Konten dari Pengguna

Tragedi Rawagede Dalam Bait-bait Puisi Chairil Anwar

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pilunya tragedi berdarah Rawagede kemudian tertuang dalam bait-bait puisi Chairil Anwar.

Sajak Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi ...................

Tak ayal tragedi berdarah antara Karawang Bekasi, pada 9 Desember 1947 yang telah membantai empat ratus tiga puluh satu jiwa penduduk erada antara Karawang-Bekasi, Desa Rawagede melahirkan sebuah sajak sebagai salah satu pengingat peliknya peristiwa tersebut

Adalah seniman legendaris Indonesia Chairil Anwar yang menciptakan sajak tersebut, yang ditulis pada 26 Juli 1922- 28 April 1949

Isi sajaknya merupakan suatu ungkapan perasaan akan situasi pembantaian dan perang melawan pasukan tentara Belanda saat itu, tidak hanya melalui sebuah sajak, peristiwa itu juga diabadikan dengan dibuatnya Monumen Rawagede, yang berisi ratusan makam para korban.