Upacara Pernikahan Para Pejabat Kolonial

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Upacara pernikahan bagi para pejabat Belanda masa kolonial tidak kalah mahalnya dengan upacara kematian mereka
Kemegahan upacara pernikahan ditentukan oleh bagaimana tingkat kekayaan, jabatan, serta keberuntungan calon pengantin dan strata sosial orang tua mereka.
Tradisi yang berlaku sebelum pernihakahan adalah calon pengantin laki-laki menggantungkan sebuah mahkota kecil di depan pintu rumah atau di depan kantornya. Sedang beberapa minggu beberapa minggu sebelum akad nikah, kedua calon mempelai mengadakan resepsi yang dihadiri teman-teman dekatnya.
Pada malam hari sebelum janji suci pernihakan dilaksanakan, mahkota dari pihak laki-laki dibawa ke rumah pengantin perempuan yang diiringi dengan musik dan lagu-lagu khusus untuk pernikahan. Setelah pagi hari datang mahkota tersebut kemudian diletakkan di depan pintu rumah pegantin perempuan yang sudah di dekorasi dengan indah.
Untuk menyertai upacara pernikahan di gereja, kedua calon mempelai memilih teman yang mereka percaya untuk menjadi kroonjonker dan seorang kroonmeisje yaitu para pembawa mahkota.
Saat itu upacara pernikahan dianggap lebih bergengsi lagi apabila diadakan pada minggu sesudah upacara kebaktian gereja. Namun seiring berjalannya waktu Pada akhir abad ke-18, upacara pernikahan tidak diadakan di gereja lagi, tetapi para pengantin mengundang pendeta ke rumah pengantin perempuan.
Para tamu yang hadir pada pernikahan tidak kalah ingin menunjukkan strata sosialnya pula. Mereka hadir dengan pakaian bagus dan mahal. Pengantin laki-laki bersama teman-temannya datang ke rumah mempelai perempuan dengan mengendarai kereta yang dihias bagus.
Upacara pemberkatan pernikahan hampir sama halnya dengan pemberkatan pernikahan biasa orang-orang katolik dan nasrani. Sekembalinya dari gereja, di depan rumah pengantin atroojonker dan stroomeisje menaburkan bunga dimana temoatnya terbuat dari logam berukir indah.
Dengan memainkan lagu-lagu yang mendayu-dayu pesta pernikahan di akhiri dengan dansa dan pesta makan minum para tamu undangan yang datang.
Soekiman, Djiko. 2014. Kebudayaan Indis. Depok: Komunitas Bambu
foto : saptono.wordpress.com
