Trier, Kota Metropolitan Abad Ke-3 yang Terabaikan

Potongan Nostalgia
#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Konten dari Pengguna
7 April 2021 17:01 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu bangunan bergaya Romawi Kuno di kota Trier, Jerman
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu bangunan bergaya Romawi Kuno di kota Trier, Jerman
ADVERTISEMENT
Pembangunan wilayah Trier dilakukan oleh bangsa Romawi ketika mereka mendirikan sebuah kota besar di lembah Mosel. Wilayah ini sangat berbeda dengan Galia, maupun Gemania. Namun berbagai penelitian sejarah di sana, tidak mampu memberikan jawaban mengenai keberadaan penghuni asli wilayah lembah Mosel, khususnya Trier.
ADVERTISEMENT
Menurut Johann Wolfgang von Goethe, yang tinggal di Trier pada 1792, penghuni asli kota itu tidak dapat dilacak karena pengaruh Romawi yang sangat kuat, sehingga menghilangkan keberadaan peradaban asli di sana. Akhirnya, penguasa wilayah sebelum era Romawi hanya menjadi legenda di masyarakat.
Sebuah bukti sejarah dari abad terakhir sebelum masehi menunjukkan bahwa orang-orang Romawi membangun sebuah jembatan yang membelah Sungai Mosel, di tengah-tengah pemukiman bangsa Celtic Treverer. Mereka mendirikan kota pertama di tanah Jerman sebagai cikal bakal Kota Trier, dan menamakannya Augusta Treverorum.
Suasana Kota Trier, Jerman. | WIkimedia Commons
Porta Nigra, sebuah bangunan antik di Trier berada tepat di gerbang masuk kota, dan menjadi pintu masuk utara Augusta Trevorerum. Porta Nigra–berarti gerbang hitam–dibangun antara tahun 180 M sampai 200 M oleh pasukan Romawi. Porta Nigra dibangun menggunakan bahan-bahan yang sangat kokoh, seperti batu-batu alam berwarna hitam, yang dipotong menjadi persegi berukuran besar.
ADVERTISEMENT
Porta Nigra dipercaya menjadi gerbang terbesar yang masih berdiri hingga kini. Bangunan setinggi 30 meter itu memiliki dua menara betingkat tiga dan empat, yang dihubungkan dengan ruangan yang sekarang difungsikan sebagai museum. Porta Nigra menjadi simbol kemegahan kota Trier, lebih dari 2000 tahun yang lalu.
Pada abad pertengahan, wilayah lembah Mosel menjadi pusat perdagangan yang sangat penting. Sekitar 100 meter dari Porta Nigra, berdiri bangunan rumah indah khas abad petengahan. Bangunan bergaya gothic berwarna putih itu dikenal dengan sebutan, Dreikoenigenhaus, yang berarti “Rumah Tiga Raja”.
Diperkirakan rumah bersejarah itu dibangun sekitar tahun 1230. Tidak jauh dari rumah itu, terdapat pusat kota Trier, Judengasse dan Hauptmarkt, yang dihuni oleh bangsa penduduk, termasuk kampung Yahudi yang telah menempati wilayah itu sejak abad ke-2 ketika Trier masih dikuasai Romawi.
ADVERTISEMENT
Lalu pada tahun 330, dibangun sebuah gereja antik yang sangat luas, di tanah bekas istana. Di sana juga berdiri sebuah gereja megah, Liebfrauen, yang dibangun sekitar abad ke-13. Meski berdekatan, kedua gereja itu memiliki gaya arsitektur berbeda, yang memperlihatkan perbedaan kebudayaan ketika masa pembangunannya. Uskup Agung Theoderich von Wied, diketahui memimpin pembangunan Liebfrauen pada awal abad ke-13, dan dilanjutkan oleh Uskup Agung Konrad von Hochstaden.
Salah satu bangunan bergaya Romawi di Kota Trier, Jerman. | Wikimedia Commons
Sejak saat itu, wilayah Trier berkembang pesat menjadi kota metropolitan di abad ke-3 Masehi. Wilayah ini juga berperan serta sebagai ibu kota penting di wilayah barat, erbentang dari Afrika Utara hingga Britania. Di bawah kekuasaan Romawi, Trier memiliki penduduk hingga 80 ribu jiwa.
ADVERTISEMENT
Masa keemasan kota Trier terjadi selama masa pemerintahan Konstantin yang Agung, dan ibunya, Helena, yang bertahan hingga tahun 400. Setelah itu, pusat pemukiman wilayah itu dipindahkan ke Milan, sementara pusat pemerintahannya berada di Arles.
Setelah tahun 400, pemerintah Romawi memfokuskan kekuatannya untuk mempertahankan daerah kekuasaannya, yang mulai runtuh akibat berbagai permasalahan di dalam kekaisaran. Akibatnya, Augusta Trverorum mulai tidak diperhatikan, hingga akhirnya pengamanan kota mulai menurun. Kota itu pun beberapa kali menjadi korban perampasan oleh bangsa Jerman dan bangsa nomaden lainnya. Sejak tahun 480, kekuasaan wilayah Trier diambil alih oleh Kerajaan Prancis.
***
Referensi: