Hangat di Hati yang Membuat Saya #Percayakumparan dan Ada di Sini

Ibu penuh waktu untuk 2 orang gadis kecil yang juga bekerja sebagai Chief of Mom - kumparanMOM
Tulisan dari Prameshwari Sugiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau tidak ada pesan WhatsApp dari Ine Yordenaya pada suatu petang sekitar setahun yang lalu, entah hari ini saya ada di mana.
Yang paling mungkin sih, ada di Cibitung. Di bawah teriknya sinar matahari Bekasi, meratapi kemacetan di sekitar area industri. Karena memang, tinggal selangkah lagi saya menandatangani kontrak kerja dari satu perusahaan besar di sana.
Kontrak kerja itu memang besar nilainya bagi saya. Bahkan bisa dibilang, sangat menggiurkan. Tapi ajakan “Ngobrol-ngobrol, yuk!” dari satu-satunya wanita di deretan pendiri sekaligus direksi kumparan ini entah kenapa lebih menarik hati.
Yang terjadi selanjutnya pun, memang banyak kaitannya dengan hati.
Sejak turun dari mobil, melangkahkan kaki melalui taman hijau, menangkap mata penuh semangat dan senyum ramah dari beberapa wajah anak muda yang sebenarnya tidak mengenal saya, hingga ngobrol berjam-jam dengan Ine di pinggir kolam renang kantor kumparan. Ada yang hangat di hati ini. Hangat yang saya cari.

Jangan salah sangka dulu kalau saya menyebut-nyebut soal hati. Saya bukan tipe orang romantis. Setidaknya, saya tidak merasa begitu. Ini soal hati yang lain.
Hati yang sering kali lebih saya percaya dari akal. Hati yang kerap saya sapa setiap malam sebelum terpejam. Untuk bertanya pada diri sendiri; sudah ke mana dan berbuat apa saja saya hari ini? Hendak ke mana dan bisa berbuat apa saya esok nanti? Hati nurani.
Saat akal menilai kumparan masih begitu muda, hati mengajak saya untuk melihat sisi-sisi lain yang jauh lebih bernilai dan ingin saya jaga.
Saat akal menimbang nama kumparan belum besar dibanding perusahaan tempat saya bekerja selama 15 tahun sebelumnya, hati menegur bahwa justru di sini saya bisa banyak belajar sekaligus membuat perubahan.
Saat akal mengusik bukan seperti ini media yang selama ini saya kenal, hati berbisik tak seharusnya kita terlena dengan apa yang sudah biasa tapi tak lagi sesuai dengan zaman.

Beberapa hari setelah saya bergabung, kumparan merayakan ulang tahun pertamanya. Digelarlah sebuah pesta yang tak mewah tapi begitu meriah.
Sebagai anak baru, saya seperti ‘kejar target’ untuk bisa mengenal sebanyak mungkin orang di pesta itu. Termasuk, beberapa direksi yang wajahnya belum saya kenali dan pastinya juga belum mengenal saya.
Andrias Ekoyuono, salah seorang direksi yang belum saya kenal, mondar-mandir di area samping panggung, tertawa menikmati pesta bersama jurnalis-jurnalis muda.
Beberapa kali, Hugo Diba, CEO kumparan, ikut berdiri di dekatnya. Gaya sang CEO ini biasa saja. Santai, bersahaja, tidak sedikit pun berusaha kelihatan menonjol di tengah pesta. Bentuk matanya sayu di balik kacamata, tapi tertangkap jelas ada sorot bangga saat ia menatap karyawan-karyawannya hadir di sana. Senyumnya lebar, menebar keyakinan kalau kita bisa terus bertumbuh dan berkembang sama-sama.
Lalu tiba saat Arifin Asydhad, Pemimpin Redaksi kumparan, naik ke atas panggung. Saya mendengarkan dengan saksama, ingin betul-betul menyimaknya. Pasalnya--sebagai mantan jurnalis media gaya hidup wanita--ada rasa cemas kalau-kalau saya tidak akan bisa ‘nyambung’ dengannya.
Di luar dugaan saya, kalimat-kalimat Mas Asydhad pada malam itu ternyata tidak sekadar mampu mengusir rasa cemas saya. Kurang lebih, begini Mas Asydhad berkata, “Banyak yang bilang, nama kumparan itu diambil dari singkatan: Kumpulan Para Mantan.”
Saya tersentil! Merasa saya adalah salah satu mantan yang ia maksud. Hati ini sontak mengerut.
Tanpa memberi waktu untuk saya baper berkepanjangan, ia melanjutkan, “Tapi itu tidak benar. Yang benar, nama kumparan diambil dari singkatan: Kumpulan Pemikiran! Karena kumpulan pemikiran dari setiap orang lah yang saat ini kita butuhkan untuk bisa menggerakkan. Menjadi media baru, yang menggerakkan!”
Mendengarnya, segera rasa hangat itu datang lagi. Hangat di hati yang saya cari, penyebab setitik air hadir di ujung mata ini.
Alhamdulillah, betapa saya bersyukur pada yang Maha Membawa Cerah. Meski baru bergabung beberapa hari, tahun lalu tangga 17 Januari, saya sudah merasa menemukan rumah. Rumah dan harapan baru. Kumparan Harapan Baru.

Hingga hari ini, hari di mana ulang tahun kumparan datang lagi, rasa hangat itu tetap ada. Membawa semangat, mencipta percaya, dan menjaga arah setiap langkah saya.
Setiap hari di kumparan dengan bekal hangat di hati, saya berusaha, berbagi dan belajar tanpa henti. Menghargai keberagaman dengan mengumpulkan sebanyak mungkin pikiran, menemukan kebenaran dan menyampaikannya ke seluruh negeri. Karena saya yakin, kompetensi tak akan berarti kalau tanpa hati.
Maka saat seorang sahabat bertanya, “Pilihan kan, banyak, Mesh. Beberapa mungkin bisa lebih enak buat lo jalanin. Kenapa kumparan?”
Tanpa ragu saya menjawab: “Ini masalah hati. Hangat di hati yang membuat saya #percayakumparan dan ada di sini.”
