Polisi Selidiki Akun Facebook di Solo yang Diduga Mendukung ISIS

Akun Facebook Aji Kunia Ramdon viral dan menuai kontroversi netizen. Pasalnya, pemilik akun yang diduga merupakan warga Solo, Jawa Tengah, itu kerap kali mengunggah status bernada dukungan terhadap sejumlah aksi teror ISIS.
Pemilik akun menulis sejumlah status kontroversial untuk mengomentari serangan ISIS di Mosul, Irak, hingga pertempuran antara ISIS dan tentara Filipina di Marawi.
"Kami hanya menginginkan tegaknya tauhid di muka bumi ini, yang sudah janji Allah bahwa di akhir zaman akan ditegakkan kembali khilafah sebelum datangnya Imam Mahdi," tulisnya.
Tak hanya aksi teror yang terjadi di luar negeri, tragedi bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur oleh simpatisan ISIS, juga dikomentari si pemilik akun dengan menyebut tragedi tersebut sebagai bom isytihadiyyah atau bom syahid.
Ceracau netizen bernada hujatan dan kemarahan pun membanjiri kolom komentar statusnya.Sebagian netizen bahkan ada yang me-mention akun resmi Facebook kepolisian di antara kalimat komentar mereka.
Selain status-status yang berkaitan dengan penyerangan ISIS, dalam akun itu tertulis juga status yang tak kalah kontroversial terkait kecelakaan dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) oleh TNI di Natuna, Kepulauan Riau.
"Alhamdulillah telah mati 4 anto TNI dalam latihan militer di kepulawan Natuna, semoga dengan matinya 4 anto TNI ini bisa melegahkan hati saudara-saudara kami yang dibunuh di Poso dua hari yang lalu dan hati orang-orang mukmin," tulisnya.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djarod Padakova, mengatakan pihak kepolisian telah menyelidiki sosok di balik akun Facebook tersebut.
"Hingga saat ini masih diselidiki oleh kita, belum bisa beri keterangan detail karena proses belum selesai," ujar Djarod kepada kumparan (kumparan.com), Senin (30/5).
Di bagian biodata akun tersebut tertulis bahwa Aji Kunia Ramdon adalah alumni Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), jurusan Pendidikan Olahraga Kesehatan (JPOK).
"Itu (identitas) yang beredar, kepastiannya masih diselediki lebih lanjut dengan berbekal laporan warga dan juga tim kita ada yang menyelidiki via media sosial," ujar Djarot.
