Konten dari Pengguna

Tsunami Jepang Tahun 1896

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tsunami Jepang tahun 1896 terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan kondisi yang begitu tenang. Teluk Honshu menjadi pintu masuk bagi gelombang raksasa itu untuk dapat menghantam seluruh bangunan yang ada di pantai timur laut Jepang. Tercatat gelombang tsunami itu memiliki lebar lebih dari 480 km, dan tinggi lebih dari 33,5 km. Gelombang ini menyapu seluruh bangunan dan penduduk yang berjarak 160 km dari bibir pantai. Besarnya tenaga yang dihasilkan dari gelombang tsunami itu sangatlah besar, bahkan terasa hingga San Francisco, California.

Gelombang tsunami menghantam daratan pada pukul 20.30 waktu setempat. Anehnya, tahun 1896 seluruh warga di sekitar pantai dan beberapa daerah di Jepang tidur lebih awal dari biasanya. Sehingga ketika gelombang itu menerjang, banyak dari warga yang sedang terlelap tanpa sedikitpun berusaha melarikan diri ke tempat yang aman. Mungkin itu sebuah keberkahan bagi mereka karena tidak satupun yang merasakan sakit ketika ajal menjemputnya.

Banyak dari warga yang selamat dari terjangan air, namun mereka tidak dapat menghindari puing-puing bangunan yang runtuh menimpa mereka. Atau banyak pula dari korban yang tewas diakibatkan benda-benda yang datang menerjang mereka dengan kecepatan rata-rata 800 km per jam. Tidak ada satupun dari warga yang dapat menghindar dari kematian selama tsunami Jepang ini berlangsung.

Walau banyak korban tewas sedang dalam keadaan tidur, namun banyak pula korban tewas sedang berada di tepi pantai. Mereka sedang melakukan sebuah ritual tradisional yang dikenal dengan sebutan “Pesta Anak Lelaki”. Menurut mereka yang selamat dari terjangan gelombang tsunami ini, para peserta festival mendengar suara gemuruh dan gempa sebelum datangnya gelombang air tersebut.

Namun sebagian besar warga Jepang sudah terbiasa dengan gempa sehingga tidak ada satupun yang berpikir cukup serius untuk mengehentikan festival tersebut. Jepang memang sangat sering mengalami gempa tetapi hanya sedikit yang mengakibatkan terbentuknya gelombang besar. Diperkirakan lebih dari 20.000 orang peserta Pesta Anak Lelaki yang tewas akibar terjangan tsunami itu, dari total jumlah peserta sebanyak 28.000 orang.

Kerusakan terbesar akibat dari tsunami itu berada di kota Miyako, Kamaishi, Kesennuma, dan Ishinimaki di Honshu. Korban yang tewas pun sangat banyak, terutama pasca terjadinya tsunami, di mana penyakit-penyakit mulai bertebaran di seluruh penjuru negeri. Korban yang tewas akibat penyakit itu tidak kalah besar dibanding korban tewas akibat terjangan tsunami, terutama ketika bantuan obat-obatan dan makanan yang semakin sulit didapat.

Sumber : Spignesi, Stephen J. 2008. 100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa. Tanggerang : Karisma. Foto : kyotodreamtrips.com