Topan Galveston, Bencana Alam Terburuk di Amerika Serikat

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Topan yang menghantam kota Galveston di Pulau Galveston, Texas, pada 8 Desember 1900, disebut-sebut sebagai bencana alam terburuk yang pernah terjadi di Amerika Serikat. Dengan angka kematian mencapai lebih dari 8.000 jiwa, tidak ada yang dapat menandingi dampak yang ditimbulkan dari bencana angin topan ini.
Topan Galveston ini terbentuk di Cape Verde, lepas pantai Afrika, yang bergerak dari wilayah Samudera Atlantik ke Kepulauan Karibia untuk kemudian mengakhirinya di Texas. Kota Galveston benar-benar tanpa perlindungan jika badai semacam itu menerjangnya.
Tidak ada dinding laut untuk melindungi kota dari berbagai bencana yang datang dari arah laut. Sebenarnya sebuah tanggul dinding laut telah diusulkan sebelum tahun 1900, tetapi tak seorangpun yang menghiraukannya karena merasa tidak membutuhkannya.
Topan menghantam kota itu dengan kecepatan 190 km per jam dan ombak setinggi 6 meter. Topan yang berlangsung selama 24 jam itu telah membawa bobot air hujan sebesar 2 miliar ton di Galveston.
Galveston telah berubah menjadi kota mayat, dengan timbunan bangkai manusia bertebaran di seluruh sudut kota. Ada mayat di jalanan, di rumah yang masih berdiri, di pantai, di sepanjang aliran sungai, dan di tempat-tempat terbuka lainnya.
Air dan terik matahari telah menyebabkan pembusukan ribuan mayat secara cepat. Orang-orang yang selamat khawatir munculnya penyebaran penyakit tifus dan kolera dari mayat-mayat yang bertebaran itu. Ditambah bau busuk telah menyelimuti seluruh sudut kota Galveston.
Pemerintah setempat kemudian membentuk sebuah kelompok khusus yang diberi nama “Geng Maut”. Kelompok ini berisi pria-pria yang selamat dari bencana besar itu, yang masih kuat dan hanya terluka ringan. Tugas utama dari kelompok geng maut adalah menjaga kota pasca bencana. Seperti diketahui, banyak orang yang berasal dari luar Galveston datang ke kota itu untuk menjarah harta-harta yang ditinggalkan korban.
Ada lebih dari 250 orang yang ditembak oleh kelompok geng maut karena mencoba mencuri dari rumah-rumah yang ditinggalkan. Bahkan ada seorang pencuri yang kedapatan membawa 23 potongan jari manusia dengan cincin yang masih melekat.
Selain menjaga kota dari pencuri-pencuri, kelompok geng maut ditugaskan untuk membuang mayat-mayat sebelum menyebarkan berbagai macam penyakit. Ada dua cara yang dilakukan oleh geng maut ketika membuang mayat-mayat itu.
Pertama, mereka menumpuk ratusan mayat di atas perahu, kemudian berlayar ke laut, dan membuangnya. Kedua, mereka menumpuk mayat di tepi pantai, kemudian membakarnya. Aroma tidak sedap dari daging yang telah membusuk segera digantikan oleh aroma tidak mengenakan dari daging dan rambut yang terbakar.
Tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengidentifikasi mayat-mayat, atau bahkan mengembalikan mayat-mayat ini kepada keluarganya. Selama krisis kesehatan ini terselesaikan, hal itu sudah cukup baik.
Tingkat bunuh diri di wilayah Galveston tercatat meningkat pesat pasca bencana topan itu terjadi. Banyak orang yang selamat mendapati dirinya hanya tinggal seorang diri, menyaksikan orang-orang yang dicintainya telah tewas.
***
Referensi:
