Sore Itu di Tepi Sungai Yangtze Bersama Lao Yeye

Pegiat Alam - Alumni Geografi Universitas Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Prasetiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

4 Agustus 2026, hujan gerimis membasahi Kota Yichang. Di salah satu hotel di tepian Sungai Yangtze, saya sedang melengkapi tulisan tentang perjalanan menyusuri Tembok Besar China.

Tidak lama kemudian, laptop saya berbunyi. Ada panggilan video masuk. Spontan saya mengangkatnya. Ternyata teman saya dari Tiongkok tidak sengaja menelpon. Percakapan itu hanya berlangsung sekitar 30 detik. Ia mengatakan, “I’m sorry,” dengan latar belakang suasana outdoor. Setelah itu, ia mengirim sebuah foto.
Saya mengenali tempat itu. Ia dan teman-temannya sedang berada di tepian Sungai Yangtze. Setelah melihat foto itu, saya langsung bilang, saya akan ke sana.
Sesampainya di lobi hotel, saya bertemu salah satu peserta yang juga ingin jalan-jalan. Kami berjalan menuju tepian Sungai Yangtze. Sesampainya di sana, saya kembali menghubungi teman saya. Ternyata mereka sudah kembali ke hotel.
“Just enjoy the beautiful view then,” katanya.
Saya dan teman dari Indonesia kemudian duduk di tepian sungai. Dari sana, kami melihat Sungai Yangtze dan Bendungan Tiga Ngarai di kejauhan. Tatapan kami kemudian tertuju pada sebuah desa di seberang sungai. Teman saya meminta saya bertanya kepada seorang kakek yang sedang duduk bersama istrinya.
Saya menghampiri mereka. Dengan bantuan AI, kami mulai berbincang. Saya bertanya apakah bisa menggunakan perahu menuju desa di seberang sungai.
Kakek itu menjawab bahwa dari tempat kami berada tidak ada perahu yang menuju ke sana.
“Ke sana tidak bisa karena tidak ada perahu. Kalau ingin pergi ke tempat itu, kamu harus dari sini menuju Bendungan Tiga Ngarai. Lihat bendungan itu? Dari sana, naik mobil ke seberang.”
Ia kemudian menyebut sebuah tempat bernama Sanxia Renjia yang menurutnya lebih indah, lengkap dengan tempat makan, berbagai tempat wisata, dan Air Terjun Besar Tiga Ngarai.
Saya kemudian bertanya tentang Bendungan Tiga Ngarai.
“Apakah Bapak tahu tentang sejarah kenapa dibangun Bendungan Tiga Ngarai ini? Dan manfaatnya untuk masyarakat di sini seperti apa?”
Ia menjawab dengan antusias.
“Bendungan ini menghasilkan listrik dalam jumlah yang sangat besar. Listrik yang dihasilkan bahkan cukup untuk memasok seluruh Kota Shanghai dan beberapa kota besar di wilayah Tiongkok bagian tengah dan selatan.”
Ia kemudian bercerita tentang Bendungan Gezhouba yang dibangun lebih dahulu di Kota Yichang. “Tempat yang sekarang kita lihat ini bernama Maoping. Sebelum bendungan dibangun, permukaan air berada sekitar 120 meter lebih rendah dari sekarang. Setelah bendungan selesai, permukaan air naik sekitar 120 meter.”
“Akibatnya, lokasi asli kota atau kabupaten ini sekarang sudah berada di bawah permukaan air dan telah tenggelam. Mereka harus membangun kembali kota baru di tempat yang lebih tinggi.”
Saya kemudian bertanya tentang Sungai Yangtze.
“Apakah hulu Sungai Yangtze berasal dari Tibet, atau dari daerah Yichang ini?”
Ia menjelaskan bahwa tempat kami berada merupakan bagian dari Kawasan Tiga Ngarai Sungai Yangtze, yang terdiri atas Ngarai Xiling, Wu, dan Qutang.
“Hulu Sungai Yangtze berada di Dataran Tinggi Qinghai–Tibet. Dari sana sungai mengalir hingga panjangnya mendekati 10.000 li. Karena itu Sungai Yangtze dijuluki Sungai Panjang Sepuluh Ribu Li.”
Saya kemudian bertanya tentang cerita atau legenda lokal.
“Apakah ada cerita menarik atau legenda lokal tentang tempat ini?”
Ia menjawab bahwa daerah tersebut bernama Zigui dan berkaitan dengan dua tokoh terkenal dalam sejarah Tiongkok, Qu Yuan dan Wang Zhaojun.
“Festival Perahu Naga berasal dari kisah Qu Yuan, dan tempat ini merupakan kampung halamannya.”
Ia kemudian bercerita bahwa setelah Qu Yuan menceburkan diri ke Sungai Yangtze, masyarakat mendayung perahu untuk mencarinya dan melemparkan makanan seperti zongzi ke sungai sebagai penghormatan. Dari kisah itulah tradisi Festival Perahu Naga kemudian berkembang.
Saya kemudian menanyakan namanya.
“Cucu saya kira-kira seumuran dengan kamu. Sekarang dia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Biasanya panggil saya saja ‘Lao Yeye’.”
Lao Yeye. Ia berusia 73 tahun. Ia kemudian bertanya kepada saya, “Kamu sekarang kuliah di universitas mana?”
Saya menjawab bahwa saya sudah lulus kuliah dan dahulu belajar Geografi di Universitas Indonesia. Ia kembali bertanya apakah saya datang untuk berwisata, penelitian, atau kunjungan.
Saya menjelaskan bahwa kami datang ke Tiongkok sebagai delegasi dari Indonesia untuk mempelajari pengalaman pembangunan dan perkembangan kota di Tiongkok. Saya juga mengatakan bahwa saya ingin mendengar langsung dari masyarakat lokal untuk memahami lebih banyak tentang sejarah dan perubahan di tempat ini.
Lao Yeye kemudian menyarankan beberapa tempat yang menurutnya perlu saya kunjungi.
“Sebaiknya kamu pergi ke Shanghai atau Suzhou. Perkembangan di sana sangat cepat. Kalau ingin melihat tempat yang paling modern, kamu bisa pergi ke Shenzhen atau Guangzhou.”
Ia bercerita bahwa beberapa daerah yang dahulu tertinggal dan sederhana kini telah berkembang pesat. Ia juga bercerita tentang Yichang.
“Lihat daerah kami sekarang, semuanya sudah memiliki kereta cepat dan bandara. Transportasinya sangat mudah. Dulu kalau dari Yichang pergi ke Beijing, butuh setidaknya dua sampai tiga hari. Sekarang paling hanya enam sampai tujuh jam.”
Sebelum berpisah, saya masih memiliki satu pertanyaan.
“Kalau boleh saya bertanya, apa pesan atau nasihat Bapak untuk saya sebagai anak muda?”
Ia menyarankan saya untuk melihat lebih banyak tempat dan mempelajari perkembangan daerah lain.
“Kalau kamu pergi ke Shenzhen dan Shanghai, terutama Shanghai, setelah sampai di sana kamu pasti akan merasa sangat kagum. Perkembangannya sangat cepat. Masyarakat di sana juga memiliki cara hidup dan pola pikir yang berbeda. Kamu pasti akan mendapatkan pengalaman yang sangat mendalam.”
Saya kemudian bertanya, “Kalau seseorang ingin sukses, apa kunci terpenting dalam kehidupan? Apa nasihat Bapak untuk anak muda?”
Jawabannya sederhana.
“Belajar, bekerja keras, menciptakan sesuatu, rajin, rajin belajar. Yang paling penting adalah berusaha.”
Ia kemudian menambahkan, “Dalam setiap hal harus memiliki keyakinan dan percaya diri. Banyaklah berjalan, banyaklah melihat dunia, banyaklah belajar dari pengalaman orang lain yang lebih maju.”
Sebelum kami berpisah, Lao Yeye masih sempat menyarankan saya untuk pergi ke Chongqing. Menurutnya, kota itu unik karena kereta melewati bagian dalam gedung dan rumah-rumah dibangun di atas pegunungan.
“Kalau ada kesempatan, kamu harus pergi ke Chongqing.”
Saya akhirnya berhenti bertanya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Lao Yeye.
Percakapan ini sebenarnya tidak pernah saya rencanakan. Sore itu, saya bisa saja kembali ke hotel. Berawal dari sebuah panggilan video yang salah pencet, saya justru bertemu dengan seorang kakek berusia 73 tahun dan menghabiskan sore dengan mendengarkan ceritanya.
Justru menurut saya, perjalanan seperti inilah yang saya dambakan: spontan dan bermakna.
Semoga Lao Yeye selalu sehat. Suatu saat nanti, semoga saya bisa pergi ke tempat-tempat yang beliau rekomendasikan.
