Mengabdi Tanpa Digaji: Cerita Iin Berbagi Ilmu di Sekolah Anak Jalanan

Mentari pagi mengantar ramai langkah kaki mungil mengarah ke Sekolah Alternatif Anak Jalanan (Saaja), Jakarta Selatan. Bocah-bocah TK itu ingin menimba ilmu di sana.
Di dalam ruang belajar sederhana itu, Kristina Iin Dwiyanti sudah menanti. Wanita yang kerap disapa Iin itu ingin berbagi ilmunya kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Bukan hanya mengajar, ia juga menjadi kepala sekolah yang ikut mengurus keberlangsungan kegiatan Saaja. Ia sudah bergabung di sekolah tersebut sejak 1999, ketika masih menjadi relawan dan mendampingi almarhum Farid Faqih, pendiri Saaja.
“Saya di Saaja ini dari tahun '99 sebenarnya. Jadi sebelum Saaja itu lahir saya udah ada,” kata Iin saat ditemui, Selasa (11/8).
“Ini adalah sebuah amanah dari almarhum. Bagaimanapun kondisinya Saaja harus tetap berjalan karena memang masih ada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Lahir dari Keprihatinan
Saaja lahir dari keprihatinan terhadap anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan. Sebelum Saaja berdiri, Farid Faqih bersama para relawan menjalankan kegiatan sosial melalui Lembaga Swadaya Masyarakat Pangan untuk Rakyat Miskin. Salah satu kegiatannya adalah mendistribusikan bantuan pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak anak yang tidak bersekolah. Iin menceritakan, saat itu sebagian anak masih harus ikut membantu orang tua mencari penghasilan. Kondisi tersebut membuat Farid berpikir tentang masa depan anak-anak itu jika mereka tidak mendapatkan pendidikan.
“Beliau memberikan tantangan ke teman-teman relawan, kalian bisa bayangkan nggak 20, 30 tahun ke depan bagaimana nasib anak-anak ini kalau mereka tidak mendapatkan pendidikan. Setidaknya mereka hanya bisa baca tulis aja,” tutur Iin.
Dari sana, kegiatan belajar mulai dilakukan. Awalnya hanya sekitar tiga hingga lima anak yang berkumpul. Anak-anak tersebut tetap membantu orang tua mereka, kemudian mengikuti kegiatan belajar setelahnya.
“Jadi kita ajarkan baca tulis, mengenal huruf itu. Tapi setelah mereka membantu orang tuanya. Jadi mereka tetap jualan, ngelap-ngelap kaca kendaraan. Mereka tetaplah membantu orang tuanya, sorenya baru belajar sama kita,” kata Iin.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi Saaja. Saat ini, Saaja fokus memberikan pendidikan bagi anak usia dini atau setingkat TK dari keluarga prasejahtera dan anak-anak yang rentan berada di jalanan.
Mengajar di Tengah Keterbatasan
Di Saaja, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti sekolah TK pada umumnya. Iin mengatakan materi yang diberikan kepada anak-anak juga mengikuti pembelajaran TK pada umumnya, mulai dari bahasa, kognitif, keterampilan hingga kreativitas.
“Kalau untuk kurikulum materi, dan materi yang kami berikan sama seperti TK pada umumnya. Jadi ada tema tentang diri sendiri, keluargaku, lingkunganku. Nah dari tema-tema itu kita jabarkan tentang bahasanya, kognitifnya, kemudian keterampilannya, kreativitasnya,” kata Iin.
Untuk anak TK B, pembelajaran kemudian diarahkan untuk mempersiapkan mereka memasuki jenjang sekolah dasar.
"Jadi kalau untuk TK B-nya lebih kepada persiapan masuk SD," ujarnya.
Namun, menjalankan kegiatan belajar di Saaja bukan tanpa tantangan. Setiap anak datang dengan kondisi dan karakter yang berbeda. Ada anak yang mudah mengikuti pelajaran, tetapi ada pula yang mengantuk atau sulit berkonsentrasi.
Iin mengatakan guru tidak bisa memaksakan anak untuk terus mengikuti pelajaran ketika mereka sedang kehilangan semangat.
“Kalau misalkan kayak Vero tadi memang agak susah ya ininya. Ya mau nggak mau juga nggak mungkin kita paksa ataupun kita tekan terus gitu karena balik lagi pasti akan ada rasa trauma sama anak itu sendiri,” ujarnya.
Karena itu, guru mencoba mencari cara agar anak kembali tertarik mengikuti kegiatan. Menurut Iin, tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membangun konsentrasi dan semangat anak.
“Jadi alhamdulillahnya kalau untuk Farel ketika kita berikan tugas dan kita pindah tempat duduknya, dia semangat,” kata Iin.
Tidak Ada Gaji Tetap
Di balik kegiatan belajar yang terus berjalan, Saaja juga menghadapi keterbatasan dalam pembiayaan. Iin mengatakan para guru tidak menerima gaji tetap.
Sejak awal hingga sekarang, para pengajar tidak mendapatkan gaji. Jika terdapat dana yang memungkinkan, mereka hanya mendapatkan pengganti biaya transportasi.
“Iya, dari awal sampai sekarang,” ujarnya.
Meski begitu, kegiatan belajar tetap berlangsung. Setiap hari, guru datang untuk mengajar anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Mereka menggunakan fasilitas yang tersedia dan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi anak.
Bagi Iin, keberadaan Saaja tetap penting karena masih ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan.
"Bagaimana pun kondisinya Saaja harus tetap berjalan karena memang masih ada masyarakat yang membutuhkan,” kata Iin.
Melihat Perkembangan Anak
Alasan Iin bertahan juga tidak terlepas dari perubahan yang ia lihat pada anak-anak. Ia melihat anak-anak yang datang ke Saaja perlahan mulai mengenal pelajaran dasar dan membangun kepercayaan dirinya.
“Kalau kita sudah ada di tengah anak-anak kemudian memberikan sedikit aja ilmu kemudian istilahnya bisa diterapkan sama mereka tuh sesuatu yang luar biasa,” kata Iin.
Menurutnya, pendidikan pada usia dini juga penting karena menjadi dasar bagi perkembangan anak.
“Terlebih ini anak-anak usia dini yang memang bener-bener bagaimana kita bisa ngebentuk dasar karakter mereka. Jadi kita bener-bener bagaimana pondasi membuat pondasi mereka ini menjadi kuat,” ujarnya.
Bagi Iin, pengalaman melihat perubahan anak-anak menjadi bagian dari alasan dirinya tetap berada di Saaja.
Ia mengatakan keinginannya untuk membantu masyarakat sebenarnya sederhana. Ia tidak memiliki banyak hal untuk diberikan, tetapi memiliki waktu dan tenaga.
“Saya hanya punya waktu sama tenaga dan kebetulan ada wadahnya,” kata Iin.
Waktu dan tenaga itu kemudian ia gunakan untuk mengajar, mendampingi anak, sekaligus memastikan kegiatan Saaja tetap berjalan.
