Wamenkes: Kasus TBC Turun Jadi 1,08 Juta, tapi RI Masih Nomor 2 Dunia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menyimpan sample dahak saat program skrining tuberkulosis (TBC) di SMK YP IPPI Petojo, Jakarta, Rabu (29/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyimpan sample dahak saat program skrining tuberkulosis (TBC) di SMK YP IPPI Petojo, Jakarta, Rabu (29/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut estimasi kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia turun sekitar 10 ribu kasus, dari sekitar 1,09 juta menjadi 1,08 juta orang pada 2026.

Meski turun, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia setelah India.

"Berita tidak baiknya adalah bahwa kita sekarang nomor 2 di seluruh dunia setelah India angka tuberkulosisnya," kata Dante dalam konferensi pers Update PHTC/Program Prioritas serta Capaian dan Transformasi Layanan Kesehatan Nasional di Gedung Kantor Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).

"Angka tuberkulosis yang ada sekarang itu sekitar 1.090.000 jiwa di seluruh Indonesia. Tapi di tahun 2026 sudah mulai menurun jadi 1.080.000 orang," ujarnya.

Dante menyebut, penurunan itu terjadi seiring kegiatan identifikasi dan pengobatan TBC yang dilakukan secara masif.

"Kelihatannya ada penurunan sekitar 10.000. Ini karena kegiatan identifikasi masif dan pengobatan masif yang sudah kita lakukan di seluruh provinsi di Indonesia," kata Dante.

Menurut Dante, pemerintah menjalankan tiga langkah utama dalam penanganan TBC, yakni menghitung estimasi kasus, mengidentifikasi kasus, dan mengobati pasien.

"Dan kita lakukan tiga hal yang paling penting, yaitu melakukan estimasi kasus, menghitung estimasi kasus yang ada, kemudian melakukan identifikasi kasus, dan melakukan pengobatan kasus," lanjutnya.

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono saat menghadiri Kick-off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 di SDN Menteng 01, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Foto: Kemenkes RI

Kunci di Skrining

Dante menilai skrining menjadi kunci dalam mengidentifikasi kasus TBC.

"Yang paling penting adalah skriningnya. Skrining diidentifikasi yang tadinya enggak ada gejala jadi gejala," ujar Dante.

Skrining TBC dilakukan di puskesmas, Cek Kesehatan Gratis (CKG) komunitas, CKG swasta, serta layanan one stop service. Layanan satu pintu itu mencakup pemeriksaan rontgen dan dahak, dan disediakan di wilayah dengan kasus tinggi.

"Skriningnya dilakukan di puskesmas, di CKG komunitas, di CKG swasta, dan di one stop service. One stop service-nya itu ada testing rontgen, pemeriksaan dahak, dan di satu pintu di seluruh di tempat-tempat tertentu yang kita anggap sebagai kasusnya tinggi," kata Dante.

video from internal kumparan

Terapi Pencegahan untuk Kontak Serumah

Pemerintah juga menjalankan investigasi kontak terintegrasi atau Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Langkah ini bertujuan mencegah orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC ikut tertular.

"Yang pertama adalah investigasi kontak terintegrasi atau TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis). Yang satu rumah itu harus mendapatkan terapi pencegahan selama 3 bulan supaya tidak terkena kasus tuberkulosis," jelasnya.

Dante menyebut langkah itu turut berkontribusi pada turunnya estimasi TBC versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Setelah kita melakukan TPT dalam waktu 1 tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, yang tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000," tutupnya.