Konten dari Pengguna

Dari Sanksi Ekonomi Hingga Sabotase Pipa Nord Stream: De-Industrialisasi Eropa

Pradipta Prayoga Nugraha

Pradipta Prayoga Nugraha

Mahasiswa S-2 Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pradipta Prayoga Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan

<a href="https://www.vecteezy.com/free-photos/achievement">Achievement Stock photos by Vecteezy</a>
zoom-in-whitePerbesar
<a href="https://www.vecteezy.com/free-photos/achievement">Achievement Stock photos by Vecteezy</a>

Ketika Rusia melakukan invasi terhadap Ukraina pada bulan Februari 2022, seluruh dunia melakukan kecaman kepada Rusia. Negara-negara Eropa beserta Amerika Serikat dan berbagai organisasi lainnya menerapkan berbagai macam sanksi mulai dari pemutusan hubungan dagang, pembekuan aset, hingga larangan mengikuti kegiatan internasional. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia bertujuan untuk mengisolasi dan menekan Rusia agar menghentikan agresinya kepada Ukraina. Namun sanksi yang diberlakukan ternyata menjadi bumerang bagi negara-negara Eropa, terutama di sektor energi dan industri. Hal ini diperparah ketika pipa Nordstream, pipa yang berperan sebagai jalur pasokan gas dari Rusia ke Eropa, disabotase pada akhir September 2022. Diberlakukannya sanksi ekonomi dan sabotase jalur pasok gas memicu fenomena de-industrialisasi, dimana harga energi yang melonjak membuat biaya operasional industri melonjak dan menurunkan aktivitas industri. Artikel ini akan membahas fenomena de-industrialisasi, dan bagaimana sanksi ekonomi dan geopolitik dapat mempercepat fenomena tersebut.

De-Industrialisasi dan Dampaknya

<a href="https://www.vecteezy.com/free-photos/factory">Factory Stock photos by Vecteezy</a>

Fenomena deindustrialisasi adalah fenomena penurunan atau pergeseran aktivitas industri dalam suatu negara atau wilayah yang ditandai dengan menurunnya kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Fenomena ini dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya:

  1. Kemajuan Teknologi dan Otomatisasi: Meningkatnya teknologi termasuk AI membuat otomasi pekerjaan semakin mudah. Pekerjaan yang awalnya harus dikerjakan oleh beberapa orang sekarang dapat dikerjakan dengan hanya dengan 1 mesin. Hal ini membuat jumlah pekerja di sektor manufaktur berkurang.

  2. Pergeseran ke Ekonomi Berbasis Jasa: Dengan kehadiran teknologi yang memudahkan otomasi pekerjaan, masyarakat akan beralih mencari pekerjaan yang lebih stabil dan tidak mudah untuk digantikan oleh teknologi, yaitu pekerjaan berbasis jasa seperti jasa keuangan maupun layanan kesehatan.

  3. Biaya Produksi: Biaya produksi yang tinggi dapat membuat perusahaan manufaktur tidak dapat meneruskan operasionalnya. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan menutup atau mengurangi produksi agar dapat perusahaan dapat tetap hidup.

  4. Globalisasi dan Relokasi Industri: Terbukanya perdagangan global dan biaya produksi yang berbeda-beda di setiap negara membuat perusahaan akan menempatkan lokasi industri di negara-negara dengan biaya tenaga kerja yang rendah untuk mengurangi biaya produksi. Dengan begitu perusahaan dengan biaya produksi yang tinggi akan kurang diminati sebagai lokasi produksi, yang artinya negara tersebut akan mengalami de-industrialisasi.

sumber: iStock

Fenomena deindustrialisasi ini tentunya membawa dampak bagi perekonomian, tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat. Dampak dari deindustrialisasi diantaranya:

  1. Penurunan Lapangan Kerja di Sektor Manufaktur: Penurunan aktivitas industri manufaktur menyebabkan hilangnya pekerjaan di sektor manufaktur. Hal ini menyebabkan banyaknya pengangguran bagi para pekerja di sektor manufaktur.

  2. Meningkatnya Ketimpangan Pendapatan: Sektor jasa dan teknologi biasanya diidentikan dengan pendapatan tinggi yang membutuhkan pendidikan lebih lanjut, sedangkan para pekerja di sektor manufaktur diidentikan dengan pekerjaan dengan keterampilan rendah. Menurunnya aktivitas industri dapat menyebabkan berkurangnya pendapatan dari sektor manufaktur yang menghasilkan ketimpangan pendapatan yang besar antara sektor lain.

  3. Dampak Sosial dan Ekonomi di Daerah Industri: Menurunnya pendapatan dan meningkatnya pengangguran di daerah industri akan melemahkan aktivitas ekonomi di area tersebut, sehingga pendapatan sektor lain dapat menurun dan dapat meningkatkan pengangguran.

  4. Penurunan Daya Saing Ekonomi: Industri manufaktur sering kali dianggap sebagai tulang punggung perekonomian suatu negara. Dengan mempekerjakan banyak orang, memberikan nilai tambah, dan memberikan ekspor bagi negara, apabila sektor manufaktor mengalami penurunan maka ketergantungan impor pada suatu negara dapat meningkat yang akan menurunkan daya saing suatu negara.

  5. Neraca Perdagangan yang Negatif: Ketika suatu negara mengurangi produksi industri dalam negerinya, negara akan melakukan impor barang untuk memenuhi permintaan domestik. Hal ini dapat menyebabkan defisit perdagangan dan meningkatkan ketergantungan pada negara lain.

  6. Krisis Ekonomi: Dengan daya saing yang menurun dan ketergantungan pada negara lain, negara dapat lebih rentan terhadap guncangan ekonomi global yang akan menyebabkan krisis ekonomi dalam negeri.

Sanksi Ekonomi dan Awal De-Industrialisasi

Photo by Mathias Reding: https://www.pexels.com/photo/protesters-on-the-street-11421036/

Sanksi ekonomi merupakan instrumen politik yang diterapkan suatu negara atau organisasi untuk mempengaruhi kebijakan individu, organisasi, atau negara lain tanpa menggunakan kekuatan militer. Sanksi ekonomi sudah banyak diterapkan oleh berbagai negara, termasuk Uni Eropa (EU). Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Uni Eropa telah memberlakukan 14 paket sanksi ekonomi terhadap Rusia, diantaranya:

  1. Pembatasan Perdagangan: Uni Eropa melarang impor berbagai komoditas dari Rusia yang mencangkup batu bara, baja, produk minyak bumi, maupun produk-produk energi seperti gas alam cair. Uni Eropa juga melarang ekspor barang-barang teknologi ke Rusia untuk mencegah penggunaan barang-barang teknologi dalam perang.

  2. Sanksi Finansial: Uni Eropa menerapkan sanksi finansial berupa pembekuan aset Rusia di negara-negara Uni Eropa dan pembatasan akses bank-bank Rusia terhadap pendanaan dari Uni Eropa lebih dari 70%. Uni Eropa juga mengeluarkan Rusia dari akses terhadap teknologi-teknologi perbankan, terutama sistem perbankan SWIFT.

  3. Pembatasan Transportasi: Uni Eropa juga menerapkan pembatasan penggunaan perjalanan baik dari udara maupun laut, kecuali untuk bantuan kemanusiaan.

sumber: iStock

Sanksi ekonomi ini seharusnya menekan dan melumpuhkan ekonomi Rusia. Namun kenyataannya saksi ekonomi ini juga berdampak negatif bagi perekonomian di Uni Eropa, diantaranya:

  1. Kenaikan Harga Energi: Rusia merupakan pemasok utama gas alam bagi negara-negara di Eropa. Dengan memberlakukan sanksi pembatasan perdagangan terutama di sektor energi, harga gas alam cair meningkat dari 84 Euro per MWH pada bulan Februari 2022 menjadi 169,786 Euro per MWH pada Agustus tahun 2022. Kenaikan harga energi juga mendorong kenaikan harga sumber energi yang lain seperti batu bara. Menurut kementrian ESDM Indonesia, harga batu bara acuan (HBA) pada Januari 2022 berada di level USD158,50/ton dan terus meningkat hingga menjadi USD321,59/ton.

  2. Inflasi Harga Konsumen: Kenaikan harga energi menyebabkan inflasi berantai pada negara-negara Eropa. Berdasarkan data eurostat, pada akhir bulan Agustus 2022 inflasi harga konsumen di 19 negara yang menggunakan mata uang Euro mencapai 9,1%, tertinggi semenjak mata uang Euro diluncurkan pada tahun 1999.

  3. Penurunan Produksi Industri: Selain menimbulkan inflasi harga konsumen, kenaikan harga energi juga menyebabkan meningkatnya biaya produksi. Akibatnya beberapa industri harus memangkas produksi tahunannya. Beberapa contoh dampak akibat kenaikan harga energi, diantaranya adalah BASF FE di Jerman. Kenaikan harga gas alam yang merupakan bahan baku utama menyebabkan kenaikan biaya produksi sehingga perusahaan mengurangi produksi amonia dan mengurangi operasional di beberapa pabrik lainnya. Oleh sebab itu pada akhir Q3 2022, walaupun BASF FE mencatatakan peningkatan sales sebesar 11,6%, pendapatan BASF FE karena operasional berkurang 29% dari tahun yang sama. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tapi juga perusahaan-perusahaan kecil. Di Italia, 120 ribu usaha terancam mengalami penutupan karena lonjakan energi, yang apabila terjadi akan menghilangkan 370 ribu pekerjaan.

  4. Defisit Neraca Perdagangan: Pembatasan perdagangan dengan Rusia diikuti dengan kenaikan harga energi meningkatkan defisit perdagangan negara-negara Eropa. Di Prancis misalnya, pada September 2022 mencatatkan defisit perdagangan paling rendah sepanjang 2022 dengan defisit sebesar -16,6 Miliar Euro.

Sabotase Pipa Nordstream: Musuh dalam Selimut

sumber: iStock

Pada September 2022, pipa Nordstream, pipa yang menjadi jalur utama distribusi gas dari Rusia ke negara-negara Eropa tidak berfungsi. Banyak spekulasi yang menyatakan bahwa tidak berfungsinya pipa Nordstream bukan merupakan malfungsi, tapi merupakan sabotase dari pihak ke-3. Pada awalnya Rusia dituduh melakukan sabotase tersebut dengan tujuan melemahkan ekonomi Uni Eropa. Namun penyelidikan terbaru pada tahun 2023 dan 2024 memperlihatkan bahwa sabotase dilakukan oleh Ukraina dengan dugaan keterlibatan Amerika Serikat dan CIA. Sabotase yang dilakukan Ukraina kepada sekutunya bagaikan musuh dalam selimut, memperburuk krisis yang ada di Eropa dengan meningkatkan Harga gas di Title Transfer Facility (TTF) Belanda meningkat dari 169,786 Euro per MWH menjadi 233,676 Euro per MWH yang artinya terdapat kenaikan 37% sebelum insiden.

Untuk mengatasi dampak dari kenaikan energi, negara-negara Uni Eropa telah berusaha mengambil langkah-langkah mitigasi, diantaranya melakukan diversifikasi sumber energi dengan mencari sumber-sumber energi alternatif seperti energi terbarukan, maupun impor energi. Salah satu penyumbang terbesar gas cair ke Uni Eropa adalah Amerika Serikat yang merupakan salah satu pihak yang diduga terlibat dalam sabotase pipa Nordstream. Selain itu India juga berperan dalam memasok energi dengan membeli gas dari Rusia dengan harga diskon kemudian menjualnya lagi ke Eropa. Insiden ini mengungkapkan betapa besar resiko geopolitik yang dihadapi oleh Uni Eropa dalam hal ketergantungan energi.

Kesimpulan

Dari sanksi ekonomi hingga insiden sabotase pipa Nordstream, Eropa menghadapi tantangan percepatan proses deindustrialisasi. Sanksi yang awalnya ditujukan untuk menekan ekonomi Rusia justru malah berbalik menekan ekonomi negara-negara Eropa terutama di sektor industri manufaktur. Sabotase pipa Nordstream yang berperan sebagai jalur distribusi utama gas untuk Eropa menambah ketidakstabilan pasokan energi, memaksa negara-negara Eropa membeli energi dari negara lain dengan harga yang lebih mahal.

Dari kasus ini kita belajar betapa pentingnya diversifikasi energi dan ketahanan infrastruktur energi. Ketergantungan pada satu sumber energi memberikan risiko geopolitik yang membuat negara harus bijak dalam mengambil langkah-langkah geopolitik. Infrastruktur energi yang kuat akan memberikan rasa aman kepada investor maupun pihak-pihak terkait untuk menginvestasikan maupun membuat industri di negara tersebut.

Referensi

Rowthorn, R., & Ramaswamy, R. (1997). "Deindustrialization - Its Causes and Implications." IMF Economic Issues Series, International Monetary Fund.

Council on Foreign Relations. (2023). What are economic sanctions? Diakses dari https://www.cfr.org/backgrounder/what-are-economic-sanctions

European Commission. (2023). Sanctions adopted following Russia's military aggression against Ukraine. Diakses dari https://finance.ec.europa.eu/eu-and-world/sanctions-restrictive-measures/sanctions-adopted-following-russias-military-aggression-against-ukraine_en#timeline-measures-adopted-in-2022-2023

IDX Channel. (2022). Inflasi Eropa Capai 9,1 Persen Akibat Harga Energi dan Pangan Melonjak. Diakses dari https://www.idxchannel.com/market-news/inflasi-eropa-capai-91-persen-akibat-harga-energi-dan-pangan-melonjak

CNBC Indonesia. (2022). Krisis Energi Eropa, Ribuan Perusahaan Terancam Gulung Tikar. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20220929205642-4-376099/krisis-energi-eropa-ribuan-perusahaan-terancam-gulung-tikar

BASF SE. (2022). Laporan Keuangan Triwulan Ketiga Tahun 2022. Diakses dari https://report.basf.com.

Trading Economics. (2023). France Balance of Trade. Diakses dari https://id.tradingeconomics.com/france/balance-of-trade

Bisnis.com. (2022). Pipa Gas Nord Stream 2 Bocor, Jerman Tuduh Rusia Lakukan Sabotase. Diakses dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20220928/620/1582014/pipa-gas-nord-stream-2-bocor-jerman-tuduh-rusia-lakukan-sabotase

Antara News. (2023). WSJ: CIA Sudah Minta Agar Operasi Sabotase Nord Stream Dihentikan. Diakses dari https://www.antaranews.com/berita/4263739/wsj-cia-sudah-minta-agar-operasi-sabotase-nord-stream-dihentikan

CNBC Indonesia. (2024). Bukan Rusia, Ini Dalang Sabotase Pipa Gas Nord Stream Bawa Malapetaka. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20240816053302-4-563439/bukan-rusia-ini-dalang-sabotase-pipa-gas-nord-stream-bawa-malapetaka

VOA Indonesia. (2023). Intelijen AS Lihat Kelompok Pro-Ukraina di Balik Sabotase Pipa Gas Nord Stream. Diakses dari https://www.voaindonesia.com/a/intelijen-as-lihat-kelompok-pro-ukraina-di-balik-sabotase-pipa-gas-nord-stream-/6995317.html

Protergia. (2023). TTF Prices per Month - Natural Gas. Diakses dari https://www.protergia.gr/en/home/natural-gas/ttf-prices-per-month/

DW Indonesia. (2024). Krisis VW: Gambaran Tantangan Perekonomian Jerman Masa Kini. Diakses dari https://www.dw.com/id/krisis-vw-gambaran-tantangan-perekonomian-jerman-masa-kini/a-70198903

Bisnis.com. (2022). Dibayangi Krisis Energi, VW Tunda Bangun Pabrik Baterai di Eropa Timur. Diakses dari https://otomotif.bisnis.com/read/20221214/46/1608439/dibayangi-krisis-energi-vw-tunda-bangun-pabrik-baterai-di-eropa-timur

DW Indonesia. (2024). VW Dilanda Krisis. Diakses dari https://www.dw.com/id/vw-dilanda-krisis/a-70141800

CNBC Indonesia. (2022). Bye Rusia, Ini Sederet Opsi Pasokan Gas untuk Eropa. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20221020182701-4-381391/bye-rusia-ini-sederet-opsi-pasokan-gas-untuk-eropa

CNBC Indonesia. (2022). AS Cuan Gede, Kapal Tanker Antre Kirim Gas ke Eropa. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20221027164351-4-383043/as-cuan-gede-kapal-tanker-antre-kirim-gas-ke-eropa

CNBC Indonesia. (2023). Terungkap! India Borong Minyak Rusia, Dijual Lagi ke Eropa. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20230331165239-4-426301/terungkap-india-borong-minyak-rusia-dijual-lagi-ke-eropa