Tornado 1925, Bencana Angin Paling Parah di Amerika

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tornado ini mengamuk dengan kecepatan 115 kilometer per jam, melalui jalur sepanjang 352 kilometer di tiga negara bagian. Dalam waktu 5 jam, tornado mengerikan ini telah menewaskan lebih dari 500 orang, melukai ribuan orang yang sedang beraktivitas, dan meratakan sebagian besar bangunan tinggi di kota. Tidak dapat dibayangkan bagiamana situasi yang dialami oleh masyarakat ketika itu, bahkan dilaporkan sebuah sekolah yang tengah diisi oleh anak-anak telah hancur dan melukai seluruhnya.
Tornado utama mulai terbentuk pada siang hari menjelang sore, pada 18 Maret 1925, di Ellington, Missouri. Tornado bergerak ke Annapolis dengan kecepatan 110 kilometer per jam. Hampir 90% kota itu hancur akibat terjangan angina super kencang.
Tornado kemudian memasuki wilayah Illinois, menyapu bersih seluruh daerah Gorham, menghancurkan lebih dari 50% fasilitas di Murphysboro, DeSoto, Frankfort Barat, dan Parish. Sepanjang perjalanannya dari Gorham menuju Parish, dalam rentang waktu 40 menit, Tornado ini telah menewaskan 541 orang, dan 1432 orang terluka serius.
Bencana besar itu bergerak ke Indiana, menghantam wilayah Griffin, sebelum bergerak ke luar kota menghancurkan 85% lahan pertanian di sana. Tornado itu akhirnya berhenti sebelum mencapai Indianapolis, dan tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut.
Berbagai kerusakan yang disebabkan oleh Tornado ini telah melumpuhkan aktivitas di beberapa wilayah yang terkena kerusakan cukup besar. Pemerintah menaksir kerugian akibat dari peristiwa ini mencapai 500 juta dolar, dalam nilai dolar tahun 1925. Banyak sumber air bersih hancur, menyebabkan kebutuhan air masyarakat sangatlah kurang. Ditambah terputusnya seluruh jalur komunikasi dan aliran listrik, sehingga mempersulit penyelamatan korban-korban oleh tim penyelamat.
Tornado yang datang secara tiba-tiba itu tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Upaya pemulihan yang sangat sulit dilakukan akibat minimnya penerangan pada malam hari membuat perbaikan dan evakuasi pascabencana ini terlambat dilakukan. Pemandangan sangat menyedihkan terjadi di sebuah sekolah dasar, yang hampir seluruh muridnya tewas. Setelah mayat murid-murid itu diidentifikasi, tidak ada satu pun orang tua yang menjemput karena mereka pun telah tewas saat badai terjadi.
Sumber: Spignesi, Stephen J. 2007. 100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa. Tanggerang: Karisma
