Konten dari Pengguna

Teknologi Drainase di Zaman Kerajaan Tarumanagara

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sungai. Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sungai. Sumber: Wikimedia Commons

Banjir besar yang menimpa ibu kota sejak hujan besar di awal 2020 membuat seorang peneliti sejarah dari Museum Ullen Sentalu, Y. Kelik Prirahayanto mempublikasikan tentang sejarah rekayasa air yang dilakukan oleh raja-raja di pulau Jawa di masa lampau.

Kelik mencatat penerapan teknologi rekayasa air di pulau Jawa sudah sejak abad ke 5 Masehi. Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. Prasasti ini ditemukan di Kampung Batu Tumbuh, Kelurahan Tugu, di wilayah Koja Jakarta Utara.

Prasasti Tugu adalah catatan tentang titah seorang raja bernama Purnawarman dari kerajaan Tarumanagara pada kurun tahun ke-22 di masa pemerintahannya untuk melakukan penggalian dua kanal. Purnawarman memerintahkan untuk menggali Sungai Chandrabaga dan Sungai Gomati. Nama Chandrabaga adalah nama yang lambat-laun menebal menjadi nama kota Bekasi. Asalnya adalah Chandrabaga, menjadi Bagasasi, dan kemudian menjadi Bekasi. Penggalian pertama adalah penggalian Sungai Chandrabaga untuk mengalirkan air yang berasal dari hulu, yang alirannya berada di tepian istana Raja Purnawarman yang termasyhur, agar langsung mengalir ke laut.

Sumber: Wikimedia Commons

Prasasti kemudian melukiskan Raja Purnawarman yang mulia sebagai seorang raja yang memiliki lengan yang kencang dan kuat, bisa diartikan memiliki kekuasaan dan kekayaan, untuk memerintahkan penggalian sungai sepanjang 6.122 tumbak atau sepanjang kurang lebih 12 kilometer yang bernama Gomati. Penggalian itu tercatat selesai dalam waktu 21 hari sejak tanggal 8 paro-gelap, bulan Phalguna dan selesai tanggal 13 paro-terang, bulan Caitra.

Prasasti Tugu, selanjutnya mencatat bahwa Sungai Gomati yang permai dan berair jernih itu mengalir di tengah-tengah kediaman yang mulia Neneknda Sang Purnawarman. Untuk memberkahi pembangunan dua kanal itu, para brahmana mengorbankan sekitar 1.000 ekor sapi.

SE Wibowo dan S Rosalina, dari Universitas Singaperbangsa Karawang, menulis sebuah artikel khusus tentang inskripsi-inskripsi yang mencatat tentang Kerajaan Tarumanegara. Dalam artikel itu dijelaskan pula tentang Prasasti Tugu yang menjelaskan tentang rekayasa air yang dilakukan Raja Purnawarman.

Sumber: Wikimedia Commons

Mereka mengkategorikan Prasasti Tugu sebagai catatan atas perintah atau penyampaian langsung dari seorang raja pada waktu tertentu atas sebuah peristiwa tertentu. Pencatatan perintah itu menjadi hal yang sangat berharga bagi peneliti sejarah karena dapat mengungkapkan konteks zaman atau pencapaian peradaban pada waktu itu.

Para peneliti sejarah menemukan keterkaitan penyebutan nama dua sungai, yakni Chandrabaga dan Gomati dengan dua sungai besar di Punjab, India Utara, yang dari sana namanya diambil. Toponimi atau penamaan yang sama di dua tempat yang berbeda adalah sebuah hal yang sangat khas dalam sejarah awal kerajaan di Nusantara yang terpengaruh perkembangan peradaban di India.

Sumber: indonesia.go.id, kemdikbud.go.id