Taman Sari Sunyaragi, Pesanggrahan Bersejarah di Cirebon

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Taman sari Sunyaragi merupakan kompleks pesanggrahan yang memiliki nilai estetis dan historis di kota Cirebon, Jawa Barat. Pesanggrahan ini terletak di tepi jalan By Pass Brigjen Darsono, jalan antar provinsi yang membuat tempat wisata sejarah ini strategis dan mudah dijangkau oleh wisatawan.
Kompleks pesanggrahan ini dibangun agak jauh dari kawasan tiga kraton yang ada di kota Cirebon. Taman pesanggrahan yang kini dikelola oleh keluarga Kesultanan Kasepuhan Cirebon terdiri dari dua bagian. Pertama, pesanggrahan ini terdiri dari sebuah gedung bergaya Indis dengan taman yang luas. Terdapat danau-danau buatan di sekitarnya.
Kedua adalah bagian kompleks gua-gua kecil buatan yang dihiasi oleh gunungan-gunungan batu alam dan bata karang laut. Terdapat pula terowongan-terowongan di dalamnya. Penuh saluran-saluran air bagian sisi gua Sunyaragi. Pada bagian kompleks gua terhampar tanah lapang.
Menurut sejarahnya, kompleks taman Sunyaragi yang dulu pernah digunakan untuk tempat peristirahatan keluarga keraton ini selalu mengalami pengrusakan. Pihak kolonial Belanda sering melakukan penyerbuan terhadap taman sari ini.
Belanda menganggap dan mencurigainya sebagai tempat persembunyian kaum kraton yang hendak melakukan pemberontakan. Bekas pengrusakan oleh Belanda masih dapat dilihat di pesanggrahan hingga sekarang.
Pesanggrahan Sunyaragi mulai dibangun sejak zaman Pangeran Arya Carbon (Pangeran Salahuddin) pada tahun 1703 Masehi. Dahulu tempat ini juga pernah digunakan untuk latihan perang para prajurit kraton, pembuatan alat-alat perang juga sebagai tempat bertapa.
Sunyaragi terdiri dua gabungan kata yaitu Sunya berarti sepi sunyi dan Raga berarti jasmani. Jadi, pesangrahan Sunyaragi adalah tempat untuk menyepi diri dengan maksud mengadakan konsentrasi pada suatu tujuan bertapa, mencari ridho Ilahi.
Sewaktu pemerintahan Sultan Matangaji (Pangeran Tajul Arifin) pesanggrahan ini mengalami banyak perbaikan dan digunakan sebagai markas besar prajurit. Oleh karena itulah, pesanggrahan ini menjadi incaran serangan tentara Belanda. Saat serangan Belanda, Sultan Matangaji gugur dalam peperangan pada tahun 1787 Masehi.
Pasca serangan, pesanggrahan ini hancur tinggal puing-puing saja. Kemudian oleh Pangeran Adiwijaya (Pangeran Syamsuddin) pada tahun 1852 Masehi dibangun kembali dan lebih diperkuat dengan bantuan arsitek Cina. Namun, pada akhirnya arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh oleh pihak Kesultanan Cirebon karena membocorkan segala rahasia dan seluk beluk bangunan Sunyaragi kepada Belanda.
Sejak peristiwa itu, pesanggrahan Sunyaragi selalu diawasi oleh kolonial Belanda. Pada akhirnya, pesanggrahan itu tidak lagi digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan di dalamnya. Pesanggrahan Sunyaragi menjadi terlantar karena tak digunakan lagi. Kemudian, pesanggrahan ini dipugar dan dirawat oleh ahli waris kraton untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah sampai sekarang.
Sumber: P.S. Sulendraningrat.1978. SEJARAH CIREBON. Jakarta: Depdikbud
