Suasana Perayaan Pernikahan di Pulau Jawa Abad ke-18

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perayaan pernikahan pengantin diawali dengan pertunangan untuk mengikat perjanjian antara kedua keluarga. Pertunangan tersebut dilakukan dengan membawa seserahan dari pihak laki-laki. Setelah terjadi persetujuan, kedua calon pengantin akan dipingit di dalam rumah selama 40 hari.
Ketika hari pernikahan berlangsung, ayah dari pengantin perempuan akan membawa calon pengantin laki-laki ke masjid untuk memberitahu penguhulu bahwa penganti laki-laki setuju memberikan mas kawin, umumnya seharga dua dolar, dan memintanya untuk menikahkan laki-laki tersebut dengan putrinya. Segala proses pernikahan dilakukan secara Islam, dengan memperhatikan hukum-hukum yang berlaku di dalam agama Islam.
Ada hal menarik yang dilakukan dalam proses pernikahan tersebut, jika pada hari penentuan pernikahan ada hal yang menghalangi pengantin pria untuk datang ke masjid, maka sebagai gantinya pengantin pria harus mengirimkan keris kepunyaannya yang dianggap cukup mewakili kehadiran sang pengantin pria. Untuk prosesi selanjutnya dalam upacara pernikahan, pengantin pria dapat mencari pengganti dirinya untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara. Keadaan seperti itu sebenarnya hanya terjadi ketika keadaan benar-benar gawat untuk pengantin pria.
Ketika resepsi pernikahan, pengantin pria akan memakai busana terbaiknya dengan menunggangi kuda didampingi oleh para kerabatnya sambil diiringi oleh musik. Ketika sudah sampai didekat rumah tempat resepsi, pengantin perempuan akan keluar dan menyambut kedatangan pengantin pria. Di beberapa daerah, sebelum mendekati tempat resepsi, pengantin perempuan dan pengantin laki-laki akan saling berhadapan untuk saling melemparkan sirih sebagai pertanda bahwa rumah tangga akan lebih baik dan lebih kuat dalam menempuh kehidupan bersama.
Pengantin perempuan kemudian menerima pengantin laki-laki dengan membungkukkan badan rendah sebagai bentuk penghormatan kepada suaminya, hal sama dilakukan kepada orang tua dari penganti laki-laki. Kedua pasangan tersebut kemudian ditempatkan di tempat yang tinggi yang dapat dilihat oleh seluruh orang yang hadir. Untuk memperlihatkan kebersamaan mereka di kehidupan rumah tangganya, mereka kemudian memakan sirih dari kotak yang sama. Di beberapa daerah selain ditempatkan di satu tempat, pasangan pengantin juga diarak keliling desa. Pengantin perempuan diarak menggunakan tandu, sedangkan pengantin laki-laki menunggangi kuda.
Sumber : Raffles, Thomas Stamford. 2015. The History of Java. Yogyakarta : Penerbit Narasi
Foto : hipwee.com
