Rekaman Bencana Gempa Bumi Padang Panjang 1926 dalam Syair 'Gerak Gempa'

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) Komisariat Sumatera Barat.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Pramono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada tanggal 28 Juni 1926, gempa bumi dahsyat mengguncang Padang Panjang pada masa kolonial Belanda, dengan kekuatan mencapai 7,6 skala Richter. Peristiwa tragis ini tidak hanya merenggut banyak nyawa, tetapi juga menyebabkan kerusakan yang luas pada pemukiman penduduk dan lingkungan sekitar.
Gempa bumi tersebut meninggalkan jejak duka mendalam bagi masyarakat yang kehilangan keluarga, teman, dan tempat tinggal. Di tengah keterbatasan teknologi dan bantuan pada masa itu, tragedi ini menjadi salah satu bencana sangat memilukan dalam sejarah Sumatra Barat.
Peristiwa memilukan itu, salah satunya, diabadikan dalam karya sastra berjudul "Syair Gerak Bumi". Karya ini ditulis dalam aksara Jawi dan menggunakan bahasa Melayu-Minangkabau oleh Abdul Mu’in Musa. Syair tersebut diterbitkan oleh Drukkerij Baru Bukittinggi, meskipun tahun penerbitannya tidak diketahui. Pada halaman depan buku ini tertulis:
Syair / Gerak Gempa / yang akan pengajaran bagi sekalian umum laki-laki atau perempuan / tertumpang dalamnya seruan anak-anak dan ada [....] dimuatkan / [.....] laki istri dan orang mati [.....] / dikarang oleh Abdul Mu’in Musa Pasa Nahan Lasi / cetakan yang pertama / dilarang mencetak dengan tidak izin yang punya sudah / sudah diizinkan mencetak selama-lamanya kepada / Datuk Mangolok Basa Kadai Kitab Fort Dekock.
Karya syair ini terdiri atas 234 bait yang mengisahkan berbagai dampak gempa bumi terhadap masyarakat, baik secara fisik maupun emosional. Syair ini dimulai dengan pengantar religius, doa, dan pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad, sebelum beralih ke narasi tentang kejadian gempa bumi yang menghancurkan bangunan, menewaskan banyak orang, dan mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Pada bagian pembukaan disebutkan sebagai berikut ini.
1. Dengan bismillâh permulaan kata / Hamba mengarang suatu cerita / Di dalam hati sangat terhemat / Dawat bercampur air mata.
2. Hamba belum pandai mengarang / Akalpun singkat singkat ilmupun kurang / Serupa hamba laranglah orang / Hina dan miskin sangatlah terang.
…..
13. Wahai segala ibu dan bapa / Taulan sahabat janganlah lupa / Suatu ketika datanglah gempa / Kudrat Allah siapa menyapa.
14. Berlenggang bumi pula diguncangnya / Kerasnya sangat larang bandingnya / Terkejut manusia sekaliannya / Sebab sekarang kejadiannya.
Di dalamnya penuh pesan-pesan moral dan religius, mengingatkan pembaca akan ketidakpastian hidup dan pentingnya bertakwa serta berserah diri kepada Tuhan. Dalam bait-baitnya, penulis juga menyampaikan bahwa gempa bumi merupakan cobaan dari Tuhan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan.
Syair ini mengajak masyarakat untuk merenungi perilaku mereka dan memperbaiki diri dalam menghadapi bencana. Beberapa bait syairnya dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
15. Cobaan Allah Tuhan semata / Berkocak alam gagap gumpita / Akan pengajaran segala kita / Allah menghukumkan sama rasa sama rata.
16. Keadilan jatuh miskin dan kaya / Tokoh lah runtuh apakan daya / Tak dapat lagi daya upaya / Sebab lah sama hina mulia.
17. Dirasanya gempa wa Allâhu a‘lam / Rasakan bumi lolos ke dalam / Sejak dari siang sampailah malam / Berkata pikiran remuk di dalam.
Syair "Gerak Gempa" memiliki relevansi yang mendalam dengan kondisi masa kini, terutama dalam konteks bencana alam yang masih sering terjadi. Syair ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga sebuah pengingat abadi tentang kekuatan alam dan kelemahan manusia di hadapan Sang Penguasa. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu siap dan waspada, serta untuk menghargai setiap momen kehidupan yang kita miliki.
Selain itu, pesan yang disampaikan dalam syair ini relevan dengan upaya modern untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya persiapan dan mitigasi bencana. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah ancaman nyata.
Syair ini mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki rencana tanggap darurat, membangun infrastruktur yang tahan gempa, dan edukasi masyarakat tentang tindakan yang harus diambil sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Syair ini menyoroti penderitaan dan kehilangan yang dialami masyarakat akibat gempa bumi. Pada masa kini, hal ini relevan dengan pentingnya solidaritas sosial dan bantuan kemanusiaan.
Setiap kali bencana alam terjadi, kita sering menyaksikan gelombang dukungan dari berbagai kalangan untuk membantu korban bencana. Nilai-nilai gotong royong dan kepedulian terhadap sesama sangat penting untuk dipertahankan dan diperkuat, sebagaimana yang ditunjukkan dalam syair ini.
Dalam syair ini, pengarangnya menyoroti bagaimana gempa bumi menghancurkan tanpa pandang bulu, meratakan yang kaya dan yang miskin. Ini relevan dengan kesadaran akan ketimpangan sosial yang sering kali diperburuk oleh bencana alam.
Bencana alam seringkali memperlihatkan ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat, di mana kelompok rentan seperti orang miskin, anak-anak, dan lansia lebih terpukul dibandingkan yang lainnya. Syair ini mengajak kita untuk melihat dan mengatasi ketimpangan tersebut dengan adil dan bijaksana.
99. Pergerakan gampo nyatalah terang / serupa ini sangatlah larang / mehabiskan jiwa segala orang / belumlah habis masa sekarang
100. Di Padang Panjang Sumatera Barat / nyawa jo rumah habis melarat / pakunya bumi dirasa erat / kiranya menuju padang akhirat
Karya sastra "Syair Gerak Bumi" berfungsi sebagai arsip emosional dan budaya dari bencana alam. Di dalamnya tersimpan memori kolektif tentang bagaimana sebuah masyarakat mengalami dan mengatasi bencana.
Melalui bahasa dan estetika, syair ini menjaga agar pengalaman dan pelajaran dari masa lalu tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. Dalam konteks akademik, mempelajari karya-karya ini membuka jalan untuk memahami bagaimana budaya dan identitas masyarakat dipengaruhi oleh bencana alam.
Selain berfungsi sebagai dokumentasi sejarah dan sosial, karya sastra tentang bencana alam juga dapat menjadi sumber inspirasi. Mereka menunjukkan bagaimana manusia bisa menemukan makna dan harapan bahkan di tengah kehancuran.
Dalam "Syair Gerak Bumi", meskipun beberapa kata yang tak terbaca karena beberapa bagian kertasnya sobek dan berlubang, ada juga narasi tentang kebangkitan dan pembangunan kembali. Ini mengajarkan kita bahwa setiap bencana membawa peluang untuk memulai kembali, untuk memperbaiki yang rusak, dan untuk memperkuat yang lemah.
