Mengapa Banjir dan Kekeringan Terus Berulang di Bima?

Pegiat Alam - Alumni Geografi Universitas Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Prasetiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Melihat Kembali Peran Tutupan Lahan dan Fungsi DAS dalam Menjaga Keseimbangan Air

Berangkat dari Sebuah Keresahan
Beberapa hari belakangan, media beberapa kali memberitakan menurunnya debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, akibat musim kemarau. Berita tersebut membuat saya teringat pada kampung halaman, Bima. Jika Bogor yang dikenal memiliki curah hujan tinggi saja mulai merasakan dampak kemarau, bagaimana dengan Bima yang secara geografis berada di wilayah dengan karakter iklim lebih kering?
Rasa penasaran itu kemudian membawa saya mencari tahu bagaimana kondisi Bima saat ini. Jawabannya saya temukan melalui pemberitaan Kompas.com pada 20 Juli 2026. BMKG melaporkan dua kecamatan di Kabupaten Bima mengalami kekeringan ekstrem setelah 63 hari tanpa hujan. Salah satunya adalah Kecamatan Bolo, tempat saya lahir.
Namun, persoalan kekeringan bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi Bima. Ketika musim hujan tiba, berbagai wilayah justru kerap dilanda banjir. Sekilas, fenomena ini tampak paradoks. Bima merupakan wilayah dengan iklim yang relatif kering, dengan curah hujan tahunan sekitar 1.100 milimeter per tahun. Hujan umumnya hanya terkonsentrasi pada periode November hingga April, sementara musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Konsentrasi hujan dalam waktu yang singkat, ditambah kondisi bentang alam dan tutupan lahan, membuat air hujan lebih banyak berubah menjadi limpasan permukaan daripada terserap ke dalam tanah. Akibatnya, Bima dapat mengalami banjir saat musim hujan, tetapi kembali mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Lantas, mengapa dua bencana hidrometeorologi yang tampak berlawanan ini terus berulang di Bima?
Pertanian, Kehidupan, dan Perubahan Lanskap Bima
Tidak dapat dipungkiri, masyarakat Bima memiliki hubungan yang sangat erat dengan sektor pertanian. Sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupannya pada aktivitas pertanian. Padi dan jagung menjadi dua komoditas yang banyak ditanam ketika musim hujan tiba. Pertanian bukan hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Bima.
Besarnya ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian terlihat dari struktur ekonomi daerah. Berdasarkan data PDRB Kabupaten Bima tahun 2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian daerah dengan kontribusi mencapai 44,45 persen.
Namun, perkembangan pertanian juga menghadirkan tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Peningkatan kebutuhan lahan dalam beberapa tahun terakhir turut mendorong perubahan tutupan lahan, termasuk pada kawasan perbukitan dan wilayah dengan kemiringan lereng yang cukup curam. Berdasarkan data Walhi NTB, lebih dari 30 ribu hektare kawasan perbukitan di Kabupaten Bima dan Dompu telah mengalami perubahan fungsi menjadi area budidaya jagung. Perubahan tersebut perlu diperhatikan karena wilayah perbukitan memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air (catchment area), yaitu kawasan yang berfungsi menyerap, menyimpan, dan mengatur aliran air menuju wilayah hilir.
Dari Hulu hingga Hilir: Memahami Risiko Banjir di DAS Nangapera
Untuk memahami bagaimana perubahan tutupan lahan dapat memengaruhi kondisi air, saya mencoba mengamati salah satu contoh daerah aliran sungai (DAS) di Bima, yaitu DAS Nangapera melalui citra satelit Sentinel-2 periode 2021 hingga 2025.
DAS Nangapera memiliki luas sekitar 4.875,03 hektare. Berdasarkan luas wilayahnya, DAS Nangapera termasuk dalam kategori DAS kecil dengan cakupan kurang dari 10.000 hektare. Meskipun cakupannya relatif terbatas, karakteristik DAS dengan luasan kecil memiliki respons aliran air yang lebih cepat karena jarak antara kawasan hulu dan hilir relatif pendek.
Dalam kondisi alami, kawasan dengan tutupan vegetasi yang baik mampu memperlambat perjalanan air hujan, meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah, serta menyimpan cadangan air yang akan dilepaskan secara perlahan. Namun, ketika tutupan vegetasi berkurang, air hujan lebih cepat berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff) dan mengalir menuju sungai.
Pada DAS dengan karakteristik sangat kecil seperti Nangapera, perubahan kondisi wilayah dalam menyerap dan menyimpan air menjadi aspek penting untuk diperhatikan. Ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, air dapat lebih cepat terkumpul menuju saluran utama. Ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi, kemampuan DAS dalam merespons aliran air menjadi faktor penting yang memengaruhi potensi limpasan dan risiko banjir di wilayah hilir.
Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Bima
Fenomena banjir dan kekeringan di Bima bukan hanya persoalan curah hujan. Dalam beberapa tahun terakhir, Bima menghadapi dua kondisi yang berlawanan, yaitu banjir ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan kekeringan saat musim kemarau berlangsung panjang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di Bima tidak hanya berkaitan dengan jumlah hujan, tetapi juga bagaimana lingkungan mampu menyimpan dan mengatur air.
Bukan tanpa alasan saya memilih DAS Nangapera di Kecamatan Wera sebagai contoh dalam tulisan ini. DAS Nangapera merupakan salah satu gambaran nyata bagaimana hubungan antara kondisi alam dan kehidupan masyarakat berjalan sangat dekat. Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai sangat bergantung pada keberadaan air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas pertanian.
Pada Februari 2025, Desa Nanga Wera yang berada di DAS Nangapera mengalami bencana banjir bandang yang berdampak terhadap masyarakat. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi lingkungan dalam suatu DAS dapat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya. Pada sisi lain, ketika musim kemarau datang, ketersediaan air juga menjadi tantangan bagi banyak wilayah di Bima.
Karena itu, menjaga alam Bima bukan berarti menghentikan aktivitas masyarakat, melainkan memastikan pemanfaatan ruang tetap berjalan seimbang dengan fungsi ekologisnya. Kawasan hulu, lereng, dan daerah tangkapan air perlu dijaga agar tetap mampu menyimpan air. Sebab persoalan Bima bukan hanya tentang hujan yang terlalu sedikit saat kemarau atau terlalu banyak saat musim hujan, tetapi tentang bagaimana alam tetap mampu menjaga keseimbangan air bagi kehidupan masyarakat di masa depan.
