Temuan Mengenaskan Utusan Raffles Setelah Gunung Tambora Meletus

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negara yang punya banyak gunung berapi. Salah satu satunya adalah Gunung Tambora yang terletak di Pualu Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Gunung Tambora termasuk gunung berapi dengan kekuatan letusan yang besar. Catatan mengenai besarnya letusan Gunung Tambora bahkan sudah ada sejak era kolonial.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1815, Gunung Tambora mengalami letusan besar. Semua bermula pada tanggal 5 April saat Gunung Tambora mengalami letusan ringan. Pada 10 April, abu pun mulai turun dengan disertai suara gemuruh yang seperti meriam.
Pada 10 April itu pula puncak letusan Gunung Tambora terjadi. Ledakannya terdengar dari jarak yang sangat jauh. Meski terletak di Pulau Sumbawa, suara letusan bahkan tetap bisa terdengar oleh orang yang berada di Pulau Sumatera.
Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 menghasilkan kerusakan yang luar biasa parah. Batu-batu besar terlempar ke segala arah, abu mengalir ke lereng gunung dengan kecepatan tinggi, tsunami melanda Laut Jawa, sementara itu abu vulkanik juga berjatuhan hingga ke Kalimantan.
Efek letusan Gunung Tambora tentu saja dirasakan oleh banyak orang. Hujan abu yang turun selama berminggu-minggu membuat banyak rumah rusak. Selain itu, sumber air bersih juga terkontaminasi. Kondisi ini juga diperparah dengan gagal panen yang mengakibatkan kelaparan di mana-mana.
Saat itu, Jawa dipimpin oleh seorang Gubernur dari Inggris bernama Sir Thomas Stamford Raffles. Menanggapi letusan Gunung Tambora, ia mengirim seorang perwira ke Sumbawa untuk memantau dan membuat laporan mengenai apa yang sudah terjadi.
Perwira utusan Raffles kemudian menemui pemandangan yang begitu mengenaskan. Ada mayat yang bergeletakan, desa hampir semuanya kosong dengan kondisi banyak rumah yang runtuh, orang yang masih hidup pun kesulitan bertahan dengan keterbatasan makanan.
Tak hanya itu, wabah diare juga merajalela yang diduga diakibatkan oleh tercemarnya air. Banyaknya korban jiwa pun tidak bisa dihindari. Itu pula yang harus dilaporkan sang perwira kepada Raffles.
Sumber: historytoday.com
