Ibu, Jika Lapar Makanlah Tak Perlu Berbohong

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga
Tulisan dari Pasthiko Pramudhito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sewaktu saya kecil, saya kerap mendengar berbagai kalimat tentang kekuatan seorang yang disebut sebagai ibu, salah satunya adalah yang berhubungan dengan makanan, yang paling sering saya dengar katanya begini “Ibu itu pandai berbohong, ia akan pura-pura kenyang agar anaknya bisa makan sampai dengan tenang”.
Awalnya kalimat tersebut hanya angin lalu saja bagi saya. Toh, Ibu dan saya masih kerap berbagi dan cerita-cerita soal makanan apa yang kami sukai. Jadi pikir saya dengan segala cerita itu, ibu tak mungkin berbohong jika perutnya lapar ia akan tetap memastikan perutnya terisi. Tapi itu pemikiran saya waktu masih bocah yang pikirannya cuman makan doang kali, nggak ada yang lain.
Begitu saya beranjak dewasa, kalimat tentang “Ibu pandai berbohong” kembali teringat di kepala saya. Suatu hari ibu makan di samping saya. Saya yang penasaran dengan makanan apa yang ibu makan, lalu menoleh ke arahnya sambil melihat makanananya, lantas ibu tanpa pikir panjang memberi semua makananya kepada saya sembari berkata jika ia sudah kenyang. Padahal makanan itu masih banyak, mungkin lima sendok pun belum dimakannya, paling baru kuahnya saja yang dicicipi. Kali ini saya berpikir apa kalimat itu memang benar adanya?
Makanan yang kerap ibu beri kepada saya, saya yakin itu pasti makanan kesukaannya. Namun pada akhirnya dia memberikannya kepada saya. Apakah itu merupakan naluri dari seorang Ibu? kebahagian dirinya merupakan nomor kesekian. Lagipula siapa yang mau makanan-makanan favoritnya dimakan lahap sampai habis oleh orang lain. Mungkin Ibu lah orangnya yang rela segala makanan favortinya dimakan sampai habis oleh siapa lagi kalau bukan oleh anaknya. Ibu justru akan menyungginkan senyum di wajahnya, dan menawarkan "Apa mau tambah lagi, Nak?".
Saya jadi teringat kata Sun Deok Sun di Reply 1988 "Ketika seseorang sudah bisa menghibur ibunya, itulah saat dia telah dewasa untuk berkata “Terima kasih” dan “Aku sayang pada ibu”. Saya belum bisa menghibur ibu. Belum bisa membeli makanan-makanan favoritnya, supaya beliau bisa makan dengan tenang. Saya belum sedewasa itu, mau bilang "Ibu jangan lupa makan" saja rasanya canggung, takut terdengar aneh, dan jadinya krik krik selama beberapa detik, dan bingung selanjutnya harus apa? Tapi dibanding hari-hari singkat saya akan dipenuhi rasa penyesalan nantinya. Setidaknya saya sampaikan saja lewat tulisan ini. Terima kasih untuk segala makanan-makanannya, Bun. Makanlah jika lapar, tak perlu bilang sudah kenyang. Itu di meja makan ada ayam goreng dan sayur sup. Mari makan bersama.
