Konten dari Pengguna

Birr al-Walidain dalam Perspektif Psikologi dan Kesehatan Mental

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arya Ramadhani putra pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi salam-salaman dengan orang tua . Source: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi salam-salaman dengan orang tua . Source: Pexels

Birr al-walidain merupakan konsep berbakti kepada orang tua dalam Islam. Namun, sudahkah kita benar-benar memahami maknanya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Berbakti tidak hanya berarti menaati nasihat, membantu pekerjaan rumah, memenuhi kebutuhan, atau merawat orang tua, tetapi juga mencakup sikap hormat, kepedulian, dan ketulusan dalam memperlakukan mereka, termasuk ketika terjadi perbedaan pendapat.

Dalam ajaran Islam, birr al-walidain merupakan nilai penting yang berkaitan dengan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua. Salah satu landasannya terdapat dalam QS. Al-Isra' [17]: 23–24, yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, berbicara dengan perkataan yang mulia, serta mendoakan mereka. Pesan tersebut menunjukkan bahwa penghormatan kepada orang tua tidak cukup diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi juga melalui perilaku sederhana dalam keseharian.

Menariknya, nilai tersebut juga dapat dikaji melalui perspektif psikologi, khususnya dalam memahami hubungan orang tua dan anak, perkembangan emosi, komunikasi keluarga, serta kesejahteraan psikologis. Penelitian psikologi tidak secara langsung membuktikan seluruh ajaran agama, tetapi dapat membantu menjelaskan bagaimana kualitas hubungan keluarga dan perilaku saling menghargai berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam JCPP Advances pada 2023, misalnya, merangkum 37 penelitian dan menemukan bahwa kualitas komunikasi orang tua–anak berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan mental remaja.

Birr al-Walidain dalam Perspektif Psikologi

Ilustrasi kedekatan momen emosional bersama orang tua. Source : Shutterstock
  1. Hubungan Orang Tua–Anak dan Kesehatan Mental

Dalam perspektif psikologi, hubungan orang tua dan anak dapat dipahami melalui konsep kelekatan (attachment), yaitu ikatan emosional yang berperan dalam penyesuaian psikologis individu. Kualitas pengasuhan dan kemampuan orang tua memahami kebutuhan anak turut berperan dalam hubungan tersebut.

Risi et al. (2021) menemukan bahwa kesehatan mental orang tua berkaitan dengan transmisi kelekatan antargenerasi. Sementara itu, Jugovac et al. (2022) menunjukkan bahwa intervensi pengasuhan berbasis kelekatan dan emosi dapat mengurangi masalah perilaku dan psikologis pada anak dan remaja.

Dalam konteks birr al-walidain, kedua penelitian tersebut menegaskan pentingnya hubungan keluarga dan perhatian terhadap kebutuhan emosional. Islam mengajarkan penghormatan dan perlakuan baik kepada orang tua, sedangkan psikologi menjelaskan dinamika hubungan keluarga melalui konsep kelekatan dan pengasuhan. Namun, kedua penelitian tersebut tidak secara khusus menguji birr al-walidain maupun dampak langsungnya terhadap kesehatan mental.

  1. Kehangatan Keluarga dan perkembangan kemandirian

Hubungan orang tua dan anak yang positif tidak hanya ditandai oleh kepatuhan, tetapi juga oleh kehangatan, dukungan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemandirian. Bülow et al. (2022), melalui penelitian terhadap 159 pasangan orang tua–remaja selama 100 hari, menemukan bahwa kehangatan orang tua dan dukungan terhadap kemandirian berkaitan dengan kesejahteraan emosional remaja.

Dalam konteks birr al-walidain, temuan ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada orang tua dapat berjalan seiring dengan kemandirian anak. Anak dapat menyampaikan pendapat secara santun tanpa mengabaikan rasa hormat kepada orang tua. Namun, penelitian tersebut tidak secara langsung menguji birr al-walidain, melainkan menjelaskan pentingnya kehangatan dan dukungan terhadap kemandirian dalam hubungan keluarga.

  1. Rasa syukur dan penghargaan terhadap orang tua

Obeldobel dan Kerns (2021), melalui tinjauan sistematis terhadap 10 penelitian tentang rasa syukur dan hubungan orang tua–anak serta 38 penelitian tentang rasa syukur dan kesejahteraan anak, menemukan bahwa rasa syukur anak berkaitan dengan kelekatan yang aman, kehangatan orang tua, dukungan terhadap kemandirian, dan keteladanan orang tua dalam mengungkapkan rasa syukur. Selain itu, rasa syukur anak berkaitan dengan kepuasan hidup, afek positif, dan kesejahteraan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga dan pengalaman rasa syukur relevan dalam memahami kesejahteraan anak.

Dalam perspektif Islam, rasa syukur kepada orang tua juga ditegaskan dalam QS. Luqman [31]:14. Dalam konteks birr al-walidain, rasa syukur dapat menjadi salah satu landasan untuk memahami penghargaan terhadap kebaikan orang tua. Namun, rasa syukur dan birr al-walidain tidak sepenuhnya sama karena birr al-walidain mencakup penghormatan dan perlakuan baik kepada orang tua secara lebih luas.

  1. Regulasi emosi dan interaksi dalam keluarga

Regulasi emosi merupakan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola respons emosional. Dalam hubungan keluarga, kemampuan ini membantu orang tua dan anak menghadapi perbedaan pendapat serta menyampaikan perasaan secara tepat.

Pinquart (2023) melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis menemukan adanya hubungan antara dimensi pengasuhan dan disregulasi emosi pada anak dan remaja. Sementara itu, Holzman et al. (2022), melalui tinjauan terhadap 32 penelitian, menemukan bahwa kesulitan regulasi emosi orang tua berkaitan dengan gejala kesehatan mental anak muda. Sanaky, Sahrani, dan Dewi (2026) juga membahas keterkaitan hubungan orang tua–anak, respons orang tua terhadap emosi anak, dan regulasi emosi anak.

Dalam konteks birr al-walidain, temuan tersebut relevan untuk memahami pentingnya mengelola emosi dan menjaga tutur kata saat terjadi perbedaan pendapat. Anak perlu berusaha menyampaikan pendapat dengan santun, sedangkan orang tua perlu mendengarkan dan merespons perasaan anak secara tepat.

  1. Penghormatan kepada orang tua dan konteks budaya

Penghormatan kepada orang tua dapat dipengaruhi oleh nilai budaya dan norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Dalam sebagian budaya, penghormatan diwujudkan melalui kepatuhan dan pemenuhan kewajiban, sedangkan budaya lain lebih menekankan komunikasi dan hubungan timbal balik.

Han dan Cheung (2025) meninjau 17 penelitian tentang hubungan filial piety dengan kesehatan mental remaja, terutama dalam konteks budaya Tiongkok dan Korea. Kajian tersebut membedakan penghormatan yang didasarkan pada hubungan timbal balik dan penghormatan yang berorientasi pada hierarki. Kedua bentuk penghormatan tersebut menunjukkan pola hubungan yang berbeda dengan gejala psikologis.

Namun, filial piety berakar pada tradisi Konfusianisme sehingga tidak dapat disamakan secara langsung dengan birr al-walidain dalam Islam. Dalam Islam, penghormatan kepada orang tua berlandaskan Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama. Penghormatan diwujudkan melalui perlakuan baik dengan tetap mempertimbangkan prinsip moral. Dengan demikian, kajian Han dan Cheung memberikan pemahaman tentang pengaruh budaya terhadap cara seseorang memaknai penghormatan kepada orang tua, tetapi tidak secara langsung menjelaskan konsep birr al-walidain.

Implementasi Birrul Walidain dalam Keluarga

Ilustrasi Kasih sayang keluarga. Source: Shutterstock

Beberapa bentuk penerapan pendidikan akhlak pada anak menurut Abuddin Nata (dalam Suhaili, 2023) dijelaskan sebagai berikut :

1. Mendidik dengan Keteladanan

Keteladanan merupakan cara mendidik anak melalui contoh perilaku orang tua. Sikap dan perkataan orang tua dapat memengaruhi pembentukan akhlak, mental, dan sosial anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan perilaku yang baik agar dapat ditiru oleh anak dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mendidik dengan Kebiasaan

Menurut Gilbert Highest, sebagaimana dikutip Jalaluddin dalam buku Psikologi Agama, sebagian besar kebiasaan anak terbentuk melalui pendidikan keluarga. Sebagai lingkungan pendidikan pertama, keluarga berperan penting dalam membentuk kebiasaan anak. Orang tua dapat membiasakan anak berkata jujur, berbuat baik, menghormati orang yang lebih tua, dan melaksanakan salat tepat waktu. Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak menerapkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, perilaku buruk yang dicontohkan orang tua dapat memengaruhi perilaku anak terhadap orang lain.

  1. Mendidik dengan Hukuman

    Hukuman dalam pendidikan bertujuan membantu anak memahami kesalahannya dan tidak mengulanginya. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu memberikan teguran terlebih dahulu. Jika anak masih mengulangi kesalahan tersebut, orang tua dapat memberikan konsekuensi yang mendidik agar anak memahami bahwa perilakunya tidak tepat.

Hikmah Birul Walidain dalam kehidupan dan Psikologi

Ilustrasi mendoakan kedua orang tua. Source: Shutterstock

Birrul walidain dalam Islam merupakan bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah. Turaedi dkk. (2025) menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua mencakup bertutur kata dengan lembut, mendoakan, memenuhi kebutuhan, dan menyayangi mereka. Herman (2025) juga memandang bakti kepada orang tua sebagai tanggung jawab moral dan spiritual yang mendekatkan seseorang kepada Allah.

Dari sisi psikologis, Nabilah dan Azizah (2025) menjelaskan bahwa pengorbanan ibu selama kehamilan, persalinan, dan menyusui berperan dalam membentuk ikatan emosional dengan anak. Kasih sayang dan perhatian ibu juga mendukung rasa aman serta perkembangan emosi anak. Dengan demikian, birrul walidain dapat menumbuhkan rasa syukur, empati, dan penghargaan terhadap pengorbanan orang tua.

Birrul walidain juga berkaitan dengan pembentukan karakter dan hubungan sosial. Herman (2025) menyebutkan bahwa sikap berbakti dapat mendukung perkembangan empati, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan keterampilan komunikasi. Namun, pandangan ini didasarkan pada wawancara dan kajian literatur, bukan pengukuran psikologis secara langsung.

Penelitian Pratiwi dan Agung (2022) terhadap 406 remaja di Pekanbaru menemukan bahwa bentuk bakti kepada ayah yang paling banyak disebut adalah kepatuhan (43,1%), diikuti perilaku prososial (36,2%), rasa hormat (11,8%), dan tanggung jawab (4,4%). Temuan ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua dapat diwujudkan melalui berbagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan antara bakti dan kesejahteraan psikologis juga terlihat dalam penelitian Roring dan Simanjuntak (2024) terhadap 132 orang dewasa yang merawat orang tua sekaligus anaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filial piety berhubungan positif dengan kepuasan hidup, tetapi kontribusinya relatif kecil. Karena penelitian ini bersifat korelasional dan sebagian besar partisipannya bukan Muslim, hasilnya tidak dapat langsung disamakan dengan birrul walidain dalam Islam.

Meski demikian, bakti kepada orang tua perlu dijalankan dengan tulus dan sesuai kemampuan. Mafrukha dkk. (2026) menjelaskan bahwa tuntutan finansial dalam keluarga generasi sandwich dapat memicu kecemasan, kelelahan emosional, dan konflik peran. Bakti yang dipahami semata-mata sebagai kewajiban membalas pengorbanan orang tua juga berisiko menimbulkan tekanan. Oleh karena itu, kasih sayang, keadilan, dan kemampuan individu perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaannya. Islam mengajarkan agar anak tetap memperlakukan orang tua dengan baik, meskipun tidak wajib menaati perintah yang bertentangan dengan ajaran Allah (Nabilah & Azizah, 2025).

Dengan demikian, hikmah birrul walidain mencakup tiga aspek, yaitu spiritual, psikologis, dan sosial. Secara spiritual, bakti merupakan bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah. Secara psikologis, bakti dapat menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap orang tua. Secara sosial, bakti mendukung pembentukan karakter dan keharmonisan keluarga. Namun, hubungan tersebut perlu dipahami secara proporsional karena bukti penelitian yang tersedia masih terbatas dan sebagian hanya menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat.