Konten dari Pengguna

Dari Sampah Menjadi Harapan: Kisah Perubahan Desa Beringin

Prasetyo Sp
Saya Seorang penulis yang hobby dengan olahraga dan kisah kisah inspiratif
14 Desember 2025 16:46 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Sampah Menjadi Harapan: Kisah Perubahan Desa Beringin
Aksi perubahan pengelolaan sampah berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Beringin
Prasetyo Sp
Tulisan dari Prasetyo Sp tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar. TP3SR Bumdes Beringin
zoom-in-whitePerbesar
Gambar. TP3SR Bumdes Beringin
ADVERTISEMENT
Perubahan besar sering kali lahir dari hal-hal yang dianggap sepele. Di Desa Beringin, Kabupaten Kolaka Utara, perubahan itu justru berawal dari sampah—sesuatu yang selama ini dipandang sebagai masalah, bukan peluang. Namun di tangan seorang reformer, sampah menjelma menjadi harapan baru bagi desa.
ADVERTISEMENT
Adalah Nasir Gaffar, S.Ag, ME, seorang pejabat di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), yang memimpin langkah perubahan ini. Melalui aksi perubahan pengelolaan sampah berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), ia membuktikan bahwa kepemimpinan yang kolaboratif, konsisten, dan berpihak pada masyarakat mampu menggerakkan desa menuju kemandirian.
“Perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia cukup dimulai dari keberanian untuk melihat potensi di balik persoalan yang kita hadapi setiap hari,” tutur Nasir dalam sebuah refleksi.
Gambar Dukungan Dari Pimpinan
Mengawal Perubahan dari Dukungan Pimpinan
Setiap perubahan membutuhkan pijakan yang kokoh. Bagi Nasir, pijakan itu adalah dukungan pimpinan dan mentor. Ia memulai aksinya dengan menyiapkan perencanaan perubahan yang matang, lalu mengonsultasikannya secara intensif dengan pimpinan dan mentor. Proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan ruang dialog untuk menyelaraskan visi, strategi, dan arah kebijakan.
ADVERTISEMENT
Dukungan pimpinan yang diperoleh—bahkan dituangkan dalam surat resmi—menjadi energi awal yang memastikan bahwa aksi perubahan ini tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari agenda organisasi.
“Dukungan pimpinan bukan hanya soal izin, tetapi tentang kepercayaan. Dari sanalah saya belajar bahwa perubahan harus tumbuh bersama, bukan berjalan sendirian,” ungkapnya.
Gambar Dukungan dari Kepla Dinas Lingkungan Hidup Kab. Kolaka Utara
Kolaborasi: Kunci Menggerakkan Desa
Langkah berikutnya adalah membangun jembatan kolaborasi. Nasir menyadari, pengelolaan sampah tidak bisa ditangani oleh satu pihak. Ia mengidentifikasi dan merangkul berbagai mitra—mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa, BUMDes, hingga LSM dan organisasi kepemudaan.
Melalui audiensi, diskusi, dan kesepakatan kerja sama, terbentuklah sinergi lintas sektor. Setiap pihak mengambil peran sesuai kewenangannya. Hasilnya, pengelolaan sampah tidak lagi berjalan sektoral, tetapi menjadi gerakan bersama.
ADVERTISEMENT
Regulasi Desa: Fondasi Perubahan Berkelanjutan
Perubahan yang kuat membutuhkan dasar hukum. Di Desa Beringin, dasar itu diwujudkan melalui Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sampah Berbasis BUMDes. Nasir memprakarsai pembentukan tim efektif, memimpin konsultasi publik bersama BPD dan tokoh masyarakat, hingga akhirnya Perdes disahkan.
Regulasi ini bukan sekadar dokumen, melainkan simbol kesepakatan sosial bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama dan BUMDes adalah motor pengelolanya.
“Ketika regulasi lahir dari partisipasi, ia tidak hanya ditaati, tetapi juga dijaga,” kata Nasir.
Gambar Kegiatan Workshop Pengelolaan Sampah
Menguatkan SDM, Menyalakan Kreativitas
Perubahan tak akan berarti tanpa manusia yang siap menjalankannya. Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi fokus penting. Pengurus BUMDes mengikuti pelatihan pengelolaan sampah, workshop daur ulang, hingga pendampingan langsung oleh tenaga ahli.
ADVERTISEMENT
Dari proses ini lahir berbagai inovasi—pupuk kompos, produk daur ulang, hingga gagasan pemanfaatan energi alternatif. Bagi warga desa, pelatihan ini bukan hanya menambah keterampilan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang nilai ekonomi sampah.
BUMDes dan Lahirnya Unit Usaha Sampah
Perjalanan perubahan semakin nyata ketika unit usaha pengelolaan sampah BUMDes resmi terbentuk dan disahkan. Dengan struktur organisasi yang jelas, sarana pendukung, dan legalitas yang kuat, BUMDes Desa Beringin siap beroperasi secara profesional.
TPS3R pun dibangun sebagai pusat aktivitas. Sampah yang dulu berserakan kini dipilah, diolah, dan dimanfaatkan. Lingkungan menjadi lebih bersih, dan desa mulai merasakan dampak ekonomi dari pengelolaan sampah.
Uji Coba, Evaluasi, dan Pembelajaran
Tak berhenti di pelaksanaan, Nasir memastikan seluruh proses melalui tahapan uji coba, evaluasi, dan pelaporan. Uji coba pengolahan sampah menghasilkan pupuk kompos, sekaligus pelajaran berharga tentang apa yang perlu diperbaiki.
ADVERTISEMENT
Data dikumpulkan, dianalisis, dan dituangkan dalam laporan sistematis. Laporan ini bukan sekadar pertanggungjawaban, tetapi juga menjadi bekal pembelajaran dan rujukan untuk pengembangan ke depan.
“Perubahan yang baik bukan yang sempurna sejak awal, tetapi yang mau belajar dan terus memperbaiki diri,” refleksi Nasir.
Manfaat yang Mengalir Luas
Dampak aksi perubahan ini terasa luas. Organisasi memperoleh praktik baik kolaborasi dan akuntabilitas. Pemerintah desa memiliki regulasi dan kapasitas yang lebih kuat. BUMDes tumbuh sebagai unit usaha produktif. Masyarakat menikmati lingkungan yang lebih bersih dan peluang ekonomi baru. Alam pun mendapat ruang untuk pulih.
Foto Hasil Pupuk Kompos
Sampah, Kepemimpinan, dan Masa Depan Desa
Kisah Desa Beringin mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang jabatan, melainkan tentang keberanian menggerakkan perubahan. Dari sampah, lahir harapan. Dari kolaborasi, tumbuh kemandirian.
ADVERTISEMENT
Dan dari seorang reformer, kita belajar bahwa desa bukan objek pembangunan—melainkan subjek masa depan.
“Jika desa kuat, Indonesia akan hebat. Perubahan itu nyata, selama kita mau memulainya,” tutup Nasir Gaffar, S.Ag, ME.