Konten dari Pengguna

Sebuah Perjalanan Menyusuri Tembok Besar China

Prasetiawan

Prasetiawan

Pegiat Alam - Alumni Geografi Universitas Indonesia

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasetiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembok Besar China di Juyongguan mengikuti lekukan pegunungan, memperlihatkan bagaimana manusia dan alam saling berinteraksi dalam perjalanan sejarah.Sumber foto: Dokumentasi Shan Yong Cong (Teman Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Tembok Besar China di Juyongguan mengikuti lekukan pegunungan, memperlihatkan bagaimana manusia dan alam saling berinteraksi dalam perjalanan sejarah.Sumber foto: Dokumentasi Shan Yong Cong (Teman Penulis)

Mendengar nama Tembok Besar China, ingatan saya selalu kembali pada masa ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, guru meminta kami menyebutkan tujuh keajaiban dunia. Hampir serentak kami menjawab Taj Mahal di India, Menara Eiffel di Paris, Piramida Mesir, hingga Tembok Besar China. Bagi saya, tempat-tempat itu terasa begitu jauh, seolah hanya bisa ditemukan di halaman buku pelajaran.

Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, mimpi masa kecil itu akhirnya menemukan jalannya. Saya tidak pernah menyangka akan benar-benar berdiri di salah satu keajaiban dunia tersebut. Hari itu, saya berada di Juyongguan, salah satu bagian Tembok Besar China yang memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi daya tarik masyarakat dunia.

Perjalanan pun dimulai. Tangga demi tangga saya lalui. Hanya ada satu tekad di benak saya: mencapai titik tertinggi yang mampu saya capai. Cuaca cukup panas, sementara wisatawan dari berbagai negara terus berdatangan untuk menyaksikan salah satu keajaiban dunia di Negeri Tirai Bambu ini.

Bagi sebagian masyarakat Tiongkok, menaklukkan Tembok Besar merupakan simbol perjuangan dan keteguhan. Kepercayaan itu menjadi salah satu motivasi saya untuk terus melangkah, melewati anak tangga demi anak tangga yang seolah tak ada habisnya.

Sesekali saya berhenti untuk mengamati fisik tembok ini. Pemandangan di sisi kiri dan kanan begitu memukau. Saya menyadari bahwa Tembok Besar dibangun tanpa mengubah bentang alam pegunungan. Sebaliknya, jalur tembok justru mengikuti punggungan-punggungan gunung, seolah menyatu dengan lanskap yang telah terbentuk jauh sebelum peradaban itu lahir.

Melihat bagaimana tembok itu membentang mengikuti kontur pegunungan, ingatan saya seketika melayang ke ruang kuliah semester tiga. Saat itu, dosen menjelaskan bahwa dalam geografi terdapat dua cara pandang dalam melihat hubungan manusia dengan alam, yaitu determinisme dan posibilisme. Determinisme memandang bahwa kondisi alam memberikan pengaruh yang kuat terhadap kehidupan manusia, sedangkan posibilisme melihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan berbagai kemungkinan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdiri di atas Tembok Besar, saya justru merasa kedua pandangan tersebut tidak selalu harus dipertentangkan. Pegunungan di Juyongguan menunjukkan bagaimana alam memengaruhi arah pembangunan. Namun, pada saat yang sama, manusia mampu menghadirkan sebuah karya besar tanpa harus menghilangkan karakter dasar bentang alamnya. Gunung tidak dipaksa menjadi datar demi kepentingan pembangunan. Sebaliknya, manusialah yang menyesuaikan rancangan bangunannya dengan kontur alam yang telah ada.

Barangkali, di situlah letak kebesaran Tembok Besar yang sesungguhnya. Ia bukan hanya menjadi simbol kejayaan sebuah peradaban, tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu berarti menaklukkan alam. Kadang, kemajuan justru lahir ketika manusia memilih memahami, menghormati, dan membangun selaras dengan bentang alam yang telah diwariskan oleh bumi.

Selama menyusuri tembok, saya tidak hanya mengamati alam, tetapi juga mencoba berinteraksi dengan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dari Asia, Afrika, hingga Eropa, mereka berkumpul di tempat yang sama untuk menyaksikan keagungan warisan peradaban manusia ini.

Perjalanan tersebut saya lalui bersama teman-teman delegasi. Namun, tidak semuanya memilih menyusuri tembok hingga jauh ke atas. Sebagian menikmati suasana di area bawah sambil membeli suvenir, sedangkan yang lain hanya berjalan hingga dua atau tiga menara pengamatan. Hanya sekitar empat atau lima orang yang melanjutkan perjalanan lebih jauh.

Dalam perjalanan menyusuri tembok itu, kami juga ditemani oleh seorang teman dari Tiongkok yang pernah saya ceritakan dalam tulisan berjudul Summer Run in Beijing. Dengan celana pendek, kaus sederhana, topi putih, dan kamera yang selalu menggantung di lengannya, ia tampak menikmati setiap sudut Tembok Besar. Beberapa kali saya melihat wisatawan memuji kamera yang dibawanya. Dengan ramah ia membantu mereka mengabadikan momen tanpa sedikit pun merasa keberatan.

Sejumlah warga berkunjung di Tembok Besar China, Sabtu (7/9/2024). Foto: Nadia Jovita Injilia Riso/kumparan

Melihat ia sedang membantu beberapa wisatawan mengabadikan momen mereka, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, saya bertemu dengan salah seorang peserta dari Indonesia yang juga sedang berjalan menuju puncak. Kami pun melanjutkan perjalanan bersama, menyusuri anak tangga demi anak tangga sambil sesekali berhenti menikmati pemandangan yang terbentang di hadapan kami.

Setibanya di Pos Pengamatan 10, ia memutuskan untuk beristirahat. Sementara itu, saya masih ingin melangkah sedikit lebih jauh. Setelah meminta izin, ia berkenan menunggu saya di Pos Pengamatan 10.

Saya pun melanjutkan perjalanan seorang diri hingga mendekati Pos Pengamatan 11. Semakin tinggi saya melangkah, semakin luas pula pemandangan yang tersaji. Jalur Tembok Besar terus berkelok mengikuti kontur pegunungan, menghadirkan pemandangan yang membuat rasa lelah seolah terlupakan.

Namun, waktu kami terbatas. Seluruh peserta diminta kembali ke bus pada pukul 11.50 CST. Ketika saya berada di antara Pos Pengamatan 11 dan 12, saya melihat jam di telepon genggam menunjukkan pukul 11.10 CST. Puncak di Pos Pengamatan 13 memang tinggal sekitar dua pos lagi. Meski begitu, saya memilih mengalah pada waktu daripada memaksakan keinginan. Saya pun berbalik arah. Barangkali, dua pos yang belum sempat saya tapaki itu menjadi alasan bagi saya untuk kembali lagi suatu hari nanti.

Saat kembali ke Pos Pengamatan 10, peserta yang sejak tadi menunggu masih berada di tempat yang sama. Tidak lama kemudian, dua peserta lain dari Indonesia bersama teman saya dari Tiongkok datang menyusul dari bawah. Kami saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing, lalu mengabadikan momen bersama dengan beberapa foto berlatar Tembok Besar dan hamparan pegunungan yang megah.

Perjalanan ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Dulu, Tembok Besar China hanyalah gambar yang saya lihat di buku pelajaran sekolah dasar. Kini, saya dapat berdiri, berjalan, dan menyaksikannya secara langsung. Sebuah mimpi masa kecil yang akhirnya menemukan jalannya menjadi kenyataan.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa setiap perjalanan tidak selalu diukur dari berhasil atau tidaknya mencapai puncak. Ada kalanya perjalanan dikenang karena orang-orang yang berjalan bersama kita, percakapan yang terjalin di sepanjang jalan, dan momen-momen sederhana yang kemudian menjelma menjadi kenangan yang tak terlupakan. Di Tembok Besar China, saya tidak hanya menemukan salah satu keajaiban dunia, tetapi juga menemukan pelajaran bahwa hubungan antara manusia, alam, dan sesama adalah bagian yang membuat sebuah perjalanan benar-benar bermakna.