Konten dari Pengguna

Mengais Rejeki di Queen Victoria Market

Prakoso Wicaksono

Prakoso Wicaksono

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prakoso Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah anda mendengar seorang pejabat negeri dulunya adalah mantan kuli pasar di luar negeri? Atau mungkin pernah membaca banyaknya mahasiswa yang bekerja di suatu pasar di Melbourne? Itu adalah kehidupan mahasiswa mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Melbourne.

Queen Victoria Market menjadi saksi bisu tempat mengais rezeki bagi para pelajar yang berkuliah di negeri kanguru. Itu pula yang menjadi pengalaman pribadi selama dua tahun berkuliah di University of Melbourne. Pekerjaan ini memang yang paling diminati oleh para pelajar Indonesia. Selain banyaknya lowongan yang tersedia, pekerjaan set-up/pack-up toko adalah salah satu yang diminati karena mudah dipelajari dan lokasi Queen Victoria Market yang sangat mudah dijangkau karena berada tepat di tengah kota Melbourne.

Pasar yang berdiri pada tahun 1860 merupakan obyek wisata yang tidak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan domestik dan internasional. Menurut harian Herald Sun, jumlah wisatawan yang mengunjungi Queen Victoria Market pada tahun 2017 sebanyak 575.000 orang. Setengah dari jumlah tersebut merupakan wisatawan asing khususnya dari negara-negara Asia. Maka sangat tidak mengherankan bila pernah dengar cerita dari kerabat atau saudara yang bisa nawar beli oleh-oleh dalam Bahasa Indonesia.

Walaupun pekerjaan set-up/pack-up banyak diminati oleh para pelajar Indonesia, namun pekerjaan ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Setiap pagi sebelum jam 6, para pelajar sudah harus berada di pasar dan memulai pekerjaan menyusun letak toko di tempat yang sudah ditentukan.

Sebagai informasi, Queen Victoria Market dibagi dua bagian, yang pertama adalah pasar makanan dan yang kedua adalah pasar barang/suvenir. Khusus untuk pasar barang/suvenir, bentuk pasar adalah knock down dan posisi letak jualan setiap harinya berubah, kecuali pada hari Senin dan Rabu dimana pasar libur.

Kemudian pada jam 3 kembali menutup toko untuk hari berikutnya. Rata-rata proses buka tutup toko menghabiskan waktu sekitar dua jam, namun kalau sudah mulai terbiasa hanya membutuhkan 45 menit. Bahkan ada yang saking cepatnya dalam dua jam bisa membuka dua toko sekaligus.

Toko-toko yang biasa menjadi tempat bekerja pelajar Indonesia biasanya toko suvenir handicraft dan toko oleh-oleh kaos. Gaji yang diterima bervariasi namun rata-rata yang di dapat untuk sekali set-up/pack-up toko biasanya 15 dolar per jam. Apabila jumlah tersebut dihitung berarti dalam seminggu seorang bisa mendapatkan kurang lebih 150 dolar atau sekitar Rp. 1.600.000., jumlah yang cukup untuk menambah uang saku.

Bekerja paruh waktu di Melbourne memang bukan suatu keharusan. Apalagi bagi mereka yang masih lajang, beasiswa yang didapat dari para sponsor biasanya cukup untuk biaya hidup seorang diri. Namun bagi mereka yang membawa keluarga bekerja paruh waktu merupakan suatu keharusan. Maka tidak mengherankan kalau banyak pasangan pelajar suami/istri yang saling bekerja di pasar Queen Victoria Market. Biasanya suami bertugas set-up/pack-up dan sang istri bertugas jaga dan berjualan di toko tersebut. Tambahan dari bekerja paruh waktu biasanya cukup untuk para keluarga pelajar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Walaupun gaji yang didapatkan dari pekerjaan paruh waktu di Queen Victoria Market hanya sekedar tambahan beasiswa namun bagi para pelajar termasuk kami itu bukanlah masalah besar. Kesempatan berinteraksi dengan masyarakat Australia dan wisatawan asing mancanegara semakin membuka wawasan. Bila dipikir pekerjaan set-up/pack-up tiap hari adalah pekerjaan yang sangat melelahkan namun pengalaman yang diperoleh dari sekedar chit chat atau berinteraksi dengan orang-orang di Queen Victoria Market sangatlah berharga.