Konten dari Pengguna

Kembali ke Alam: Menemukan Makna, Menepati Janji di Bukit Panisan

Prasetiawan

Prasetiawan

Alumni Geografi Universitas Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasetiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebersamaan di puncak Bukit Panisan, dikelilingi lanskap alam yang sejuk dan menenangkan. (Sumber: Dokumentasi Esther, sahabat penulis, 2026).
zoom-in-whitePerbesar
Kebersamaan di puncak Bukit Panisan, dikelilingi lanskap alam yang sejuk dan menenangkan. (Sumber: Dokumentasi Esther, sahabat penulis, 2026).

Tidak semua perjalanan dimulai dari rencana yang matang. Sebagian justru lahir dari janji yang sempat tertunda dan akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Momen di puncak Bukit Panisan (846 mdpl) dengan latar bendera merah putih dan hamparan perbukitan hijau di bawah langit cerah. (Sumber: Dokumentasi Esther, sahabat penulis, 2026).
zoom-in-whitePerbesar
Momen di puncak Bukit Panisan (846 mdpl) dengan latar bendera merah putih dan hamparan perbukitan hijau di bawah langit cerah. (Sumber: Dokumentasi Esther, sahabat penulis, 2026).

Perjalanan ke Bukit Panisan di Sentul, Bogor ini bukan yang pertama bagi saya. Ini adalah perjalanan ketiga saya ke sana, setelah terakhir kali datang sekitar satu tahun yang lalu. Dua perjalanan sebelumnya saya lakukan seorang diri, menikmati sunyi, menyusuri jalur setapak, dan berdialog dengan alam dalam keheningan.

Namun kali ini berbeda.

Saya ditemani oleh sahabat saya, Esther. Perjalanan ini terasa lebih bermakna karena sebenarnya telah kami rencanakan sejak satu tahun lalu, tepat ketika kami sama-sama masuk di tempat pekerjaan yang sama. Di tengah padatnya aktivitas, rencana itu sempat tertunda, hingga akhirnya terwujud secara sederhana dan tanpa banyak persiapan.

Semua bermula dari percakapan singkat pada Jumat malam (17/4). Saya menyampaikan keinginan untuk pergi ke Bukit Panisan keesokan harinya. Esther, yang awalnya berencana ke Bandung, tiba-tiba memutuskan untuk ikut. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada rencana rumit, hanya keputusan spontan yang terasa tepat.

Kami sepakat berangkat pukul 05.30, atau paling lambat 06.30. Namun pagi itu berjalan sedikit di luar rencana. Saya baru benar-benar bangun tepat pukul 06.30. Tanpa berlama-lama, saya segera menghubungi Esther untuk bersiap, lalu menjemputnya. Perjalanan pun dimulai.

Dari Jakarta menuju Bogor, kami menempuh perjalanan sekitar dua jam. Memasuki wilayah Bogor, kami berhenti sejenak di sebuah simpang jalan. Di sisi kiri jalan, seorang pedagang nasi kuning dan gorengan. Di tengah udara pagi yang sejuk, kami menikmati sarapan sederhana itu. Hangat, sederhana, namun terasa begitu nikmat, seolah menjadi pembuka yang pas untuk perjalanan yang sudah lama direncanakan.

Setibanya di kawasan Bukit Panisan, kami mulai melakukan pendakian menuju puncak. Perjalanan tracking memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Jalur yang dilalui cukup menantang, tetapi suasana alam yang asri membuat setiap langkah terasa lebih ringan.

Kami berjalan tanpa terburu-buru. Sesekali berhenti untuk berfoto, mengatur napas, dan menikmati lanskap perbukitan yang terbentang di sepanjang jalur. Percakapan ringan dan tawa di sepanjang perjalanan menghadirkan suasana yang berbeda,sesuatu yang tidak saya rasakan saat datang sendirian dulu.

Dan ketika akhirnya tiba di puncak, semua terasa terbayar.

Hamparan alam terbuka luas di hadapan kami, angin berhembus pelan, dan rasa lelah perlahan berubah menjadi kebahagiaan. Di momen itu, kami menikmati segelas es markisa. Sederhana, tetapi terasa begitu menyegarkan setelah perjalanan panjang. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi simbol kecil dari perjalanan kami, tentang janji yang akhirnya ditepati dan kebersamaan yang memberi makna baru.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang mencapai puncak, melainkan tentang proses, tentang spontanitas yang justru menghadirkan pengalaman berkesan, dan tentang bagaimana waktu yang tepat bisa datang dengan cara yang tidak terduga.

Bagi saya, alam selalu menjadi ruang untuk kembali.

Suasana jalur menuju puncak Bukit Panisan, dengan para pendaki dan bendera merah putih yang terlihat di kejauhan, dikelilingi vegetasi hijau dan langit cerah. (Sumber: Dokumentasi Esther, sahabat penulis, 2026).

Saya percaya bahwa alam dan manusia adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling membentuk dan saling menghidupkan. Dalam perjalanan ini, saya menyadari bahwa ketika alam dipertemukan dengan kebersamaan, setiap langkah akan terasa lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bermakna.