Wuthering Heights, Novel Kontroversi yang Justru Jadi Karya Terbaik

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel karya Emily Bronte yang sarat dengan pergolakan kehidupan, Wuthering Heights, telah menjadi karya sastra klasik, yang oleh banyak kritikus sastra dianggap sebagai salah satu novel berbahasa Inggris terbaik abad ke-20.
Novel itu diceritakan melalui sudut pandang dua narator –seorang pelayan dan seorang pemilik rumah– yang memiliki sifat, dan kedudukan saling bertentangan. Hal itulah yang membuat novel Wuthering Heights memiliki susunan cerita yang unik pada masa itu.
Novel itu berkisah tentang kehidupan tragis yang dialami oleh Heathcliff, seorang anak terlantar yang diadopsi oleh sebuah keluarga kaya. Namun berbagai kejadian yang mengguncang hidupnya, membuat Heathcliff kehilangan arah, dan merubahnya menjadi pribadi yang begitu buruk.
Heathcliff menjalin sebuah hubungan rumit dengan seorang wanita bernama Catherine. Namun hubungan kedunya, berubah menjadi rasa benci saat Catherine dipaksa menikah dengan pria lain. Dalam kesedihan akibat pengkhianatan wanita pujaannya itu, Heathcliff mulai berubah dan keburukan mulai menyelimutinya.
Singkat cerita, Catherine yang terbaring lemah di atas tempat tidur, mengakui cintanya kepada Heathcliff, dan dengan egoisnya mengharapkan mereka dapat tetap bersama dalam kematian.
Heathcliff yang sudah terlanjur sedih, menyikapi permintaan terakhir Catherine dengan nada kejam, “...engkau pantas menerima ini”. Setelah merenungkan sikapnya, kemarahan Heathcliff berubah menjadi kesedihan yang amat dalam, bahkan ia sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya.
Sikap Heathcliff kembali berubah ketika kesedihannya itu membuat ia bersumpah akan membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakiti Catherine dan dirinya.
Niatnya untuk melakukan kejahatan telah membawa Heathcliff pada kegilaan, dan ia pun terus dihantui oleh roh Catherine yang terus berharap kepadanya. Mereka pun akhirnya dapat bersama setelah kematian Heathcliff.
Emily Bronte sangat baik ketika mengubah sikap dan sifat tokoh utamanya, yang akan membawa para pembacanya terlarut ke dalamnya.
Ketika diterbitkan pada 1847, novel Wuthering Heights tidak mendapat sambutan yang baik. Para kritikus menilai bahwa isi novel itu terlalu vulgar, dan terlalu menekan perasaan. Para pembaca pun cukup dibuat heran dengan kesuraman dan ketegangan emosional dalam novel tersebut, sehingga mereka takut hal itu akan mempengaruhi kehidupannya.
Namun dengan bergulirnya waktu, para ahli sastra mulai melihat novel tersebut sebagai karya sastra yang mengagumkan. Menurut seorang pengarang kenamaan, Joyce Carol Oates, Wuthering Heights tidak mudah dipahami oleh pembaca abad ke-19 karena kebudayaan mereka yang belum mendukung kisah tersebut.
Setahun sebelum menerbitkan Wuthering Heights, Emily Bronte dan saudara-saudaranya menerbitkan sebuah kumpulan syair dengan nama samaran, sehingga tidak ada yang mengetahui latar belakang sastra Emily.
Emily Bronte memang bukan seorang yang terkenal di kalangan sastrawan, diketahui Wuthering Heights menjadi satu-satunya karya novel Emily. Ia meninggal dunia pada 1848, setahun setelah Wuthering Heights diterbitkan, sebelum berhasil menelurkan karya-karya lainnya.
***
Referensi:
