Taman Nasional Drakensberg, Bukti Keberadaan Suku San

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ukhahlamba atau oleh masyarakat lokal dikenal sebagai Drakensberg, merupakan jajaran dinding batu cadas berwarna kebiruan yang berada di dataran Kerajaan Lesotho.
Drakensberg menjadi jajaran pegunungan tertinggi di Afrika Selatan, dengan panorama alam yang begitu memesona, yang seakan tercipta hanya untuk melengkapi besarnya kebudayaan di dataran Afrika.
Pegunungan Drakensberg membentang sejauh 1.000 kilometer, dan terletak di Provinsi KwaZulu-Natal, berbatasan dengan Kerajaan Lesotho. Untuk menuju tempat itu tersedia 15 jalur darat dari jalan utama antara Johanneburg dan Durban.
Di tempat itu terdapat lebih dari 40.000 lukisan dinding yang tergambar dengan sempurna di gua-gua dan batu-batu menggantung yang jumlahnya cukup banyak. Lukisan itu diketahui dibuat oleh suku San--suku asli Afrika yang mendiami kawasan tersebut sekitar 8.000 tahun yang lalu.
Lukisan-lukisan yang ada di sana menggambarkan ritual tari-tarian, perburuan, peperangan, dan hubungan spiritual antara manusia dengan hewan-hewan yang hidup di daerah lembah Drakensberg.
Dari hasil penelitian para ahli terhadap subjek dari lukisan-lukisan di dinding-dinding gua Drakensberg menunjukkan bahwa orang-orang San masih melakukan pembuatan gambar tersebut sampai akhir abad ke-19.
Penelitian yang dilakukan pada 1976 terhadap 150 situs lukisan di Drakensberg bagian tengah dan selatan mengungkapkan bahwa tema lukisan yang dibuat oleh seniman San umumnya mengenai perburuan, tarian dan ritual keagamaan.
Warna dominan yang dipakai oleh mereka untuk membuat lukisan itu adalah merah. Sementara warna putih, orange, dan kuning lebih banyak digunakan untuk menggambar objek hewan.
Wilayah Drakensberg merupakan satu dari beberapa kawasan arkeologis yang terkenal di Afrika Selatan. Situs bersejarah itu berasal dari zaman Mesolitikum, sekitar 20.000 BP (BP adalah teknik penanggalan ilmiah yang menjadi dasar penanggalan radiokarbon).
Namun para ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang orang-orang San baru menempati wilayah itu sekitar tahun 8.000 BP. Saat itu, populasi suku San mungkin tidak lebih dari seribu jiwa, yang menempati daerah utama lembah Drakensberg.
Wilayah Drakensberg ternyata tidak hanya dihuni oleh orang-orang San saja, masyarakat di zaman Besi mulai berpindah ke lembah di timur daratan itu pada abad ke-13 SM dengan membawa hewan ternak mereka,
Menjelang akhir abad ke-16 M, terdapat suku peternak yang mulai menetap di sana –suku Zizi di sebelah utara, dan suku Tholo di sebelah selatan. Awalnya mereka hidup rukun dengan orang-orang San, tetapi setelah kekuasaan suku Zulu pada abad ke-19 semakin meluas, orang-orang San tersingkir ke wilayah utara Drakensberg sehingga hubungan San dengan Zizi dan Tholo pun terputus.
Wilayah Drakensberg kemudian dihuni oleh Voortrekkers sejak tahun 1837 hinga tahun 1930-an. Mereka melakukan banyak aktvitas di lembah Drakensberg, mulai dari berternak, berburu, dan berladang. Hubungan antara komunitas Voortrekkers dengan orang-orang San diketahui tidak terlalu harmonis.
Penguasa komunitas itu bahkan memerintahkan penangkapan orang-orang San yang dituduh mencuri hewan ternak mereka. Bahkan pada tahun 1870-an, penangkapan itu telah mengarah pada penghancuran sistematis terhadap orang-orang San yang sebenarnya menjadi penghuni terlama wilayah Drakensberg.
___
Sumber: Perwito Mulyono, dkk. 2009. World Heritage Nature & Culture Volume 1. Surakarta: Batara Publishing.
