Konten dari Pengguna

Tanjidor : Alat Musik Betawi Warisan Kolonial

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi masyarakat Betawi Tanjidor tentunya sudah tidak asing lagi. Bagaimana tidak alat musik yang terdiri dari piston (Cornet a piston), trombon, tenor, klarinet, bas, di lengkapi dengan alat musik pukul membran atau tembur ini merupakan warisan asli kolonial yang berasimilasi dengan budaya Betawi.

Selain tata letak kota serta alat tranposrtasi yang dibawa dan di terapkan di daerah yang sekarang dikenal dengan Betawi, orang-orang berkulit putih itu juga meninggalkan warisan budaya yang berasimilasi dengan budaya lokal, termasuk alat musik, salah satunya Tanjidor.

Perkembangan Tanjidor dimulai di daerah pinggiran, sejak abad ke-19, yaitu tepatnya setelah undang-undang perbudakan di hapuskan. Mereka para tuan-tuan Belanda yang mempekerjakan budak atau jongos dari pribumi, diantaranya ada yang dipekerjakan khusus sebagai slavenorkest (pemain musik), sedang Tanjidor merupakan salah satu yang dilestarikan dan dibina di lingkungan Landhuis tuan-tuan tanah.

Setelah undang-undang mengenai perbudakan di hapuskan, maka para jongos yang sudah mahir bermain Tanjidor dan lepas dari majikannya mulai mencari penghasilan dengan cara ‘mengamen’ berkeliling kota Batavia.

Seiring berjalannya waktu Tanjidor terus berkembang dalam masyarakat Betawi, sekarang alat musik Tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi pawai atau mengarak pengantin.

Sumber : mernaarini.wordpress.com