah seorang pemimpin militer dan gladiator, demikian menurut para sejarawan. Ia lahir sekitar 111 SM di sekitar sungai Struma di Bulgaria modern. Ada dugaan bahwa ia pernah bertempur sebagai pembantu tentara Romawi di Makedonia.
Spartacus akhirnya berakhir sebagai tahanan di Capua dimana dia bersekolah di sekolah gladiator. Beberapa mengatakan dia meninggalkan tentara sementara yang lain menyarankan dia memimpin serangan terhadap Romawi.
Pada 73 SM ketika Spartacus memimpin pelarian dari sekolah bersama 70-80 gladiator lainnya. Mereka rupanya mencuri pisau dari toko juru masak dan gerobak penuh senjata lainnya. Budak yang melarikan diri berlindung di Gunung Vesuvius.
Spartacus muncul sebagai pemimpin bersama dengan Crixus dan Oenomaus. Kelompok pelarian memiliki keberuntungan di pihak mereka karena orang Romawi awalnya tidak menanggapi ancaman itu dengan serius. Saat itu, orang Romawi sedang menghadapi pemberontakan di Hispania dan Perang Mithridatic Ketiga di Pontus.
Perang ini akan menjadi panjang dan berlarut-larut. Hal ini sebagian disebabkan oleh keterampilan militer Spartacus yang menjadi faktor utama. Sebelum mundur ke gunung berapi Vesuvius, para budak menyerbu pedesaan dan meneror pemilik tanah. Sejumlah budak rumahan dan budak lainnya bergabung dengan pemberontak sehingga pada saat mereka mencapai Vesuvius, barisan Spartacus semakin banyak.
Roma melakukan kesalahan dengan memperlakukan insiden itu sebagai gelombang kejahatan biasa, bukan pemberontakan.
Sumber: historycollection.com
