Konten dari Pengguna

Komunikasi Krisis di Era Viral: Satu Unggahan Bisa Rusak Reputasi Brand

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Surya Gumilang Pradika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi Krisis: Dari Media Massa ke Algoritma, Komunikasi krisis kini menjadi kemampuan wajib bagi perusahaan. Dulu, krisis reputasi biasanya berawal dari pemberitaan media massa, dan perusahaan masih punya waktu menyusun pernyataan resmi. Sekarang situasinya berbeda. Kasus seperti Pertamina menunjukkan bagaimana satu isu bisa meledak di media sosial dalam waktu singkat. Paragraf ini juga membantu dua poin link topic di bawah.

komunikasi krisis brand di media sosial *illustrasi gambar dari ai
zoom-in-whitePerbesar
komunikasi krisis brand di media sosial *illustrasi gambar dari ai

Dari Media Massa ke Algoritma

Perubahan paling mendasar ada pada sumber krisis dan kecepatannya. Menurut perbandingan di artikel BINUS Malang, pemicu krisis dulu datang dari media massa, sedangkan kini berasal dari algoritma dan konten buatan pengguna, dengan dampak yang global dan real-time. Artikel yang sama juga menyoroti ancaman baru seperti deepfake, kampanye disinformasi, dan cancel culture.

Satu insiden kecil bisa membesar tanpa kendali perusahaan. Liputan RRI menggambarkan bahwa di platform seperti TikTok, Instagram, dan X, satu kesalahan kecil bisa langsung viral. Hasil riset tentang boikot global Starbucks 2023–2025 menunjukkan hal serupa, yaitu media sosial berperan ganda: mempercepat penyebaran informasi krisis sekaligus menjadi sarana berinteraksi dengan publik.

Kasus Nyata: Ketika Reputasi Diuji

Beberapa kasus di Indonesia bisa jadi bahan belajar.

Pertamina dan isu bensin oplosan (2025). Skripsi di UPN Veteran Jawa Timur menganalisis kasus ini. Menurut penelitian itu, isu pengoplosan bensin pada 2025 berkembang menjadi krisis reputasi yang memukul kepercayaan publik, terutama di media sosial. Dengan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT), peneliti menemukan bahwa Pertamina menjadikan Instagram sebagai kanal utama dan menekankan permintaan maaf, klarifikasi, serta upaya memperbaiki citra.

Dough Lab dan video viral. Sebuah studi di Jurnal JTIK membahas kasus ini. Menurut studi itu, kasus bermula dari video viral yang memperlihatkan tikus di salah satu gerai Dough Lab, lalu menyebar luas dan merusak citra perusahaan. Kasus ini menunjukkan bahwa isu kebersihan yang bersifat operasional bisa langsung menjadi persoalan reputasi begitu masuk ke ruang publik digital.

Erspo dan reaksi warganet di X. Penelitian dari Universitas Telkom mengkaji krisis komunikasi yang dialami Erspo, apparel resmi Timnas Indonesia, yang memicu respons luas dari publik. Studi itu menekankan bahwa strategi krisis perlu disesuaikan dengan karakteristik krisisnya.

Apa yang Bisa Dipelajari?

Dari literatur dan kasus di atas, ada beberapa prinsip yang berulang.

1. Pantau sebelum meledak. RRI menyebut langkah awal yang baik adalah memiliki sistem monitoring yang aktif memantau percakapan publik di platform digital. BINUS Malang menambahkan bahwa praktisi PR masa kini tidak boleh menunggu krisis muncul ke permukaan.

2. Cepat, tapi tetap akurat. Respons lambat bisa memperburuk keadaan, tapi respons terburu-buru juga berbahaya. Menurut RRI, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi, karena respons yang tergesa-gesa justru bisa menimbulkan informasi yang keliru.

3. Nada empatik, bukan defensif. Tim penanganan krisis perlu terlatih menyusun pesan yang jelas, empatik, dan tidak defensif. Dalam kasus seperti bensin oplosan, permintaan maaf dan klarifikasi yang terbuka menjadi bagian penting dari strategi pemulihan kepercayaan.

4. Konsisten di semua kanal. Perusahaan bisa memakai situs resmi, media sosial, hingga konferensi pers. Yang penting, pesan harus konsisten di berbagai kanal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

5. Latihan dan pemulihan jangka panjang. BINUS Malang menyebut perlunya simulasi krisis berulang (crisis drill) dan pemulihan citra lewat SEO, karena krisis yang sudah lewat sering meninggalkan jejak digital negatif di mesin pencari. Kesadaran ini juga mulai tumbuh di institusi pendidikan. Universitas Airlangga, misalnya, menggelar Pelatihan Manajemen Krisis 2026 untuk memperkuat ketangguhan institusi dalam menangani isu dan reputasi.

5 Strategi Komunikasi Krisis yang Wajib Dikuasai Praktisi PR Masa Depan +2

Penutup

Komunikasi krisis pada dasarnya soal kepercayaan. Di era ketika setiap orang bisa jadi “media”, perusahaan tidak bisa lagi mengontrol narasi sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah bersiap, merespons dengan jujur dan empatik, dan konsisten menjaga kepercayaan publik. Seperti dirangkum RRI, krisis juga bisa menjadi peluang untuk menunjukkan profesionalisme dan tanggung jawab.