Tragedi Rawagede Dalam Bait-bait Puisi Chairil Anwar

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pilunya tragedi berdarah Rawagede kemudian tertuang dalam bait-bait puisi Chairil Anwar.
Sajak Karawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi ...................
Tak ayal tragedi berdarah antara Karawang Bekasi, pada 9 Desember 1947 yang telah membantai empat ratus tiga puluh satu jiwa penduduk erada antara Karawang-Bekasi, Desa Rawagede melahirkan sebuah sajak sebagai salah satu pengingat peliknya peristiwa tersebut
Adalah seniman legendaris Indonesia Chairil Anwar yang menciptakan sajak tersebut, yang ditulis pada 26 Juli 1922- 28 April 1949
Isi sajaknya merupakan suatu ungkapan perasaan akan situasi pembantaian dan perang melawan pasukan tentara Belanda saat itu, tidak hanya melalui sebuah sajak, peristiwa itu juga diabadikan dengan dibuatnya Monumen Rawagede, yang berisi ratusan makam para korban.
