Wujud Keberadaan Roh dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Wayang menjadi salah satu bukti nyata peradaban tinggi di Nusantara yang diyakini telah ada sejak zaman prasejarah. Wayang kuno juga telah mempertegas kedudukan kebudayaan masyarakat Indonesia yang tidak kalah dengan peradaban sezaman dibelahan bumi lain.
Sebelum masuknya agama Hindu-Budha ke Nusantara, nenek moyang bangsa ini telah melakukan berbagai ritual yang didasarkan pada kepercayaan menyembah alam. Mereka percaya bahwa orang yang telah meninggal akan kembali ke alam dalam wujud roh, yang diyakini masih berada di sekililing mereka.
Roh-roh tersebut akan menempati pohon-pohon, gunung-gunung, atau tempat-tempat tertentu yang telah dipersiapkan. Tempat berdiamnya roh itu kemudian akan disembah dan dijadikan tempat keramat bagi masyarakat.
Roh orang yang telah wafat dianggap sebagai pelindung yang kuat bagi masyarakat untuk menangkal pengaruh negatif dan sihir-sihir dari kelompok masyarakat lain.
Roh tersebut hanya dapat dibangkitkan oleh seorang ahli sihir yang dipilih oleh masyarakat sebagai pembimbing bagi roh-roh tersebut. Cara mendatangkan roh dilakukan dengan diiringi nyanyian, tarian, puji-pujian, dan berbagai sajian-sajian. Didatangkannya roh orang yang telah wafat dilakukan sebagai bentuk perlindungan dan pencarian berkah bagi mereka yang masih hidup.
Keinginan masyarakat untuk mencari perlindungan dan keberkahan dari roh-roh semakin besar. Akhirnya masyarakat memiliki keinginan untuk mendatangkan roh pelindung mereka ke dalam rumah, ataupun tempat-tempat yang lebih dekat dengan masyarakat.
Masyarakat saat itu percaya bahwa semakin dekat mereka dengan roh leluhurnya, maka semakin besar berkah kehidupan yang mereka jalani. Ritual seperti nyanyian, pujian, dan makanan, disiapkan sesuai dengan kegemaran roh-roh tersebut ketika masih hidup.
Masyarakat kemudian mulai berfikir tentang perwujudan dari roh pendahulu mereka yang selama ini berada dekat dengan mereka. Keinginan tersebut mendorong masyarakat untuk menciptakan sebuah bayangan dalam bentuk gambar atau lukisan.
Roh tidak diwujudkan dalam gambar yang realistis, tetapi hanya gambar semu. Gambar bayangan tersebut terilhami oleh bayangan-bayangan yang setiap pagi selalu mengelilingi mereka. Bayangan tersebut tidak berwujud, tetapi tergambarkan memiliki kaki dan tangan.
Akhirnya terciptalah gambaran perwujudan nenek moyang mereka yang memiliki kaki dan tangan seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.
Sumber : Mulyono, Sri. 1989. Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang. Jakarta : CV Haji Masagung.
Foto : commons.wikimedia.org
