Konten dari Pengguna

Swasembada Beras 1984 : Apakah Petani Kita Sejahtera?

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peningkatan produktivitas beras yang membawa Indonesia memperoleh swasembada beras pada 1984 membawa pada suatu pertanyaan besar. Apakah Petani kita semakin sejahtera?

Pada periode awal kemerdekaan, pemerintah yang harus membangun ekonomi dari nol sempat menerapkan kebijakan dengan meminta pengorbanan para petani untuk bersedia menjual padi kepada pemerintah dengan harga yang jauh lebih rendah sekitar 20% dari harga di pasaran. Sebagian produksi padi yaitu 10% dari total luas suatu daerah, wajib dijual kepada pemerintah.

Pada hakikatnya dua ketentuan tersebut secara tidak langsung sama halnya dengan pajak yang ditarik oleh pemerintah kepada para petani padi. Berbagai macam perangsang digunakan, misalnya ketersediaan penjualan tekstil murah kepada para petani agar kerugian petani tidak terlalu besar.

Pada masa Orde Baru, pemerintah bertekad untuk mengatasi kekurangan beras dengan cara mengimpor beras sebanyak yang diperlukan hingga berlanjut pada program peningkatan produktivitas beras melalui program pencapaian swasembada beras.

Tercapainya swasembada beras pada 1984 tidak berarti para petani juga mencapai “masa keemasan”-nya. Lebih buruk dari itu petani padi mengalami dampak dari naik turunnya harga beras di pasaran sehingga membuat para petani memilih untuk menanam tanaman tambahan yang lebih menguntungkan selain padi. Namun bukan berarti petani berhenti menanam padi. Para petani padi tetap berusaha menanam padi minimal untuk kebutuhan makan keluarganya sehari-hari. Hampir tidak pernah para petani padi membeli beras ke pasar.

Beras memang menjadi makanan pokok sebagai penunjang hidup para petani, tetapi pada kenyataanya mereka tidak akan hidup hanya semata-mata dengan menanam padi saja, apalagi jika disebut menjadi ‘sejahtera’. Keberhasilan maupun kegagalan tanaman padi faktanya tidak membuat petani semakin sejahtera atau semakin miskin, mereka tetap hidup dengan standar golongan menengah ke bawah. Berbeda dengan petani tanaman komersil seperti tebu, cengkih, atau kopi yang bisa saja membuat petaninya semakin kaya ataupun semakin miskin.

Sumber : Majalah Tempo, 16 November 1985 Halaman 26 Foto : www.berdikarionline.com